Curcol

Dok, Jaga mulutmu!

wpid-PhotoGrid_1371801994657.jpg
Expressi Daffa’ sebelum dan sesudah Khitan

Ingin rasanya aku marah dan memaki. Seharusnya kata-kata itu tidak keluar dari mulut seorang yang berpendidikan tinggi. Ah, tapi aku jadi ragu, apa iya dia berpendidikan tinggi? Sekolah tinggi sih sudah pasti. Ternyata, “Berpendidikan tinggi itu beda dengan bersekolah tinggi.”

Bahaga sekali aku melihat wajah Daffa’ kembali ceria setelah dirawat selama tiga hari di Rumah Sakit karena demam tiphoid dan sekaligus terserang virus campak. Pagi di ruang rawat di sebuah rumah sakit, 20 Juni 2013. Alhamdulillah, semoga hari ini diijinkan pulang oleh dokter.

Jam 9 pagi, dokter spesialis anak datang ke ruangan, memeriksa kondisi Daffa’. Dokter pun mengamini dugaanku, bahwa Daffa’ sudah sehat.

“Nanti siang setelah diberi antibiotik jam 12, sudah boleh pulang ya bu.”

Aku tentu saja senang mendengar itu. Lalu tiba-tiba terlintas dalam benakku, bagaimana kalau Daffa’ skalian saja di khitan hari ini? Kusampaikan apa yang ada dalam fikirku saat itu, sebelum dokter beranjak pergi dari sisi ranjang dimana Daffa’ di rawat dan hendak memeriksa pasien lain dalam ruangan itu.

Dokter perempuan yang cantik dan lembut itu membolehkan. Katanya, nanti suster yang akan menyampaikan pesan tersebut kepada dokter yang bertugas di IGD.

Lalu, sambil menunggu kabar dari suster, jam berapa dokter siap untuk mengkhitan Daffa’, aku mulai berbicara pada Daffa’ bahwa hari ini ia akan dikhitan. Awalnya Daffa’ memang tidak mau, dan ketakutannya itu disebabkan banyaknya orang-orang yang suka mengancam dan menakut-nakuti anak-anak, termasuk Daffa’. Seperti kata-kata berikut contohnya;

“Hayyo, kalo nggak mau makan nanti disunat loh!”

“Jangan nakal, sunat ntar t****nya!”

Dan masih banyak lagi contoh-contoh kata yang membuat mental anak menjadi ciut. Memang ada andil saya sebagai ibu sehingga anak-anak saya harus menerima ancaman tersebut. Berjam-jam setiap hari aku meninggalkan mereka untuk bekerja. Anak-anak dalam pengasuhan orang lain yang kadang tak sejalan dalam hal cara mendidik anak. Orang-orang terdekat mungkin bisa diajak bicara, tapi bagaimana dengan teman-teman sepermainannya? atau para ibu dari teman-teman bermainnya? Itu di luar kendaliku.

Itu sebabnya, aku membiasakan bicara pada anak-anakku memakai kata “khitan”. Menghilangkan gambaran buruk bahwa “sunat” itu sesuatu yang menakutkan. Meski anakku tetap mengetahui bahwa sebagian kulit di alat kelaminnya akan dipotong, tapi kuberikan alasan bahwa itu demi kesehatan, dan juga perintah agama. Anakku mengerti, dan kekhawatirannya sedikit berkurang karena kujelaskan, meskipun sakit tapi tak akan lama. Karena dokter bekerja secara cepat dan akan diberikan obat untuk mengurangi rasa sakit.

Proses meyakinkan Daffa’ bukan saja hari ini, sebelum eksekusi khitan. Tapi sudah sejak sekitar 2 tahun yang lalu. Aku yakin, dengan melihat wajah ceria Daffa’ hari ini, setelah ku beritahu dia bahwa dia akan dikhitan dahulu sebelum pulang, dia sudah cukup berani. Ya, meski pertanyaan-pertanyaan yang sama seperti hari-hari kemarin masih terlontar.

“Nanti dipotong?”

“Sakit enggak?”

“Bener ya bu, nggak lama sakitnya!”

Aku terus menyuguhkan senyum, mengangguk, dan merangkulnya. Sampai akhirnnya pada jam 1 siang, seorang perawat menghampiri dan memberitahu bahwa dokter di IGD sudah siap. Kugandeng tangan Daffa’, berjalan menuju IGD dengan infus yang masih tersambung di punggung tangan kanannya.

Begitu tiba di IGD, dokter menyambut ramah. Memuji Daffa’ sebagai jagoan yang pemberani karena akan dikhitan. Lalu aku bertanya pada dokter laki-laki dan kurus itu.

“Dok, disunatnya pakai apa ya? Laser kah?”

“Ibu mintanya pake apa? pisau, gergaji, golok, atau kampak?”

Mendengan itu, Daffa’ yang sejak tadi berwajah ceria berubah drastis. Daffa’ mulai menangis dan tak mau dikhitan. Aku pun jadi kesal, ingin ku maki rasanya saat itu juga. Dok, bisa bicara dengan kata yang lebih enak didengar?

Tapi aku tau, aku pun harus menjaga sikap. Toh kalaupun kulakukan, hanya akan memperburuk suasana. Aku lebih memilih memeluk Daffa’ yang sudah terbaring di ranjang IGD. Show must go on. Kuyakinkan kembali ia, ini hanya sebentar nak, tak akan lama. Ibu disini menemanimu, Ibu nggak akan pergi.

Akhirnya, dokter menyebalkan itu bekerja dengan lasernya, bersama perawat dan asistennya, dan diiringi tangisan Daffa’ yang ketakutan.  Aku berdiri membungkuk di sisi kiri Daffa’, memeluk dadanya sambil memegangi tangan kanannya yang sedikit ribet dengan selang infus. Tangan kananku mengelus keningnya. Wajahku dan wajah Daffa’ berhadapan. Aku tersenyum sambil terus berkata bahwa aku ada untuknya. Jangan takut ya nak!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.