Lampung

Festival Teluk Semaka: Pengetaan Adok

Sebagai keturunan Jawa yang lahir dan tumbuh besar di Lampung, seharusnya aku punya cukup waktu untuk mempelajari banyak hal tentang Lampung. Setidaknya selama 9 tahun aku belajar bahasa dan budaya Lampung di bangku sekolah. Namun rasanya hari ini aku mendapat pukulan telak karena menyadari betapa miskinnya wawasanku. Melalui Festival Teluk Semaka pada 1 November 2014, aku mendapat banyak pengetahuan baru tentang budaya Lampung sebagai salah satu kekayaan Indonesia.

Apa saja pengetahuan baru yang kudapat hari ini? Yuk simak reportaseku!

DSC00711_1
Penerima Gelar Adok

Pengetaan Adok

Acara Festival Teluk Semama pada hari kedua diawali dengan Pengetaan Adokh kepada Ketua Pengadilan Negeri dan Ketua Kejaksaan Negri Tanggamus. Pengetaan Adok adalah pemberian gelar kehormatan adat Lampung untuk orang-orang yang berjasa.

Panggung acara Pengetaan Adok
Panggung acara Pengetaan Adok

Ketua Pengadilan Negeri dan Ketua Kejaksaan Negri Tanggamus beserta istri didandani ala pengantin dan menggunakan pakaian adat Lampung. Kemudian diarak menuju panggung utama prosesi pengetaan Adok di Lapangan Merdeka Kota Agung.

Khakot

Arak-arakan atau iring-iringan pengaatin ini biasa disebut sebagai Khakot, yaitu sebuah tradisi iring-iringan dari Kerjaan Lampung di masa lampau. Saat ini bisa dibilang Khakot mulai tenggelam dan tergerus zaman sehingga kurang dikenal. Melalui Festival Teluk Semaka, para tokoh dan penggiat budaya berharap bisa melestarikan dan meng-exist-kan kembali tradisi Khakot ini.

Muli Mekhanai pengiring arak-arakan
Muli Mekhanai pengiring Khakot

Uniknya, Khakot merupakan satu kesatuan dari beberapa unsur yang berbeda. Diantaranya yaitu barong yang biasa disebut sakura, ada hulubalang dengan pencak silatnya, tandu dan pengantin atau pangerannya, serta para prajurit yang mengusung tandu dan penabuh musik tradisional.

Barong (Sakura) yang memakai topeng
Barong (Sakura) yang memakai topeng

Sakura atau barong adalah semacam malaikat penjaga untuk tolak bala. Hulubalang adalah prajurit di garda depan yang bertugas membuka jalan. Para hulubalang ini membawa pedang, dan selama iring-iringan atau Khakot, mereka akan menari pencak silat dengan diiringi musik traditional. Tarian ini merupakan simbol hulubalang di masa lampau yang harus membuka jalan, seperti menebas rimba, atau meminta orang-orang untuk minggir memberi jalan.

DSC00628_1
Musik pengiring Khakot
DSC00622_1
Pengangkat Tandu

Sastra Lampung

Sebelum kedua pasangan pengantin naik ke panggung, terlebih dahulu ada penampilan sastra Lampung. Ini merupakan adat berbalas pantun antara tamu yang datang dan tuan rumah. Pertama, seseorang dari pihak tamu akan membaca pantun bernada permisi atau permintaan ijin untuk masuk. Kemudian seseorang mewakili tuan rumah akan membalas pantun yang bernada selamat datang atau mempersilakan masuk.

Tuan rumah sedang berpantun menyambut tamu
Tuan rumah sedang berpantun menyambut tamu

Selama proses berbalas pantun, dipasang sebuah tirai yang merupakan lambang dari pintu masuk ke suatu wilayah. Setelah tuan rumah selesai membacakan pantun selamat datang dan mempersilakan masuk, tirai akan dibuka dan iring-iringan khakot akan dipersilakan masuk.

Red Carpet untuk memuliakan tamu

Saat memasuki panggung utama pemberian gelar, para pengawal membuat jembatan khusus untuk dilalui pasangan pengantin. Jalur ini semacam red carpet untuk memuliakan tamu. Hanya saja red carpet di acara ini tidak berwarna merah. Melainkan sebuah busa dibalut kain putih, dan sambung menyambung dengan beberapa baki bundar.

Tamu kehormatan menuju panggung
Tamu kehormatan menuju panggung

Pengukuhan Adok

Di atas panggung, kemudian dilakukan prosesi pemberian gelar, dan dibacakan surat keputusan pengukuhan Adok. Bapak Idham Kholid, SH, MM selaku ketua Pengadilan Negeri Tanggamus diberi gelar Adok “Pengikhan Ya Sangun Ratu II”, dan Bapak Raffiudin, SH. selaku ketua Kejaksaan Negri Tanggamus diberi gelar Adok “Pengikhan Ratu Marga”.

DSC00720_1

DSC00715_1

Acara Pengetaan Adok kemudian ditutup dengan doa dan ucapan syukur karena acara berjalan dengan lancar. Selanjutnya, saatnya ISHOMA, dan bersiap untuk karnaval yang penuh warna.

Kesanku selama prosesi Pengetaan Adok ini adalah… bahwa aku diajak untuj mengingat kembali pelajaran muatan lokal bahasa dan adat Lampung di masa sekolah SD dan SMP dulu. Dengan melihat langsung upacara adat semacam ini ternyata lebih berkesan dan membekas dalam ingatan. So, jaya dan lestarilah selalu adat Lampung! Chayyo…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.