Emak, I Love You…

IMG_20120910_142444

Aku pernah sangat membenci hidupku, terlebih saat usiaku ada dalam masa pencarian jati diri. Ya, saat aku SMP, aku sering mempertanyakan satu hal. Mengapa aku harus terlahir dari keluarga yang broken home? Mengapa aku harus tinggal bersama kakek dan nenek sejak aku bayi? Apakah ibuku tidak mencintaiku?

Waktu itu, aku ingin waktu cepat berlalu, aku ingin segera SMA, aku ingin segera kuliah, bekerja lalu menikah. Aku ingin lepas dari asal usul keluarga yang rumit dan sulit aku mengerti. Dan semua berjalan dengan lancar. Aku menikah setelah aku menyelesaikan kuliah Diploma II jurusan Akuntansi dan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan asing sebagai staf akunting di kota Cilegon.

Enam bulan setelah menikah aku pun hamil. Di masa kehamilan inilah aku menyadari sesuatu. Betapa beratnya perjuangan seorang ibu. Sembilan bulan membawa janin dalam kandungan bukan lah perkara mudah. Di tambah lagi perjuangan melahirkan dengan nyawa sebagai taruhannya. Ya tuhan, ampuni aku yang selama ini telah membenci ibu.

Menjelang melahirkan, aku memilih pulang ke kampung Emak di Lampung Selatan. Aku ingin melahirkan dengan didampingi Emak. Aku tak peduli meski Emak tinggal di kampung yang amat terpencil. Tak ada rumah sakit, tak ada dokter kandungan. Untuk sampai ke rumah bidan desa pun aku harus naik ojeg sejauh 3 kilometer. Melalui jalan berbatu kasar yang di sisi kanan dan kirinya adalah lahan perkebunan kakao.

Hari itu 13 Januari 2007, selepas sholat isya, aku merasakan perutku seperti diremas-remas. Sakiiiit sekali! Aku segera dibawa ke rumah bidan desa. Emak sangat setia duduk di sisi ranjang untuk menemaniku. Mendengarkan segala rintih kesakitanku. Mengusap keningku yang selalu dibanjiri keringat dengan tangannya yang mulai keriput. Sementara aku terus berteriak kesakitan dan suami yang tak sabaran memilih minggalkan ruang bersalin dan menunggu di luar.

“Emak…, aku nggak kuat lagi!” Ucapku lirih sambil menggenggam erat tangan Emak. Tak kuasa juga aku menahan air mata. Seperti ini juga kah rasa sakit saat engkau hendak melahirkanku, Mak?

“Ssst…! Jangan bicara seperti itu. Berdoa kepada Allah. Kamu pasti kuat.” Suara Emak terdengar sangat lembut. Aku sempat melihat senyum di wajahnya sebelum aku kembali memejamkan mata dan berteriak menahan sakit yang semakin hebat.

Kontraksi otot rahim itu sungguh menyiksa. Seolah sejuta rasa sakit terhimpun menjadi satu. Aku hampir putus asa. Aku merasa dekat dengan mati. Dalam hati aku berkata, Ya Allah, jika aku harus pulang sekarang, selamatkan anakku dan ampuni segala dosaku.

Dengan sisa tenaga yang ada, setelah tak kurang dari 9 jam aku menahan rasa sakitnya proses sebelum melahirkan, sekuat tenaga aku mengejan. Lalu suara eranganku berganti dengan riuh tangis bayi. Tepat saat adzan subuh berkumandang pada Minggu, 14 Januari 2007.

Emak yang sejak tadi tak beranjak dari sisi ranjang, dekat dengan kepalaku, mendekatkan wajahnya. Ia mencium kening dan kedua pipiku.

“Alhamdulillah…” Ucap emak. Matanya kini basah. Aku tau itu adalah air mata bahagia.

“Emak, I love you. Maafin semua salahku ya.” Ucapku sambil menangis. Lalu Emak memelukku.

*****

Based on true story.
Cerita ini pernah aku kirim ke proyek buku kolaborasi dengan tema My Mom My Angel oleh penerbit Diva Press, dan nggak lolos!  😆 Yeps, it’s mean that i’m not good enough in writing. And I have to keep learning and keep writing.

Leave a Reply