All about love

#DearSon, Ibu Sayang Kalian

Dear sons, sudah sering memang ibu menulis di blog ini tentang kalian. Tapi rasanya ibu belum pernah menulis surat cinta buat kalian ya? Kebanyakan yang ibu tulis adalah cerita kebersamaan kita saat backpacking.

Iya, ibu memang penggila backpacking. Kalian tau kenapa? Alam mengajarkan kita banyak hal. Tidak sekedar menginjakan kaki ke tempat baru untuk melihat keindahannya. Lebih dari itu, alam adalah sekolah untuk kita. Orang-orang yang kita temui adalah guru. Setiap kejadian yang kita alami adalah pelajaran berharga untuk dipetik. Dan ibu tak mau melewati proses belajar ini sendirian. Itu alasan mengapa ibu senang pergi backpacking dan mengajak kalian.

Banyak orang bertanya pada ibu. Memangnya nggak repot ya bekpekeran sama anak?

Ibu tidak pernah memungkiri, backpacking dengan mangajak dua anak sekaligus sudah pasti repot. Tapi cinta ibu lebih besar dari persoalan repot yang bisa saja menjadi halangan untuk kita. Sama seperti cinta para ibu lain untuk anaknya yang rela bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan, mengatur menu makan untuk tumbuh kembang yang baik bagi anak-anaknya, mengantar ke sekolah setiap hari, membantu mengerjakan PR, mengajari membaca, sampai membacakan dongeng sebelum tidur.

Ibu memang bukan ibu yang sempurna, seperti yang ibu gambarkan diatas itu tadi. Ibu kalian ini adalah ibu yang super duper cuek, temperamen, malas, dan segudang sifat buruk lainnya. Ibu pergi kerja pagi hari bahkan tanpa menyiapkan sarapan untuk kalian. Ibu tidak rajin menelepon mengingatkan makan saat siang hari. Sore saat pulang kerja pun ibu hanya membawa sisa tenaga, dan hanya ingin sendiri tanpa diganggu oleh kalian. Maaf jika ibu sering lepas kendali dan membentak kalian untuk diam saat kalian berisik dan ibu ingin istirahat. Ibu mengaku dosa!

Dear son, maaf ibu mulai lebay. Ibu menangis saat menulis ini. Rasa bersalah itu begitu besar di dalam hati ibu. Jujur, ibu takut saat kalian dewasa nanti, hanya kenangan buruk tentang ibu yang terekam dalam ingatan kalian. Saat-saat seperti ini, ibu butuh pelukan kalian. Biasanya, saat diam-diam ibu menangis di kamar, dan kalian memergoki ibu dengan mata dan pipi yang basah. kalian akan memeluk ibu. Menenangkan dengan kata-kata manis dan tulus yang meluncur begitu saja dari bibir mungil kalian.

“Ibu jangan sedih, Mamas & Kakak sayang sama ibu. Mamas & Kakak nggak akan tinggalin ibu kok.”

Ah, ibu jadi teringat 2 tahun yang lalu. Saat ibu dan ayah kalian akhirnya memutuskan bercerai. Semua orang tentu setuju bahwa kalian menjadi korban keegoisan orang tua. Keluarga kita tidak utuh lagi. Ibu mungkin bisa lepas dari satu beban berat yang harus ditanggung jika mempertahankan pernikahan dengan ayah kalian. Tapi bagaimana dengan kalian yang harus kehilangan salah satu orang tua. Hak asuh tentu saja menjadi masalah yang membuntuti. Ibu begitu takut kehilangan kalian. Sampai-sampai setiap kali ibu menangis dan memeluk kalian karena masalah ini, ibu akan bilang;

“Jangan tinggalin ibu ya, Nak. Tinggal sama ibu aja ya…”

Dan betapa sakitnya hati ibu ketika mendengar arncaman kalian setiap kali ibu lepas kendali. Saat stress berat menghampiri dan temperamen ibu kumat. Darah ibu naik ke ubun-ubun dan memarahi kalian. Lalu kalian berlari ke sudut kamar. memeluk lutut dan menangis. Pipi ibu seperti tertampar ratusan kali mendengar kata-kata kalian disela isak tangis.

“Ibu udah jahat. Mamas & Kakak mau ikut ayah aja!” 🙁

Seketika kedua lutut ibu pun ikut lemas. Ibu jatuh bersimpuh dan memeluk kalian. Memohon maaf dan berulang kali mencium pipi kalian yang penuh lingangan air mata. Astaghfirullahaladziim…

2 tahun yang lalu, mungkin ibu tidak sekedar stress karena perceraian dengan ayah kalian. Mungkin ibu sudah sampai di tahap depresi. Ibu jadi takut bertemu kalian. Ibu takut lepas kendali. Ibu takut membuat kalian ketakutan. Ibu rasanya gila! Sampai-sampai akhirnya ibu menitipkan kalian di rumah nenek kalian di Lampung. Dalam kesendirian inilah ibu mulai mengenal dunia backpacking karena ajakan seorang teman.

