Deadline & Pelajaran Berharga Menuju Belitung

Udara dingin yang berembus dari lubang-lubang AC mengisi paru-paruku. Tiap bagian tubuhku terasa dingin. Aku mencoba melawan dengan melipat kedua lengan di depan dada. Lalu berusaha tertidur di dalam bus yang tengah membawaku ke bandara pagi itu. Sayangnya, usahaku sia-sia.

Dalam mata terpejam, otakku justru semakin terjaga. Teringat deadline blog yang hanya tersisa 12 jam lagi. Sementara aku belum memulai menulis satu kata pun. Ingatan tentang deadline lalu mengantarku pada perasaan-perasaan khawatir. Menjadi ketakutan yang mengakar dalam hati. Akan jadi apa liburanku kali ini? Liburan dengan membawa tanggung jawab deadline?

Kubuka lagi kelopak mata yang sebenarnya memang tidak mengantuk. Kulirik seorang lelaki yang duduk di sebelahku. Di pangkuannya ada sesosok anak kecil tengah terlelap di dadanya. Dua lelaki yang tak lain adalah suami dan anakku.

Menyadari aku sedang menoleh ke arahnya, Ojrahar pun ikut menoleh. “Kenapa, Nu?” tanyanya.
“Aku ada deadline” jawabku singkat setelah menarik nafas yang terasa berat.

Kulihat Ranu menggeliat di pelukan bapaknya. Mungkin ia belum benar-benar lelap dan terganggu oleh suara obrolan singkat kami. Ojrahar segera mengusap lembut punggung Ranu agar anak lelakinya itu kembali tenang. Kurasa dia tau bahwa aku akan memanfaatkan waktu menuju bandara untuk menulis. Kalau Ranu sampai terbangun, pasti inginnya pindah ke pelukanku dan minta menyusu. Kalau itu terjadi, aku bukan saja tak bisa menulis, tetapi juga kesulitan bernafas, duduk di dalam bus dengan kondisi hamil 5 bulan, ditambah memangku anak usia toddler. Terbayang engap-nya?

Suara milik siapa itu?

2 jam kemudian, bus yang kami tumpangi sampai ke terminal 2F bandara Soekarno Hatta. Tulisanku baru sampai pada beberapa paragraf pembuka saja.

Aku berharap bisa melanjutkan tulisanku setelah check-in. Sembari menunggu panggilan boarding pesawat Sriwijaya yang akan mengantarkanku ke Belitung. Di kursi yang masih kosong, aku mencoba duduk dengan tenang. Kembali khusuk dengan ponsel dan mengetikkan kata demi kata. Sampai kemudian aku mendengar seseorang berbicara.

Kata-katanya nyaring. Mengalahkan suara alunan musik, iklan komersial televisi dan pengumuman petugas bandara yang saling bersahutan di ruang tunggu.

Noe, sebenarnya apa yang kamu cari?
Apa yang sedang kamu kejar?
Deadline tulisan lomba dengan hadiah sejumlah uang itu?
Untuk apa? Untuk siapa?
Coba berpaling sejenak pada lelakimu
Sekuat hati dia memanjangkan sabar
Menjaga seorang anak yang sejak tadi lebih banyak mengeluarkan suara tangis dari pada tawa
Mereka butuh kamu
Juga janin dalam kandunganmu
Untuk deadline-deadline itu, bukan kah masih ada waktu?

Tiba-tiba kurasakan tanganku melemas, lalu terjatuh ke pangkuan. Nafasku sesak. Kepalaku berat. Pusing. Ini kah yang disebut stres?

Jika ya, berarti aku sudah terlalu sering mengalaminya. Dan seharusnya aku sudah belajar dari pengalaman dan tak perlu terlalu sering merasakannya lagi dan lagi.

Sayangnya, aku ini hanya manusia. Sepanjang dan sebanyak apa pun pengalamanku dalam dunia blogging, seberapa pun prestasi yang mungkin pernah kucapai, aku tetap lah manusia. Ada saat dimana aku berada di masa jenuh. Merasa tak punya ide untuk menulis. Kehilangan motivasi. Hingga merasa mual-mual setiap kali teringat atau mendengar kata blog. Semacam alergi.

Hal-hal semacam itu yang memang sedang kualami, sehingga menjelang deadline aku belum menulis apa-apa.

