Bali

Di Monkey Forest, Ubud, monyet itu bercerita

Monkey Forest

Ini untuk pertama kalinya aku begitu dekat dengan monyet. Monyet-monyet disini sangat agresif. Mereka lapar. Mata mereka awas, mencari-cari apa saja yang bisa dimakan. Sekali ia mendeteksi adanya makanan, mereka akan dengan lincah, bergerak cepat untuk mengambilnya.

Pantas saja tadi, petugas ticketing memperingatkan aku untuk menghabiskan makananku terlebih dahulu sebelum masuk Monkey Forest. Memang, sebelum masuk Monkey Forest aku membeli gorengan, dan aku memakannya sembari mengantri untuk membeli tiket. Hihi… 😀

Di depan pintu masuk Monkey Forest, ada penjual pisang. Ssst…kuberi tahu ya, harganya mahal! Untuk satu sisir pisang dipatok seharga 50 ribu! Jadi, kalau berniat memberi pisang kepada monyet-monyet disini, beli di pasar saja. 😉

Suasana di Monkey Forest

Hujan gerimis masih terus menyirami tanah Bali. Dalam perjalanan menuju Ubud, ke arah utara dari desa Batubulan, dengan sepeda motor pinjaman dari mba Wayan, aku harus beberapa kali berhenti untuk berteduh ketika gerimis semakin deras dan lebih tepat disebut hujan. Pagi itu sudah menjelang siang, di hari Kamis 12 Desember 2013, ketika kami tiba di Monkey Forest.

monkey forest akar gantung

Memasuki Monkey Forest, suasana hutan tropis yang sejuk segera menyambut. Tenang dan damai segera menyusup ke jiwa ketika menghirup udaranya yang bersih, di tengah pohon-pohon yang menjulang tinggi dan berdaun rindang. Beberapa pohon di antaranya memiliki akar gantung yang terlihat eksotis. Pantas saja jika tempat ini dijadikan tempat syuting film Eat, Pray, and Love yang dibintangi Julia Robert.

Jika berjalan menyusuri jalan-jalan kecil di dalam Monkey Forest yang dipagari dengan pepohonan, dan monyet-monyet bergelantungan serta melompat dari dahan ke dahan, maka akan terasa sekali suasana ceria dan menyenangkan.

Di beberapa titik, sekumpulan monyet berkerumun dan memakan ubi yang di gelar di bundaran atau tanah lapang yang sudah tertutup paving block. Perhatian mereka akan teralih kepada pengunjung yang datang dengan membawa pisang.

Monkey Collage

Ow…ow…ow…, ada yang meloncat ke arahku! Hinggap di punggungku, dan tangannya menyusup ke dalam tas yang aku sandang. Ditarik-tariknya jaket bulu angsa kesayangan yang kusimpan didalam tas itu. Hup! Dengan cepat aku merebutnya sebelum ia lari.

Aish! Ada monyet lain yang meloncat ke pundakku. Ia menggigiti pundak dan rambut yang aku ikat dan bentuknya membulat di bagian belakang kepalaku. Oh, baju dan kerudungku jadi sedikit koyak! Hiks…

Ternyata, monyet adalah mahluk dengan rasa penasaran yang tinggi. Jadi, jaga barang bawaan dengan baik. Jika terlanjur diambil oleh monyet-monyet yang lucu itu, mintalah bantuan pemandu untuk mengambilnya kembali.

Monyet itu bercerita

Hal paling menarik yang aku lihat di Monkey Forest ini, adalah berbagai tingkah dan ekspresi wajah dari monyet-monyet itu.

monyet galau

Monyet jantan ini, sepertinya sedang galau. Entah apa yang ada dalam fikirannya. Aku bertemu dengannya di pelataran Pura Dalem Agung, di dalam kawasan Monkey Forest. Mungkinkah ia galau karena gagal move on?

monyet di pohon

Makan ubi, sambil mencari-cari…adakah pengunjung yang mau memberiku pisang?

monyet ibu anak

Ini so sweet banget ya nggak sih? Memang, tempat ternyaman itu di dekat ibu. 🙂

monye cari kutu

Sahabat, adalah mereka yang selalu ada saat kita butuhkan… 😆

Tentang Monkey Forest

Ubud Monkey Forest, atau juga dikenal dengan nama Sacred Monkey Forest Sanctuary. Merupakan cadar alam dan komplek candi yang disucikan, serta merupakan rumah bagi ratusan ekor monyet berekor panjang. Terletak di Padangtegal, daerah pengunungan yang paling subur di Ubud. Untuk masuk ke tempat wisata ini, cukup membayar tiket masuk seharga Rp 20.000,- per orang. Masih tergolong murah, menurutku. 😀

pura dalem agung

Di dalam cagar alam Monkey Forest, terdapat tiga pura yang disakralkan karena dibangun pada abad ke-14. Yaitu, Pura Dalem Agung, Pura Beji yang memiliki struktur “Tiga Mandala” dan Pura Prajapati sebagai tempat kremasi. Pura Beji yang terletak di dekat sungai kecil memiliki sebuah kolam yang dulunya digunakan sebagai tempat untuk menyucikan diri. Konon katanya, bagi pengunjung yang berdoa lalu melempar koin ke kolam ini doanya akan terkabul. Mau coba?

Oh, soal monyet-monyet yang lucu itu. Mereka bisa sangat dekat dengan pengunjung. Apalagi kalau kita memberinya makanan. Tapi, perlu hati-hati juga. Saat berdekatan dengan mereka, jangan coba-coba menatap matanya. Mereka menganggap bahwa kita menantangnya. Heuheu…, aku sempat hampir di cakar saat mencoba menatap ke dalam mata monyet yang sedang dicariin kutu oleh temannya itu. 😆

Oya, satu lagi. Jalan-jalan di dalam Monkey Forest, rasanya aku tidak sedang berada di Indonesia. Lha! Pengunjungnya kebanyakan turis asing. Eh, waktu itu, ada anak kecil asal jepang yang tiba-tiba menangis menjerit-jerit. Rupanya, pahanya yang terbuka karena cuma pakai hotpants itu digigit dan dicakar monyet. Hmm…, mungkinkah karena dia mencoba menatap mata monyet itu? Bisa jadi!

Eh! Satuuu lagiiii, ini, cuma mau kasih bonus foto the happiest couple forever. hihi.. Terima kasih sudah membaca 🙂

sama patjar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.