#10daysforASEAN

Dibalik Politik Isolatif Myanmar

Hampir semua negara di ASEAN, telah membebaskan pengurusan visa bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke negaranya, namun tidak dengan Myanmar. Kenapa ya, berwisata ke Myanmar tidak cukup dengan mengandalkan paspor saja? Perlu atau tidak visa bagi perjalanan wisata?

Tantangan hari keempat lomba blog #10daysforASEAN tentang wisata lagi. Saya yang memiliki passoin dalam hal traveling namun tidak terlalu mengamati politik agaknya tetap harus berjuang mencari informasi. Apa yang sebenarnya terjadi di Myanmar sehingga cenderung menutup diri?

Saya pernah satu kali melakukan perjalan ke luar negeri yaitu pada 5-11 Mei 2013. Waktu itu saya bersama kedua anak saya mencoba berwisata ke Singapore dan Kuala Lumpur. Saya berani melakukan perjalanan yang tergolong nekat ini karena tidak dibutuhkan visa untuk berwisata ke negara-negara ASEAN. Cukup dengan paspor saja kita bebas berwisata tanpa visa, kecuali Myanmar.

Mengetahui informasi perihal visa wisata di negara-negara ASEAN yang saya dapat dari komunitas Backpacker Dunia di grup facebook, saya tak ambil pusing. Saya tidak mencari tahu apa yang terjadi sehingga Myanmar mengisolasi diri. Dan yang pasti saya tidak akan ‘ngoyo’ memasukan Myanmar ke dalam daftar negara yang ingin saya kunjungi, meskipun saya memiliki cita-cita untuk berwisata keliling negara-negara ASEAN.

Dari buku “The Gong Traveling” saya membaca kisah Gol A Gong saat melewati perbatasan Thailand dan mencoba masuk ke Myanmar, saya mengetahui sedikit informasi bahwa adanya gejolak politik yang tak kunjung henti dan membuat pemerintah ogah menerima wisatawan masuk ke Myanmar. Hanya dalam hitungan jam, Gol A Gong kemudian dicekal oleh petugas berseragam militer karena penyamarannya sebagai orang bisu dan tuli dari Thailand ketahuan.

Hari ini, saya mencoba mencari informasi lebih banyak dari wikipedia. Ngeri saya membaca informasi tentang apa yang terjadi di Myanmar. Kudeta pada 1988 oleh pemerintahan militer yang hingga kini berkuasa di Myanmar menimbulkan gelombang demonstrasi yang tak kunjung henti. Adanya pelanggaran HAM yang menjadi case sensitif bagi dunia sepertinya faktor utama bagi pemerintah militer Myanmar untuk mengisolasi diri.

Meski dengan mengisolasi diri, arus informasi dari dan ke Myanmar menjadi sangat sulit, pelanggaran HAM yang terjadi tetap saja tersiar kabarnya hingga ke negara-negara lain. Seperti yang paling membekas di ingatan saya yaitu tentang Rohingya sebagai suku minoritas yang ternyata pernah dibantai pada 1992. Serta sederet pelanggaran HAM lain antara pemerintah militer dengan rakyat Myanmar serta pelanggaran HAM yang bersinggungan dengan politik luar negeri seperti adanya reporter dari Jepang yang ditembak mati oleh tentara dari jarak dekat saat meliput demonstrasi. Kematian warga Jepang ini memicu protes Jepang pada Myanmar dan mengakibatkan dicabutnya beberapa bantuan Jepang kepada Myanmar.

Ya, pelanggaran HAM dan kepentingan politik pemerintah militer Myanmar sepertinya yang menjadi alasan utama dibalik politik isolatif Myanmar.

Perlu atau tidak visa bagi perjalanan wisata?

Meski Myanmar mengisolasi diri, bukan berarti tak mau sama sekali menerima wisatawan datang ke Myanmar. Hanya saja, wisatawan harus mengurus visa perjalanan sebelum berkunjung. Permohonan visa harus diajukan kepada kedutaan Myanmar. Setelah disetujui, maka paspor akan dibubuhi stempel seperti yang saya lihat di blog salah seorang traveler disini. Namun, jika permohonan visa ditolak, maka paspor juga akan dibubuhi stempel tanda ditolak.

Beberapa negara selain negara-negara ASEAN mulai menetapkan Visa On Arrival (VOA), seperti Hongkong dan Istanbul (Turki). Dengan pemberlakuan kebijakan VOA, maka wisatawan dapat berkunjung ke negara tersebut tanpa mengurus visa sebelum berwisata. Wisatawan cukup datang, lalu visa kunjungan dapat diurus langsung di negara tersebut saat melewati portal imigrasi.

Tentang perlu atau tidaknya visa perjalanan, tentu bergantung pada kebijakan masing-masing negara. Seperti Myanmar dengan pemerintahan militer dan isu pelanggaran HAM tentu selektif menerima orang asing masuk ke negaranya. Dan untuk negara-negara ASEAN lain yang sudah membuka diri dengan membebaskan visa kunjungan, mungkin karena pemerintahnya merasa mampu mengatasi masalah politik yang ada. Atau bisa juga karena pertimbangan lain, yaitu sedang gencar mempromosikan pariwisata di negara masing-masing dengan memberi kemudahan berupa bebas visa kunjungan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.