Lampung

Festival Teluk Semaka: Karnaval Budaya

Lampung sai, sang bumi ruwa jurai. Satu kalimat itu langsung saja terlintas dalam ingatan ketika melihat pertunjukkan budaya daerah lain dalam karnaval budaya di gelaran Festival Teluk Semaka, Lampung. Berbagai atraksi dari entis lain selain Lampung seperti tambur dan tari piring dari Sumatra Barat, barongsai dari komunitas Tiong Hoa, debus dari Banten, kuda lumping dari tanah Jawa, seni beladiri Pejuang Siliwangi dari tanah Sunda, serta komunitas suku bugis yang menampilkan pakaian adat Sulawesi Selatan.

Aku mengenal kalimat yang menjadi slogan Lampung itu lewat lagu karangan Syaiful Irba, seorang penyair Lampung. Lagu itu disosialisasikan di sekolah-sekolah dan menjadi semacam lagu wajib daerah lampung. Sebuah lagu yang menggambarkan seberapa luas daerah Lampung, kekayaan alam, adat dan budayanya. Berikut lirik lagu beserta artinya;

Sang Bumi Ruwa Jurai (Sebumi 2 macam)

Jak ujung Danau Ranau (Dari ujung Danau Ranau)
Teliyu mit Way Kanan (Melewati Way Kanan:
Sampai pantai lawok Jawo (Sampai pantai Laut Jawa)
Pesisikh ghik Pepadun (Pesisir dan Pepadun)
Jadei sai delom lambang (Menjadi satu dalam lambang)
Lampung sai kayo ghayo (Lampung yang kaya raya)

Kik gham haga bukhasa (Kita akan dapat merasakan)
Hijau ni pumandangan (Hijaunya pemandangan)
Kupi lada di pumatang (Kopi dan Lada di pematang)
Api lagei cengkeh ni (Apa lagi cengkehnya)
Telambun beuntaian (Banyak berjuntai-juntai)
Tandani kemakmuran (Menandakan kemakmuran)

Lampung sai, sang bumi ruwa jurai (Lampung yang satu, sebumi dua macam)

Cangget bagha bulaku (Penghormatan pemuka adat Pepadun)
Sembah jama saibatin (Penghormatanpemuka adat Sebatin)
Sina gawi adat sikam (Begitulah aturan adat kami)
Manjau ghik sebambangan (Berkunjung dan Larian/adat kawin lari)
Tari Khakot ghik melinting (Tari khakot dan melinting)
Cirini ulun Lampung (Tandanya orang Lampung)

Lampung sai, Sang bumi ruwa jurai (Lampung yang satu, sebumi dua macam)

Arti “Lampung sai, sang bumi ruwa jurai”

Lampung_coa
Credit

Lampung berarti Provinsi Lampung, Sai berarti satu, Sang berarti satu atau se-, Bumi berarti Tanah, Ruwa berarti dua, dan Jurai berarti cabang atau golongan. Secara harfiah “Lampung sai, sang bumi ruwa jurai” berarti Lampung yang satu, satu bumi (sebumi) yang memiliki 2 jurai besar (gologan/jenis/macam). Ada yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dua golongan itu adalah adat sebatin dan pepadun.

Akan tetapi yang paling tertanam di benakku yang kudapat dari bangku sekolah adalah bahwa Sang bumi ruwa jurai berarti satu bumi Lampung untuk dihuni suku asli Lampung dan pendatang. Hal ini sekaligus menjelaskan bahwa suku asli Lampung sangat menghargai dan menerima perbedaan dengan damai, dapat hidup berdampingan dengan pendatang dan budaya berbeda, dalam satu kesatuan Indonesia. Dan saat menyadari ini tiba-tiba aku merasa bangga karena terlahir di bumi Lampung.

Karnaval Budaya

IMG_20141101_142137_1Salah satu gerakan Khakot

Sebenarnya agak sulit bagiku menuliskan cerita ini. Padahal begitu banyak warna dan keindahan terekam dalam benak, sehingga membuatku takjub pada keberagaman suku dan budaya Indonesia yang dipresentasikan dalam Karnaval di Festival Teluk Semaka ini. Sungguh sayang karena kamera digital kesayangan kehabisan baterai. Tetapi aku harus berterima kasih pada smartphone yang bisa dijadikan pengganti.