Banyak orang bilang, mungkin itu karena bawaan hamil. Yha, agar bahasan tak terlalu panjang, aku mengiyakan saja anggapan mereka. Tetapi dalam hati kecilku aku tau satu hal. Aku lelah.

Aku takut ia juga lelah

Aku terlalu lelah menjalahi hari-hari sebagai blogger selama 2 tahun terakhir. Tahun dimana aku kehilangan jati diri. Lupa pada niat awal membuat blog. Dan blogku kehilangan sisi personalnya karena aku lebih banyak menulis berdasar pesanan. Menulis karena dibayar. Parahnya, aku sering asal copy dan paste tulisan content placement yang diberikan agensi, lalu mempublishnya begitu saja. Dengan dalih … “kebutuhan”.

Ya, memang tak dapat kupungkiri. Blog sangat membantuku mencukupi biaya hidup yang tak ada habis. Tak hanya dari paid post, tetapi juga hadiah-hadiah lomba blog yang bisa kumenangkan. Walau harus kubayar mahal dengan perjuangan. Walau harus kubayar mahal dengan berfokus pada ngeblog saja jika sedang deadline, dan mengabaikan banyak hal penting lainnya.

Seperti yang terjadi hari itu, Sabtu 15 April 2017. Hari yang seharusnya menjadi awal perjalanan yang menyenangkan untuk liburan di Belitung bersama keluarga, malah kurusak demi mengejar deadline, demi lomba, demi hadiah sejumlah uang yang ditawarkan. Telingaku menjadi tuli pada tangisan bayi yang ingin ditemani bermain, mataku menjadi buta pada lelaki yang juga punya hak untuk beristirahat barang sejenak dari urusan anak, hatiku menjadi keras dan menganggap bahwa memang sudah seharusnya mereka mengerti apa yang sedang kulakukan.

Ya, Ojrahar yang kukenal memang selalu mengerti. Tetapi aku juga harus ingat bahwa ia juga manusia. Dia juga pasti bisa lelah seperti aku. Bagaimana kalau sampai dia merasa lelah, lalu menyesal memilihku sebagai teman hidupnya? Hiy! Aku tak sanggup membayangkan. Belum lagi bayangan anak-anak yang akan tumbuh tanpa kenangan manis tentang ibunya. Bagaimana kalau yang mereka ingat nanti ketika dewasa, adalah sosok ibu yang selalu sibuk sendiri dengan urusan kerjaan di gadgetnya? Naudzubillah. Astaghfirullah.

Memperbaiki keadaan

Lekas-lekas kusimpan smartphoneku ke dalam ransel. Kemudian beranjak dari tempat duduk dan menghampiri abang Ranu yang tak mau berhenti bermain di tangga.

Sejak memasuki ruang tunggu bandara, dia langsung excited ketika melihat anak anak-anak tangga untuk turun menuju toilet. Berlari-lari lah dia ke sana. Naik dan turun. Terus saja seolah tak ada capeknya. Sekali saja Ojrahar mencoba mengendongnya, dan berusaha mengalihkan perhatiannya agar tidak lagi bermain di tangga, dia pasti menangis.

Entah kenapa, anak itu sangat tergila-gila pada anak-anak tangga. Walau kadang kesal karena capek menemani dan menjaganya, tapi aku dan Ojrahar berusaha memahami bahwa dia memang sedang masanya senang explore. Harus sabar. Sabar!

Jadi, sebelum melangkah menghapiri mereka, aku mencoba menarik nafas panjang. Membiarkan udara memenuhi rongga dada agar merasa lapang. Dan mencoba tersenyum untuk melepas stres dan sejenak melupakan deadline. Benar saja, sedetik kemudian aku merasa lebih baik. Terlebih saat kulihat binar mata abang Ranu ketika dia melihat aku menghampirinya.

“Sayang abang, udah dulu yuk mainnya. Ikut ibu ke toilet, yuk!” sapaku saat kami sudah tidak lagi berjarak.

Kugandeng jemari kecilnya dan kuajak berjalan beriringan. Menuruni anak tangga yang mengarahkan kami menuju kamar kecil. Aku perlu mencuci tangan dan mengusap wajah Ranu dengan air, karena kulihat ia sudah terlihat kucel.

Dalam perjalnan menuju toilet yang jaraknya tak sampai 10 meter, tak kudengar lagi tangisan rewelnya. Berganti sudah dengan tawa yang riang.

