Dia Yang Mengubah Hidupku

Noe yang sekarang beda dengan Noe yang dulu. Noe yang sekarang suka pose di depan kamera tanpa malu-malu. Bibirnya bergincu dan sering bergaya mencucu. Padahal dulu itu, dia bukan sekedar pemalu. Tapi mindernya nggak kuku. Sampai-sampai, kalau di tengah keramaian dia seperti orang bisu. “Aku kan cuma anak kampung, nggak cantik, nggak keren, apa ada yang mau jadi temanku?” masa dia mikirnya gitu. Iya, dia itu aku. Dulu.

Tapi kemudian, waktu berlalu. Hari berganti. Aku dipaksa melangkah maju. Tak ada kesempatan untuk kembali. Walau pikurku, “mungkin enak selamanya jadi bayi, yang tinggal nangis doang kalau butuh sesuatu. Dari pada terus menua tapi selalu sendiri. Lalu terjebak pada rasa iri. Enaknya jadi dia, banyak yang mau berteman.”

Ih, dulu itu aku terlalu sibuk sama pemikiran diri sendiri. Sampai-sampai aku lupa untuk berbenah diri. Sibuk menghitung seberapa banyak kekurangan. Sampai-sampai aku lupa untuk mengasah kelebihan yang mungkin aku punya. Sampai suatu hari di kampus LP3I, ada satu kalimat dari seorang teman yang membuatku sadar.

Waktu itu di kantin kampus. Beberapa teman seangkatan sedang berkumpul untuk membentuk BEM (Badan Eksecutive Mahasiswa). Tanpa kuduga, salah satu dari mereka tiba-tiba menghampiriku.

“Nurul, kamu mau gabung ngga?”

Aku tertegun sejenak. Ini serius aku diajakin?  Aku membatin. “Eng … nggak, deh!” jawabku ragu. “aku malu, lagian selama ini aku kayak dianggap nggak ada” lanjutku lagi. Sungguh jawaban yang konyol.

“Ya kalo gitu kamu tunjukkin dong kalo kamu punya kelebihan!”

Mendengar kata-katanya itu kok rasanya kayak … pas lagi ngantuk banget, baru mau leep tidur, trus dikagetin suara petasan. Langsung deh melek dan nggak ngantuk lagi. *eh, analogi macam apa itu? Nggak nyambung!

Atau gini, aku seperti anak kodok yang punya dunia seluas tempurung, trus diajak terbang sama astronot dan liat bumi yang bulat secara keseluruhan, di tengah galaksi yang maha luas. Dan sadar, duh, ternyata selama ini aku salah.

Lalu saat mata kuliah Personality Development, ketika dosen memberi kesempatan untuk bertanya soal materi yang sedang dibahas, yaitu tentang menumbuhkan rasa PD, aku mtunjuk tangan dan malah curhat.

“Pak, kenapa ya, saya kok merasa minder? Trus merasa nggak ada yang mau berteman dengan saya” tanyaku.

Trus pak dosen ganteng menjawab panjang dan lebar. Yang intinya, minder bisa disebabkan karena terlalu sibuk sama kekurangan diri sendiri. Lalu jadi lupa untuk menggali potensi. Padahal, setiap manusia punya kelebihan. Tinggal diasah saja. Kan kalau kelebihan lebih menonjol, orang lain juga nggak akan terlalu melihat apa kekurangan yang ada.

Nah, soal merasa nggak punya teman, ya gimana teman-teman mau mendekat kalau kitanya sibuk sama diri sendiri. Sibuk cari alasan kenapa nggak PD. Coba bangun rasa PD dulu. Kalau udah PD, nanti juga bakal berani mulai membuka diri, berteman, bersosialisasi, dan yang pasti bakal jadi orang yang asik. Kalau orangnya asik kan, pasti banyak orang mau jadi teman.

Dulu malu-malu, sekarang banyak gaya

Ya, ya. Jadi semenjak itu, aku mulai belajar membuka diri. Ikut-ikutan jadi pengurus BEM. Gabung sama anak MAPALA dan ikut-ikutan nanjak gunung. Dan ikut terlibat pada banyak kegiatan kemahasiswaan. Awalnya emang agak kaku. Tapi, berkat teman-teman yang menerimaku dengan tangan terbuka, lama-lama akunya jadi luwes.