Ibu sangat menikmati setiap kali pergi backpacking bersama teman. Yang ibu fikirkan saat itu hanya senang-senang. Ibu sudah lelah berlama-lama dalam keadaan depresi. Sampai suatu hari, ibu tertampar lagi. Saat saudara sepupu ibu mencibir.

“Enak ya kamu senang-senang terus, nggak mikirin anak di rumah kakek-neneknya!”

Ibu mulai berfikir. Mungkin tidak ada salahnya jika ibu mengajak kalian sekalian. Ibu pernah berbicara dengan seorang psikolog. Dia bilang, berinteraksi dengan alam bisa menjadi sarana untuk terapi jiwa. baik juga untuk anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Lalu ibu mengambil kalian kembali untuk tinggal bersama ibu. Mulai mengajak kalian jalan-jalan. Keliling kota Serang, dan kadang ke Jakarta. Mengajak kalian ke museum, ke pantai, ke bukit, masjid, klenteng, atau sekedar lari-lari pagi di lapangan.

Dan untuk pertama kalinya saat ibu ajak Mamas Daffa’ untuk backpacking dengan medan yang cukup berat, yaitu ke Krakatau pada Maret 2013. Ibu ingat saat Mamas menangis, bukan karena lelah trekking mendaki gunung anak Krakatau. Tapi Mamas menangis karena tidak ada Kakak bersama kita saat itu. Hati ibu juga sebenarnya merasakan bahwa ada yang tidak lengkap. Tapi Kakak masih berusia 4 tahun. Tidak memungkinkan untuknya ikut mendaki Krakatau. Mengajak Mamas Daffa’ yang baru berusia 6 tahun saja ibu cukup deg-degan. Untungnya mamas sudah bisa mandiri. Dan ibu malah salut dan terharu dengan kemadirian Mamas Daffa’ selama backpacking di Krakatau. Kisah itu ibu tulis juga di blog ini dengan judul Bocah 6 tahun Muncak Krakatau.

Perjalanan ala backpacker ke Singapore dan Kuala Lumpur, mungkin menjadi awal perjalanan nekat kita bertiga. Di negara tetangga itu lah banyak suka dan duka kita alami bersama. Ibu mencoba menuliskan setiap detil pengalaman kita di blog ini agar suatu saat nanti kalian bisa membacanya.

Dan perjalanan yang tak kalah nekat berikutnya adalah saat di Baduy. Menelusuri suku pedalaman di Banten Selatan. Lagi-lagi, ibu hanya mengajak Mamas Daffa’. Kakak Abyan terpaksa harus ditinggal di rumah Kakek, karena Kakak Abyan belum bisa diajak hiking. Jalan-jalan di kota saja, Kakak masih suka mogok jika kelelahan. Lalu ibu harus menggendong Kakak Abyan di punggung ibu. Masih ingat juga bagaimana wajah cemberut Mamas dalam bus malam itu saat kita hendak menginap di Serang sebelum pergi ke Baduy esok paginya. Mamas sedih karena harus meninggalkan Kakak Abyan yang sudah tertidur di rumah kakek. Hanya dengan cara itu kita bisa pergi tanpa diiringi tangis Kakak Abyan.

Satu lagi perjalanan backpacking kita yang belum selesai ibu tuliskan. Saat kita bertiga di bulan puasa 2013, dari Serang kita naik bis ke Bandung, lalu lanjut ke Cibodas, Bogor dan Jakarta. Ibu mencoba menuliskannya menjadi cerita ber-seri. Satu angle di setiap postingan. Terlalu banyak yang ingin ibu tuliskan sehingga harus dibagi dalam banyak part (bagian). Semoga, saat kalian dewasa dan membacanya nanti, bisa menjadi pintu menuju nostalgia bahagia bersama ibu saat kalian masih anak-anak.

Dear sons,

Sampai di bagian ini, tak terasa sudah lebih dari 1000 kata ibu tuliskan surat cinta buat kalian. Bukan semata untuk proyek #DearSon sebagai tugas bergulir dari member ke member seperti tongkat estafet di grup KEB. Tetapi juga sebagai ungkapan rasa yang ibu punya tentang kalian.

