Thailand

Half day in Bangkok

Tak banyak waktu yang kami punya di Bangkok. Atau bisa dibilang, kami hanya transit di kota ini sebelum terbang ke Phnom Penh – Cambodia pada jam 3 sore. So, akan kemana kita? Wat Arun! *teriak ala Dota the explorer*

Dari terminal bus yang letaknya berdekatan dengan Chak tu Chak, kami menyewa 1 tuk-tuk untuk mengantar kita ke Wat Arun, dan ke bandara Don Mueang. Kami sepakat dengan harga 1.000 baht. Tapi kesepakatan ini seolah tidak berlaku ketika kami sampai di bandara dan si sopir meminta bayaran 2 x lipat. Oh man! Kubilang saja muang kami tinggal 1.300 baht, dan ia pun menerima dengan muka masam.

Pelajaran; mungkin memang setiap kesepakatan harus ada hitam di atas putih.

Wat Arun

Aku malah baru tau sekarang saat nulis dan browsing untuk mencari ingo tambahan. Ternyata, yang kami kunjungi kemarin adalah Grand Palace bukan Wat Arun. Padahal, kami meminta sopir tuk-tuk untuk mengantar kami ke Wat Arun. It’s OK laah. Lagi pula aku juga nggak faham betul apa itu Wat Arun.

Setelah browsig, baru kutahu bahwa Wat Arun adalah candi kelas satu yang letaknya ada di tepi barat sungai Chao Phraya. Wat arun memiliki menara ya megah dengan puncaknya yang setinggi 70 meter dan dihiasi dengan potongan-potongan kaca dan porselain China.

Wat Arun juga dikenal dengan nama Temple Of Dawn karena keindahannya saat menjelang matahari terbenam. Puncaknyabyang megah itu akan terefleksi di permukaan sungai Chao Phraya, atau ketika malam hari ia akan disinari lampu dan memancarkan cahaya emas dari setiap permukaannya. Kegiatan paling asik adalah berlayar dengan feri di malam hari, dinner di atas perahi sambil menikmati pemandangan The Temple of Dawn.

Wat Arun dapat dicapai dari jalan Arun Amarin di sisi Thonburi, atau dengan naik feri dari dermaga Tha Tian, tepat di belakang Grand Palace. Tarif untuk feri penyeberangan 3,50 baht.

Jam Buka: 08:00 -17:30

Lokasi: Terletak di sisi barat Sungai Chao Praya (seberangnya Tha Thien Pier)

Grand Palace

IMG-20140404-WA0007Grand Palace adalah komplek istana raja yang di dalamnya terdapat banyak sekali bangunan-bangunan megah dan mewah dengan warna dominan emas. Istana ini dibangun pada tahun 1782 – dan telah menjadi rumah Raja Thailand serta Pengadilan Royal dan kantor pemrintahn selama lebih dari 150 tahun.

Untuk masuk ke dalam kawasan Grand Palace, kita harus mengenakan pakaian yang sopan karena di dalanya terdapat kuil Budha yang disakralkan. No hot patns atau rok mini, no tank top, no hipster style (pakian ketat).

Jika hendak masuk dan kita terlanjur berpakaian demikian, maka kita wajib meminjam kain khas Thialand atau baju yang sopan dengan uang jaminan sebsar 200 baht. Uang jaminan ini dapat kita ambil kebali saat mengembalikan pakaian yang kita pinjam.

Saat kami tiba di Grand Palace, kira-kira jam 9 pagi, sedang diadakan upacara pergantian petugas jaga istana. Petugas-petugas itu berseragam putih, berbaris rapi dan berjalan dengan membawa senjata laras panjang memasuki istana. Hmm…upacara semacam ini mengigatkanku pada ritual yang sama di kerajaan Inggris yang pernah kuliht di TV. Ada kemiripan. Dan rupanya, Thailand ini adalah negara persemakmuran Inggris, seperti juga Malaysia.

20140403_100118_1Buka: Setiap Hari 08:30 – 15:30

Lokasi: Na Phra Lan Road, Old City (Rattanakosin)

Tiket: Tiket mulai dijual mulai pukul 8:30 – 15:30 dengan harga 500 baht (Rp 185.000,-). Sudah termasuk tiket masuk untuk Vimanmek Palace dan Abhisek Dusit Throne Hall.

Don Meuang International Airport

Tepat jam 11 siang, kami meniggalkan Grand Palace dan menuju bandara dengan tuk-tuk yang sama yang sudah kami sewa sejak pagi. Kira-kira atu jam perjalanan, melewati jalanan kota yang panas.

Sampai di Bandara, and let’s go to Phnom Penh – Cambodia.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.