Resensi Buku

Hanif, si penggagas penghapusan agama

Judul Buku : Hanif
Penulis : Reza Nurul Fajri
Penerbit : Diva Press
Cetakan : I, 2013
Tebal Buku : 384 halaman

*****

Penghapusan agama? Mungkin itu adalah gagasan paling ekstrem yang pernah ada. Adalah Hanif, si pemilik gagasan itu. Seorang pemuda yang sedang duduk di bangku perkuliahan jurusan ekonomi syariah. Ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang sangat religius. Namun itu tidak mengikatnya dalam dogma tentang agama yang dianutnya. Ia justru tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan tanpa ragu mempertanyakan banyak hal tentang agama.

“Sebenarnya, takdir itu ada atau tidak, Pak? Kalau semua perbuatan kita sudah ditentukan, kenapa harus ada surga dan neraka sebagai balasan?” (hal 40).

Perjalanan hanif dalam mencari kebenaran tentang agama menjadi sangat menarik dengan hadirnya tokoh-tokoh lain yang memberi warna dalam cerita. Idam, adalah sahabat karibnya sejak kecil yang selalu mengikuti kemanapun langkah Hanif. Mulai dari sekolah di tempat yang sama sejak SD sampai perguruan tinggi, masuk pesantren yang sama, bahkan ikut mempelajari ilmu-ilmu lain yang tidak didapat di bangku sekolah dan pesantren. Sementara Disti dan Dinda, adalah dua orang tokoh perempuan yang baru dikenal di bangku perkuliahan. Menariknya lagi, meskipun Disti memeluk agama yang berbeda, mereka tetap dapat bersahabat dengan saling menghargai satu sama lain.

Namun tidak demikian yang terjadi antara pemeluk agama dalam lingkungan yang lebih besar. Bhinneka Tunggal Ika seolah tidak lagi ada di Indonesia yang heterogen. Ditengah berbagai konflik yang ada di Indonesia inilah Hanif merasa semakin resah. Apalagi salah satu konflik besar yang terjadi justru mengatas-namakan agama. Seperti jihad dengan bom bunuh diri, atau soal kristenisasi. “Aku khawatir kita semua memang telah salah memandang agama yang selama ini kita yakini benar.” (hal 92)

Kisah Hanif dalam mencari kebenaran agama semakin memanas ketika ia mencapai titik jenuh dalam hidupnya. Ia memilih pergi untuk mencari hakikat dari keberadaan agama dan menjauh dari lingkungan yang telah menganggapnya telah sesat. Tak heran, sikap Hanif begitu terbuka dalam menyampaikan pemikiran-pemikirannya yang berbeda. Ia tak segan mengajak siapapun untuk berdiskusi. Termasuk orang tuanya yang seorang pemuka agama dan sulit menerima pemikiran baru.

Lalu bagaimana akhir ceritanya? Apakah gagasan Hanif soal penghapusan agama itu dapat diterima masyarakat dan terwujud? Atau justru menimbulkan polemik baru dan mebuat Hanif menyerah pada keadaan?

Membaca Hanif, kita akan diajak untuk mengistrospeksi diri. Sudah benarkah kita sebagai muslim dalam menjalankan agama? Sekaligus membuka wawasan dan belajar banyak hal baru, bahwa mau tidak mau sebagai manuasia beragama yang sekaligus sebagai mahluk sosial, kita dituntut untuk menjadi hanif (baik) dalam segala sisi, agar mampu menjalani hidup sesuai norma agama yang kita anut tanpa menyakiti orang maupun golongan lain dengan keyakinan yang berbeda.

Hanif merekam segala peristiwa dan berbagai isu yang terjadi di Indonesia, mulai dari aliran-aliran sesat, terorisme, sampai dengan kasus korupsi para pejabat dan pergolakan politik pemerintahan. Bahkan dengan cerdik Hanif membidik fenomena razia yang dilakukan sebuah ormas pada bulan ramadhan. Alih-alih mengajak untuk menghormati orang yang sedang puasa, namun tindakan yang dilakukan justru menimbulkan kerugian materi bagi pedagang yang biasanya dari golongan ekonomi lemah.

Setelah menutup buku, mungkin kita akan merasa lega karena bisa menyelesaikannya. Karena (saya pribadi) merasa agak terganggu untuk sampai pada penyelesaian konflik. Yaitu ketika emosi saya sebagai pembaca ikut terbawa pada puncak konflik yang ada di bab 9, tiba-tiba pada bab 10 dan beberapa bab setelahnya, saya malah diajak untuk flash back pada kisah masa kecil Hanif hingga SMA menurut sudut padang Idam, sahabat karib Hanif. Akibatnya alur menjadi terasa sangat lambat.

Meski begitu, banyak hal menarik dan inspiratif yang dapat dipetik dari kisah persahabatan Hanif dan Idam. Serta ending yang tak terduga dan memuaskan setelah konflik utama yang begitu pelik. Maka (semoga) tak berlebihan jika saya menyebut Hanif sebagai bacaan yang inspiratif dan mendidik untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.