Sekarang, hidup kita sudah lebih baik dibanding 2 tahun lalu, masa-masa suram itu. Saat dimana kita hanya dekat dalam bentuk fisik, tapi hati kita jauh. Jiwa kita berpencar tak tentu dimana. Saat ini dan seterusnya, semoga kita bisa terus dan terus dan terus bersama. Melakukan perjalanan backpacking bersama. Hanya dengan cara itu ibu menebus semua dosa-dosa ibu kepada kalian.

Karena di moment backpacking itulah kita bisa memiliki quality time. Ibu senang bisa menggendong Kakak Abyan saat kakak mulai lelah, saat tangan Kakak Abyan merangkul leher ibu, saat itu hati kita rekat satu sama lain. Ibu senang hiking bersama Mamas Daffa’ di jalan setapak yang licin, saat tangan kita saling berpegangan, saat itulah hati kita berpelukan.

Dan ibu terharu saat kita duduk bersama-sama di suatu tempat yang jauh yang menjadi tujuan kita. Kalian mencium pipi ibu dan berkata; “Terimakasih ya Ibu, sudah ajakin Mamas & Kakak kesini”

Dear Sons,

Sekali lagi ibu mau minta maaf, karena ibu bukanlah sosok ibu yang sempurna. Ibu tak mengirim kalian ke sekolah favorit seperti yang ibu-ibu lain lakukan. Ibu tidak belajar ilmu parenting demi menjadi madrasah pertama bagi kalian agar kalian menjadi pribadi yang baik. Ibu malah memilih mengajak kalian berpetualang yang kata orang ini adalah kegiatan tak bermanfaat.

Tapi ibu punya keyakinan sendiri. Dalam setiap petualangan, kita bisa berlajar bersama. Mengajari kalian menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Jika kalian bertanya mengapa, ibu akan menujukkan kepada kalian sebuah sungai yang kadang kita jumpai penuh sampah. Tumpukan sampah itu yang kemudian menjadi penyebab banjir, Nak.  Ibu ingin mengajarimu peka dan saling menolong terhadap sesama dengan sekedar memberi uang kecil kepada pengamen. Ibu ajari kalian berdoa dalam hati agar Allah berkenan dan memberi kemurahan rizky seraya tanganmu di atas hendak menjatuhkan recehan ke dalam kantong plastik pengamen itu.

Ibu juga ingin mengajari kalian untuk mandiri. Bahwa hidup ini sulit dan penuh perjuangan. Lihatlah mereka anak-anak sebaya kalian, Nak. Berjuang mencari uang di jalanan. Bersyukurlah dalam kondisi ekonomi kita meski penuh keterbatasan. Ah, ibu jadi ingat, dulu kalian suka membandingkan isi rumah kita dengan rumah teman kalian yang kaya itu. Kalian akhirnya minta dibelikan PS, minta AC, minta ranjang dan meja belajar yang bagus. Sekarang kalian berubah drastis ya, pertanyaan kalian sekarang justru tentang kerinduan akan backpaking bersama lagi. “Ibu, kapan kita jalan-jalan lagi?”

Oya, ibu juga tak perlu marah-marah kepada kalian lagi sekarang. Karena saat sore hari ibu tiba di rumah setelah pulang kerja. Kalian akan bekerja sama membantu menyenangkan hati ibu. Melepaskan kaus kaki ibu, mengambilkan ibu minum air putih, memberi pijatan kecil di kaki dan kepala ibu. Ibu bahagia sekali memiliki kalian, Nak.

Kebersamaan kita sekarang, di rumah, penuh dan bertabur kata-kata cinta. Beberapa orang bilang kita lebay. 😆 Tapi buat ibu, ini sesuatu yang indah. Manis! Kalian setuju kan, Nak?

“Ibu sayang Mamas,” ibu sering bilang begitu bahkan saat kita sedang sama-sama sibuk dengan gadget masing-masing.

“Mamas sayang Ibu,” begitu jawaban Mamas Daffa’ untuk ibu.

Lalu bergantian, ibu akan bilang “Ibu sayang Kakak”, dan Kakak Abyan menjawab “Kakak sayang Ibu.”

Oya, Sons. Sekarang di keluarga kita bertambah anggota baru. Ada Abi yang akan mengisi figur ayah buat kalian. Bagaimana jika kita tularkan virus kata sayang ini pada Abi. xixixi 😆 Ibu jadi geli sendiri. Abi kan salah satu orang yang bilang kita lebay.

Nah kan jadi ngaco surat cintanya… Udahan dulu ah, terimakasih mak Hana sudah memberiku tongkat estafet #DearSon selanjutnya silaken tongkat estafet ini saya lempar ke mak Elisa Koraag. Terima kasih banyak yang mau meluangkan waktunya membaca dari awal sampe akhir. Ini puanjaaang banget! 1702 kata. WOW!!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.