Oya, teman kampusku dengan kalimatnya yang hak jleb jleb itu namanya Melissa. Perempuan asal Gorontalo yang terdampar jauh sampai ke Cilegon. Thanks, beib. Kamu adalah satu di antara milyaran manusia yang punya andil besar dalam mengubah hidupku.

Begitulah, dalam hidup, kita akan dipertemukan dengan jutaan manusia. Banyak di antara mereka hanya hadir sekilas dan berlalu. Tapi tak sedikit juga yang kehadirannya memberi arti. Namanya akan selalu teringat. Kenangan tentangnya akan selalu membekas. Bahkan jika pengaruhnya dalam hidup kita hanyalah tentang hal-hal sederhana. Misal, Ojrahar bojoku.

Aku dan Ojrahar, solmeeet!

Kalau bukan karena dia, mungkin aku nggak akan pernah berteman dengan sepatu. Mungkin selamanya aku bakal lebih suka pakai sandal kemana pun, karena aku nggak suka pakai sepatu. Buatku, sepatu itu ribet pakenya. Nggak praktis. Satu-satunya model sepatu yang bisa ditoleransi olehku adalah model slip-on. Itu juga cuma dipake kalau mau berangkat dan saat pulang kerja. Selebihnya, seharian di dalam ruangan kantor aku ganti pake sandal jepit lagi. Hahah.

Tapi sekarang, sepatuku ada lebih dari 3. Ini semacam prestasi buatku yang selama ini benci bersepatu. Hahah.

Awal-awalnya, saat aku bingung mau membelanjakan voucher untuk apa, Ojrahar mendorongku untuk beli sneakers warna merah.

“Beli sneakers merah aja, biar kembaran sama gue” katanya.

Apa? Merah! Itu kan warna gonjreng. Pasti narik perhatian banget. Gitu pikirku yang ternyata masih menyimpan rasa nggak PD-an. Tapi Ojrahar berhasil meyakinkan. Terbeli lah sneakers merah. Lalu jadi sepatu satu-satunya untuk dipakai kemana pun. Lama-lama, kepingin punya satu lagi. Satu lagi yang model flat shoes. Satu lagi yang model wedges biar agak tinggian. Satu lagi deh, belum punya boots nih. Hahah.

Saking sukanya sama Bima boots, sampe dipake ke pantai juga

Boots, adalah sepatu yang belum lama ini jadi bagian keluarga sepatuku. Modelnya sederhana tapi cantik. Warnanya cream dari bahan goni, dengan aksen kain tenun Bima warna dusty pink. Atuhlah itu sepatu boots kalo aku pake bisa menurunkan kadar maskulin dalam jiwaku. Biar jadi feminine dikit gitu kan. 😆

Oya, yang bikin aku tambah suka, ternyata sepatu Bima Boots punyaku itu asli buatan Indonesia. Mereknya D.A.T. Singkatan dari d’Arcadia Treasure. Produk-produknya unik. Merepresentasikan kain-kain khas Indonesia, seperti batik dan tenun. Dan yang namanya hal-hal berbau tradisional Indonesia, biasanya pasarnya bakal meluas sampai mancanegara. D.A.T. pun begitu. Produknya udah banyak diekspor. Kerrreeen!

Coba kepoin instagram @arcadiatreasure kalo mau liat model-model sepatunya. Intip juga fans page di facebook. Lagi ada promo buy 1 get 1 free tuh.

Si cantik Bima Boots Dusty Pink

Btw, selain soal sepatu, Ojrahar juga sudah banyak mengubah hidupku. Aku nyaman bersama dia. Semoga hanya maut yang memisahkan kita, ya, beb. Uhuk. 😆 Eh iya, mau copas lagi ah, kalimat yang udah kutulis di tengah paragraf tadi.

Dalam hidup, kita akan dipertemukan dengan jutaan manusia. Banyak di antara mereka hanya hadir sekilas dan kemudian berlalu. Tapi tak sedikit juga yang kehadirannya memberi arti. Namanya akan selalu teringat. Kenangan tentangnya akan selalu membekas. Bahkan jika pengaruhnya dalam hidup kita hanyalah tentang hal-hal sederhana.

29 thoughts on “Dia Yang Mengubah Hidupku”

Leave a Reply