Escape to Bandung part.1 Ke Bandung Aja Yuk

“Ibu, kita mau kemana?”

Daffa’ terus bertanya-tanya. Penasaran. Pasalnya, setelah ia pulang sekolah jam 9 pagi, hari Sasbtu tanggal 26 Juli 2013 lau, aku langsung melucuti pakaian seragam merah putihnya, lalu memakaikannya baju yang biasa dipakai untuk berpergian. Aku cuma senyam-senyum saja menanggapi pertanyaannya. Daffa’ semakin geregatan. Keningnya berkerut. Dua ujung alisnya bertemu. Mulutnya cemberut.

Melihat mimik wajahnya, aku semakin geli dan malah semakin ingin menggodanya. Maka, saat ia bertanya lagi, kita akan kemana? Aku menjawabnya dengan senandung lagu milik Pance Pondak.

“Kemanaaaaa, akan kucari… Aku menangis seorang diriiiii.”

“Ah Ibu……!” Daffa berteriak histeris. Dan aku malah ngakak. Aku memang ibu yang ‘dodol’ yang suka iseng sama anak-anak.

Sementara di dekat pintu, Abyan sudah siap. Duduk disamping ransel yang sudah penuh sesak berisi pakaian kami bertiga, sambil main game angry bird.

Jam 9.30. Kami siap berangkat dari rumah. Dengan sepeda motor, adikku mengantarku ke perempatan di dekat pintu tol Serang Timur. Sampai disini, aku masih belum memberi tahu kepada anak-anak, kemana kita akan pergi. Sebelum berangkat dari rumah, aku memintanya menurut saja. Aku bilang pada mereka, pokoknya nurut saja karena kita akan jalan-jalan.

Di dekat pintu tol, banyak mobil bus beriring-iringan hendak masuk ke jalur tol. Daffa’ dan Abyan yang sedang asik bercanda-canda, akhirnya kembali bertanya-tanya.

“Ibu, itu mobil bis. Kenapa nggak naik?”

“Kita bukan mau ke Jakarta, sayang.”

Akhirnya, setelah sekitar setangah jam menunggu. Mobil bus jurusan Bandung pun lewat. Berhenti di tengah jalan raya yang lebarnya muat untuk 4 jalur kendaraan yang sedang mengantri di pintu Tol. Aku langsung mengandeng tangan Daffa’ dan Abyan. Mengajaknya berlari mendekati dan naik bus. Beruntung, beberapa kursi masih kosong. Aku mengambil dua kursi untuk bertiga.

“Oo, jadi kita mau ke Bandung ya, Bu?” Daffa’ masih saja penasaran.

“Hehe, kok tau?”

“Itu tadi kernetnya bilang, Bandung Bandung! gitu”

Aku menarik sudut bibirku. Aku tak berlu cermin untuk melihat ada gambar hati di mataku. Kuacak rambut Daffa’ yang dicukur pendek dan rapi. Pintar kamu, Nak.

“Jadi, kita mau ke Bandung? Di Bandung ada apa? Kita nginep?”

Abyan memberondongku. Aku lalu menceritakan kepada Daffa’ dan Abyan tentang Bandung. Bahwa Bandung adalah ibukota dari provinsi Jawa Barat. Disana, kita hanya ingin main dan malam ini akan menginap di rumah salah satu temanku, sesama backpacker. Aku meminta mereka untuk mandiri selama disana. Tidak boleh rewel. Jika rewel, nanti nggak akan diajak pergi jalan-jalan lagi. Ah, terdengar seperti ancaman. Maaf ya, Nak.

Jujur saja, aku mengajak mereka ke Bandung, bukan untuk jalan-jalan seperti kebanyakan yang orang lakukan di Bandung. Belanja, atau berwisata ke Trans Studio, atau berbagai tujuan wisata lainnya.

Aku pergi ke Bandung, karena membawa satu keresahan dalam hati yang belakangan seperti hantu dalam hari-hariku. Aku harus membesarkan hatiku dari rasa kecewa karena resolusiku untuk bulan Juli 2013 tidak tercapai. Ditambah, aku pusing sekali dengan domain baru blog ini. Bongkar pasang template, mencari yang sesuai selera benar-benar menyita waktu dan perhatian.

Yang aku fikirkan, aku hanya ingin menghabiskan waktu bertiga saja dengan anak-anak.

Setelah rutinitasku sehari-hari bekerja, pulang terlambat karena jalanan macet. Sampai di rumah aku hanya membawa sisa-sisa tenaga. Aku kehilangan banyak quality time bersama anak-anak.

Ini adalah perjalanan tanpa rencana. Sejak hari Rabu, aku sudah terfikir untuk Backpacking With Children. Berhubung hari Jum’at adalah tanggal gajian sekaligus THR. My criminal brain mulai bekerja. Tahun ini, tidak ada budget untuk baju baru. Lebih baik aku gunakan untuk backpacking saja.

Bromo dan Dieng. Dua destinasi wisata itu terus menggelitik dan memenuhi otakku. Aku mulai browsing. Sayangnya, tiket ke Malang untuk hari Sabtu mahal sekali. Rp350.000,- sekali jalan! Kebayang, berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan hanya untuk tiket kerepa, PP Jakarta-Malang. Bromo, coret!

Bagaimana dengan Dieng. Ah, tiket bis malam Serang-Womosobo kabarnya murah. Berkisar di angka seratus ribuan. Aku sumringah mengetahui berita ini dari seorang teman yang sudah pernah backpacking ke Dieng. Sayangnya (lagi), seluruh agen bus Serang-Wonosobo, sudah kehabisan seat. Wajar sih, musimnya orang mudik lebaran.

Malam Sabtu, di dalam kamarku. Saat anak-anakku sudah tidur. Aku beraksi dengan blackberry di tangan. Chat dengan beberapa teman. Siapa tau ada ide, kemana besok aku akan pergi backpacking with children. Dari Chat BBM, lalu merambat ramai ke timeline twitter.

Seorang teman yang biasa aku panggil Kuya. Cowok yang ngaku melankolis dan memberi label pada diri sendiri sebagai Backpacker Auditor. Di BBM dia menyarankanku untuk ke Bandung saja. Ah, aku mengamininya. Lalu di twitter dia koar-koar. Memberitahukan kepada teman-teman backpacker yang tinggal di Bandung, agar hati-hati karena aku akan ke Bandung. Warning! Karena bisa saja aku ‘mengganggu’ mereka, untuk numpang tidur misalnya. 😀

Baiklah, Nak. Kita ke Bandung saja!

2 thoughts on “Escape to Bandung part.1 Ke Bandung Aja Yuk”

Leave a Reply