Curcol

Endorsment Novel Backpacker in Love

Doc. Pribadi NOE
Doc. Pribadi NOE

Tersanjung sekali rasanya saat membaca Direct Message di akun twitter @BPKoprol, sebuah komunitas yang diretas pada Oktober 2012 dan aku ikut berperan di dalamnya. Direct Message dari seorang traveler wife dengan akunnya @tiastatanka. Sudah tau kan beliau siapa?

Berawal dari kunjungan ke Rumah Dunia pada Desember 2012. Aku, Farah, Randu, Alvie, Gilang, dan Aziz, berniat bertemu dengan sang Travel Writer yang namanya tentu sudah di kenal luas di kalangan penulis dan traveler, Gol A Gong. Terinspirasi buku “Travel Writer” dan berbekal ide untuk mengadakan sebuah acara workshop travel writing untuk para pecinta traveling, kami mantab menuju komplek Hegar Alam, Serang – Banten.

Perbincangan hangat antara kami dengan Mas Gong, begitu kami menyapanya. Ide-ide bergulir. Lalu hari-hari berjalan diisi dengan berbagai persiapan untuk acara yang sudah digagas. Maka pada 9-10 Februari 2013, Workshop dengan tajuk “Te-We, More Than Travelling” pun Alhamdulillah terlaksana, tanpa kendala yang berarti.

Karena acara itulah aku kemudian kenal dengan Mba’ Tias karena harus banyak berkoordinasi untuk acara ini. Lalu saling follow akun twitter baik akun pribadi maupun akun komunitas. Hingga pada 14 Februari 2013, Direct Message itu aku terima. Isinya sebuah permintaan kepada dua orang diatara kami para founder Backpacker Koprol untuk menjadi endorser untuk travel novel yang akan di republish. Judul novelnya Backpacker In Love, yang ditulis duet oleh Gol A Gong dan Tias Tatanka.

Perasaanku saat itu? Seneng, campur bingung. Bagaimana mungkin seorang biasa diminta menjadi endorser. Tapi setelah stalking akun twitternya mba Tias, ternyata memang yang dibutuhkan itu endorser seorang backpacker dan yang masih usia muda. Alasannya karena ini adalah novel remaja. Garuk-garuk kepala lagi. “Gue kan udah tua.” Hehehe…, untungnya teman-teman yang lain masih muda, jadi tersamarlah aku ini lahir di era siapa. *BRB ngumpetin KTP*

Kami menyatakan bersedia dengan senang hati atas kehormatan dari mba Tias itu. Setelah menerima novel dalam bentuk PDF via email pribadiku, langsung ku forward kepada Farah, Alvie, dan Randu. Kami baca novel dengan tebal lebih dari 300 halaman ituΒ  dalam waktu tiga hari. Lalu mengirimkan satu paragraf singkat endorsment yang sudah kami susun bersama kepada Mba Tias melalui email.

Endorsment yang kami buat ini harus mengatas-namakan komunitas Backpacker Koprol. Itu permintaan Gol A Gong. So, sudah terjawab kegamanganku di atas tadi itu cuma ke-GR-an semata. Bukan karena aku sebagai orang yang dikenal mumpuni dalam bidang tulis menulis. Tidak juga Farah, Alvie, dan Randu. Tapi karena nama komunitas kami yang kebetulan baru saja menggandeng penulis besar bernama asli Haris Hendrayana itu untuk memberi mareti Travel Writing kepada para traveler, agar perjalanan memiliki nilai lebih dan bermanfaat.

“Ya, numpang beken gapapa lah.” fikirku geli dalam hati.

1, 2, 3 bulan berlalu. Sudah lupa akan euforia sebagai endorser dadakan. Dan tiba-tiba rasa GR itu datang lagi. Sebuah pesan BBM masuk dari Mba Tias. Minta alamat dan nomor telepon untuk pengiriman novel bukti terbit atas sumbangan endorsment bulan Februari lalu. Huii.. senangnyaa…!! *joged-joged*

Thanks to Mas Gong & Mba' Tias
Thanks to Mas Gong & Mba’ Tias

Setelah novelnya sampai ditanganku, kubaca ulang. Aku larut lagi dalam kisah Laras sebagai tokoh utama di novel tersebut. Dan aku suka sekali dengan puisi-puisi sebagai pemanis di setiap awal bab. Suka pada halaman di awal-awal buku yang tertulis ucapan “Thanks To”, ditulis tangan nama-nama; Noe, Fay, Alvie, Randu, & Backpacker Koprol, dan dibubuhi tanda tangan dua penulisnya. Dan lebih suka lagi saat melihat cover belakang bukunya. Endorsment!

Dan sudah sejak sebulan terakhir, kefikir untuk bikin review bukunya. Tapi berhubung belom punya ilmunya, belom meluangkan waktu untuk belajar dengan serius. Ya, belom bisa nulis deh. Padahal cerita novel Backpacker in Love ini bagus banget. Merasa ada sedikit kesamaan antara aku dan tokoh utamanya. Sama-sama berasal dari keluarga yang broken home. Sama-sama suka ngeloyor dan menikmati kehidupan di luar rumah dari pada duduk manis di rumah. Bicara perbedaan? Ya banyak. Diantaranya yang paling mencolok, si tokoh ini berasal dari keluarga keraton, aku rakyat jelata. Hahaha.. Perbedaan lain, si tokoh ini jago naik motor, aku enggak sama sekali.

20130613_083808-1
Cover belakang novel
Endorsment
Endorsment

By the way, ada yang mau ajari aku nulis review buku?

πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.