Escape to Bandung part.2 Buka Mata Buka Hati

“Waah, pemandangannya bagus banget!”

Teriakan kekaguman Daffa’ yang diiyakan oleh Abyan membangunkanku dari tidur-tidur ayam dalam perjalanan menuju Bandung via tol Cipularang. Kulihat Daffa’ & Abyan berdiri diatas kursi. Menghadap keluar jendela bus, dan berpegangan pada besi yang melintang di tengah jendela bus.

Ada apa? Aku penasaran. Kuregangkan tubuhku yang terasa kaku karena kelamaan duduk dalam bus. Daffa’ menengok ke belakang dan mendapati aku sudah terbangun.

“Bu, liat deh. Pemandangannya bagus”

Aku mendekatkan kepala ke jendela kaca yang lebar itu. Di luar, terlihat bebukitan yang terlihat hijau dan semakin membiru jika dilihat dari bus karena jaraknya yang jauh.

“Iya, bagus banget. Subhanallah” aku bicara lirih. “Nak, bobo yuk. Cape ntar kalo berdiri terus”

“Nggak mau!” Abyan menjawab tegas. Dia memang koleris.

“Nggak ngantuk, Ibu” Daffa’ pun menolak ajakanku.

Aku jadi mengurungkan niatku untuk kembali tidur. Aku mau temani anak-anakku itu belajar banyak hal dari apa yang mereka lihat. Selama backpacking, di jalan, mereka akan bertanya apa saja yang membuat mereka excited. Seperti kali ini, mereka bertanya padaku. Sedang apa robot-robot itu di atas bukit? Daffa’ & Abyan menyebut alat berat (cobelco) itu robot.

Aku jadi teringat di Cilegon. Pemandangan seperti ini setiap hari aku temui. Sepanjang jalan lingkar selatan mulai dari PCI sampai Cigading. Alat berat itu terus mengeruk tanah dan pasir hingga lahan yang semula bebukitan yang hijau kini berubah menjadi tanah tandus. Rata. Tanpa pohon-pohon menyelemuti.

“Bu, kok diem?” Daffa’ menagih jawaban dariku.

Setelah ku jawab pertanyaannya, seperti biasa pertanyaan lain muncul.

“Kenapa gunung-gunungnya dikeruk? Kan pohonnya jadi abis. Kata ibu kan kalo  ngga ada pohon bisa banjir dan longsor, kan?”

Kalau sudah begini, aku harus menjawab apa? Benar kata orang, bahwa anak-anak itu seperti kaset kosong yang akan merekam apa saja. Memori mereka menyimpan semua hal yang mereka pelajari. Kadang, saat nonton TV bersama, mereka suka bertanya. Mengapa bisa banjir? Apa itu tanah longsor? Mengapa begitu?

*****

Setelah kurang lebih 5 jam di dalam bus. Kami tiba di terminal Lewi Panjang. Kami membayar ongkos Rp140.000,- untuk 2 seat bertiga. Hari sudah mulai sore. Kulirik arloji di pergelangan tangan kiriku. Sudah jam 3.

Aku seolah tidak mencium bau ramadhan di terminal ini. Warung-warung di sepanjang pinggiran terminal itu buka seperti biasa. Glek! Aku menelan ludah sendiri. Mi ayam, bakso, es campur, cakue, siomay, batagor, sampai beraneka gorengan itu menggodaku. Aku lapar. Aku memang sedang tidak puasa karena sedang haid. Tapi aku tidak mau makan sekarang. Aku kepikiran, bagaimana dengan mereka yang sedangbpuasa an terpaksa turun di terminal ini?

Ini kali kedua aku berada di terminal Lewi Panjang. Setahun yang lalu, aku naik bus kesini karena hendak pergi ke Lembang untuk training management koperasi.

Aku tuntun kedua anakku. Masuk ke salah satu warung tersebut. Di bis tadi, Abyan merengek-rengek minta minum. Aku memang sengaja tidak membawa bekal dari rumah. Hitung-hitung latihan puasa satu hari ini. Tapi Abyan memang asih balita, jadi wajar saja belum kuat.

Di dalam warung yang menjual es campur dan jus buah, serta berbagai soft drink, Daffa’ & Abyan malah memilih susu kotak rasa cokelat. Dasar! Anak-anakku memang penggemar susu.

Sambil menunggu mereka menghabiskan susu cair cokelatnya, aku mengabari Indra. Indra adalah teman sesama backpacker yang tinggal di sekitaran Jatinangor. Malam ini, sepertinya aku akan numpang tidur di rumah Indra yang profesinya adalah wartawan mongabay.co.id.

Indra memberiku arahan. Dari terminal aku harus jalan kaki sebentar ke lampu merah. Dari sana, naik mobil angkutan umum jenis elf jurusan Jatingangor. Mobil elf ini nantinya akan lewat tol. Tidak lama setelah keluar tol aku harus turun di pom bensin Al maksum. Di pom bensin itu nanti Indra akan menjemput kami. Baiklah, let’s go buddy!

Leave a Reply