IMG_20141101_140947_1Penghormatan sebelum SUPM beratraksi

Karnaval Budaya digelar pada hari kedua di Festival Teluk Semaka, yaitu pada 1 November 2014, setelah selesai Upacara Pengetaan Adok menggunakan adat sebatin. Usai jam makan siang, jalan utama Kota Agung ditutup untuk umum karena digunakan untuk jalur Karnaval. Tepat di badan jalan di depan rumah dinas Bupati Kota Agung, didirikan sebuah panggung untuk duduk para bapak dan ibu pejabat. Di depan panggung, setiap kontingen akan menunjukkan atraksinya sebelum melanjutkan perjalanan karnaval sampai garis finish di Islamic Center Kota Agung.

IMG_20141101_140528_1Ganteng-ganteng SUPM Negri Kota Agung

Karnaval diawali dengan atraksi oleh kontingen drum band dari Sekolah Umum Perikanan Menengah (SUPM). Penampilan kontingen SUPM yang didominasi pelajar pria ini berhasil membuat penonton klepek-klepek, terutama kaum perempuan. Dengan uniform ketat yang menunjukkan bahu lebar dan dada bidangnya. Aih, waktunya cuci mata untuk emak-emak sepertiku, nih!

IMG_20141101_143552_1Peserta penari kolosal Khakot

Usai atraksi dari SUPM, di belakangnya ada seribu lebih Muli Meghanai (pemuda pemudi) Lampung mempresentasikan gerakan pinca silat dalam Khakot. Khakot sendiri adalah sebuah tradisi nenek moyang dari kerajaan Lampung yang mulai terlupakan di era modern sekarang ini. Yaitu tradisi iring-iringan untuk membawa pengantin, atau anggota keluarga kerajaan. Khakot atau iringan-iringan itu merupakan satu kesatuan dari beberapa unsur yang unik. Salah duanya yaitu Hulubalang (pengawal) sebagai pembuka jalan dengan melakukan gerakang silat, dan musik pengiring.

Pertunjukan gerakan silat yang diiringi musik oleh hulubalang dalam Festival Teluk Semaka ini sekaligus untuk memecahkan rekor MURI pertunjukan Khakot yang dilakukan secara kolosal yaitu meribatkan lebih dari 1.000 orang.

IMG_20141101_145909_1 Tambur dan tari piring dari Sumatra Barat

Saat khakot berlangsung, berkali-kali aku merasa sesuatu terjadi pada diriku. Aku merinding dan hampir menangis haru. Antara bangga dan jatuh cinta pada budaya Lampung, tanah kelahiranku, serta menyesali betapa dangkalnya pengetahuanku tentang Lampung selama ini. Bahkan (jujur saja) aku pernah malu mengakui bahwa aku kelairan Lampung, yang dipandang galak dan beringas oleh sebagian orang.

Aku jadi teringat perang antar suku pada masa krisis ekonomi beberapa tahun silam, atau perseteruan antara penduduk asli Lampung dan pendatang dari Bali di Lampung Selatan belum lama kemarin. Maaf, bukan bermaksud mengangkat isu SARA. Hanya ingin mengingatkan diri bahwa meski kenangan buruk itu ada, namun sesungguhnya masih banyak keelokan Lampung yang membuatnya pantas dibanggakan.

Dan bahwa perseteruan mungkin tidak akan terjadi jika tidak ada pemicunya. Meski kadang gesekan menyakitkan itu tidak dapat dihindari, tetapi pada akhirnya selalu berujung pada perdamaian jua. Ini merupakan suatu bukti, bahwa penduduk asli Lampung adalah bangsa yang bermartabat, yang menjaga harga diri, yang bisa marah jika disakiti. Dan penduduk asli Lampung adalah manusia yang juga mencintai perdamaian dan menerima perbedaan. Hal ini terbukti juga dengan beragam budaya berbeda yang ditampilkan dalam karnaval, yang mewakili entis dan atau suku-suku yang tinggal di kabupaten Tanggamus, Lampung.

IMG_20141101_150339_1Barongsai

IMG_20141101_145328_1Kostum Fantasi

Oya, selain ragam budaya itu, ada hal menarik lainnya dalam karnaval, seperti fashion show dengan kostum unik. Ada yang memakai gaun dari koran, gaun kupu-kupu, dan berbagai gaun fantasi penuh warna lainnya.

Sebagai penutup, ada atraksi marching band gabungan, mulai dari siswa-siswi kelas TK, SD, SMP, dan SMA. Mau tau mereka memainkan melodi lagu apa? Ini nih penggalan liriknya; “Aku bukan wonder womanmu” dan lagu yang sedang hits “Sakitnya tuh disini…”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.