Jawa Barat, Traveling

Escape to Bandung part.4 Pagi Di Pasar Kaget

Minggu pagi jam 8. Aku sudah tidak sabar untuk memulai petualangan hari ini. Anak-anak juga sudah mandi dan berpakaian rapi. Setelah semalaman aku tidur kurang nyenyak karena Abyan rewel. Mungkin dia kelelahan¡ seharian jalan kesana kemari. Untungnya pagi ini dia ceria lagi.

Hari ini, sebenarnya aku ingin sekali ke Situs Megalithikum Gunung Padang yang ada di Cianjur. Sayangnya, Indra tak bisa mengantar. Terlalu jauh dan akan memakan waktu, katanya.

“Gimana kalo ke Kawah Putih?” Indra memberiku pilihan.
“Terserah lo aja deh, Ndro. Gue ngikut lo aja”
“Kalo gitu ke Cibodas aja yuk. Ada Kebun Raya Cibodas, ada air terjun juga”
“Hayuklah!”

Sebelum menuju Cibodas, aku sempatkan ke pasar kaget di dekat kampus Unpad. Katanya, pasar kaget ini ada setiap minggu pagi. Oke, aku penasaran. Ada apa ya yang unik di pasar ini. Siapa tau ada baju-baju kualitas bagus yang dijual dengan harga murah. Aku ingat, ibuku pernah berpesan. Jika nanti aku main ke Bandung, tolong belikan baju yang murah meriah saja.

Ramai sekali di pasar kaget ini. Seperti pasar kaget pada umumnya. Badan jalan yang lebarnya sekitar tiga meter, penuh dengan orang-orang yang hendak berbelanja. Berdesak-desakan di antara sepeda motor yang hanya diam di tempat dengan mesin menyala. Macet! Sementara bahu jalan, di kanan dan di kiri berjejeran para pedagang yang wajahnya sumringah menyambut para calon pembeli.

Arrgh! Tiba-tiba kepalaku berdenyut. Kedua tanganku masih menggengam tangan Daffa’ & Abyan. Sudah kepalang tanggung. Sudah terjebak ke dalam ramainya pasar kaget. Meski tak punya banyak uang untuk memborong, aku terus mengikuti arus, sambil melempar pandangan ke kanan dan kiri. Mencoba menangkap sesuatu yang mungkin bisa menarik perhatian, aku mampir, menawar harga, lalu membawanya pulang. Ah, ternyata barang yang dijual disini sama dengan barang-barang di Cilegon atau Serang. Harganya juga nggak beda.

Satu jam di pasar kaget. Sebenarnya Daffa’ & Abyan juga tidak suka berada disini. Mereka rewel minta keluar dari pasar. Aku membujuk mereka untuk sabar sedikit. Nanti setelah selesai, aku janjikan kepada mereka untuk mencoba naik kuda. Tadi di pinggir jalan di dekat tempat parkir sepeda motor, aku melihat beberapa ekor kuda. Daffa’ & Abyan sempat excited juga. Ini pertama kalinya mereka melihat kuda dari dekat.

Untuk bisa menunggangi kuda ini, cukup membayar Rp3.000,- saja per anak. Murah meriah. Sekali naik, si kuda akan diajak berjalan oleh pemiliknya selama sepuluh menit. Lumayan, 10 menit yang berkesan untuk Daffa’ & Abyan.

Sebelum kembali ke luar pasar kaget, aku ajak Daffa’ & Abyan untuk sarapan. Ada pedagang bubur dan kupat tahu diantara rapatnya pedagang baju. Aku beli semangkok saja untuk dimakan berdua anak-anakku. Tidak ada bangku dan meja di tempat bubur ayam ini. Di belakang gerobak hanya digelar terpal lebar untuk para pembeli duduk lesehan. Ramai juga pembelinya.

Sembari Daffa’ & Abyan makan bubur, aku turunkan ransel seberat 5 kilogram dari punggugku.

“Disini aja ya, ibu nitip tas. Makan abisin”

“Ibu mau kemana?”

“Ibu mau liat-liat kesana sebentar” aku menunjuk ke arah pasar kaget yang lebih dalam dan belum aku telusuri.

Padahal, sepanjang pasar kaget ini barang yang dijual semua bisa dibilang seragam. Baju, sendal, kelontongan, mainan anak-anak, kerudung, underwear, gordyn, sprei, sampai sayuran dan buah-buahan.

Entahlah, aku tidak jadi beli apapun disini. Aku tidak bisa meninggalkan anakku lama-lama di tempat bubur ayam. Sepuluh meter setelah meninggalkan tempat dimana anakku sedang menikmati sarapannya, aku buru-buru kembali.

Semangkuk bubur ayam harganya Rp6.000,- Setelah membayar, aku keluar dari pasar kaget. Sampai di parkiran motor, aku dekati satu-satunya kuda yg ikut parkir di antara motor-motor. Yang lainnya, pasti sedang membawa anak-anak lain yang menungganginya.

Hari sudah mulai panas. Padahal baru jam setengah sepuluh. Atau mungkin bukan cuaca yang panas, aku yang kegerahan di dalam pasar kaget yang penuh. Mungkin.

Sambil menunggu Daffa’ & Abyan yang sedang jalan-jalan dengan kuda, aku mencari tukang ojek. Tak lama, setelah deal harga dengan tukang ojeg, kuda yang ditunggangi anakku datang. Segera kami naik ojeg sampai ke perempatan di dekat pintu tol Jatinangor. Dari pasar kaget sampai ke perempatan yang menurutku semacam terminal bayangan ini, aku membayar ongkos Rp10.000,- pada tukang ojeg. Kami akan naik bus menuju Cibodas, Bogor. Bye bye Bandung.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.