Entah apa yang membuatnya begitu gembira. Kalau boleh kucoba umpamakan, ekspresi senangnya abang Ranu saat menuruni anak tangga bersamaku, sama seperti ekspresi bahagia gadis remaja saat menerima sepucuk surat cinta, atau sebatang coklat dengan kacang mede di hari valentine. Bahagia yang membuatnya bisa berteriak dan melompat kegirangan. Tetapi apapun itu, aku senang jika anakku riang.

Dan bukankah memang begitu lah seharusnya seorang ibu. Meletakan kebahagiaan anak-anak di atas segalanya.

Di dalam toilet, kubasuh tangan abang Ranu di wastafel. Sambil kugendong dan kuajak ia bicara.

“Maafin ibu ya, sayang. Dari tadi udah cuekin abang. Huhu, tega banget ya ibu ini. Masa anak seganteng abang dicuekin. Huhu…” ucapku sambil menciumi keningnya berkali-kali.

Walau aku tak yakin apakah dia mengerti kata-kataku atau tidak. Tetapi setidaknya meminta maaf membuatku merasa lebih lega. Ya, buatku, meminta maaf dan mengakui kesalahan adalah cara paling efektif untuk bisa menerima bahwa aku hanya manusia dengan banyak kekurangan yang bisa berbuat salah, sehingga aku juga bisa lebih mudah memaafkan orang lain saat merasa tersakiti.

Dan bila melihat bagaimana abang Ranu hanya tersenyum saat aku meminta maaf padanya, dengan sepasang matanya yang bening dan penuh binar, aku merasa ia sedang menunjukkan padaku bagaimana seharusnya bersikap ketika orang lain sedang meminta maaf penuh sesal. Seolah ia sedang bicara dengan hatinya, “iya, Bu, mari kita lupakan apa yang sudah terjadi, yang penting sekarang kita berusaha menjadikan suasana menjadi lebih baik. Kita kan mau liburan, ngga boleh sedih atau marahan. Ok!”

Membayangkan abang Ranu bicara sebijak itu, aku malah jadi semakin ingin menangis. Buru-buru kubasuh wajahku untuk menyamarkan air mata yang tak bisa kutahan. Lalu susah payah aku berusaha mengatur emosi agar bisa kembali ke ruang tunggu tanpa raut wajah yang kusut.

Menemukan makna

Tak lama setelah aku kembali dari toilet, panggilan boarding terdengar lewat pengeras suara. Aku dan Ojrahar segera masuk ke dalam antrian pemeriksaan tiket akhir sebelum menaiki pesawat.

Kuperiksa boarding pass yang kudapat dari counter check-in, lalu tersadar bahwa ternyata pesawatku delay 30 menit lebih. Dan itu artinya, kami baru akan mendarat di bandara H. AS. Hanandjoedin Tanjung Pandan sekitar jam 5 sore. Padahal semula dijadwalkan pesawat akan mendarat jam 4 lewat 20 menit.

Rencananya setibanya di Belitung, kami ingin jalan-jalan sore sambil kulineran. Tetapi delaynya pesawat membuatku merasa bahwa Tuhan sayang padaku. Aku merasa Dia sedang memberiku kesempatan kedua untuk bisa memperbaiki keadaan. Agar aku tetap bisa menikmati liburan dengan menyenangkan namun tetap bisa menyelesaikan deadline. Iya, aku rasa begitu. Maka aku tak perlu berfikir dua kali untuk mengubah rencana.

“Bi, sore dan ini kita ngga usah jalan-jalan, ya! Nanti kita langsung cek-in aja ke hotel dan istirahat. Cari makan malem deket hotel, trus aku mau seselain tulisan kalau Ranu udah bobo” usulku pada Ojrahar yang hanya menjawab dengan satu kata saja.

“Ok!” katanya.

Jadi hari itu, di awal perjalananku menuju Belitung, ternyata aku telah belajar banyak hal. Utamanya tentang menerima dan memaafkan diri sendiri, dan tentang menghargai dan menjaga apa yang masih kumiliki di dalam hidup. Lalu merasa bersyukur karena memiliki dia, lelaki terbaik untuk menemani sisa perjalanan hidupku.

Dan begitulah perjalanan, seharusnya membuat manusia bisa belajar lebih banyak, dan bersyukur lebih banyak.

11 thoughts on “Deadline & Pelajaran Berharga Menuju Belitung”

  1. Alhamdulillah ya mba, perjalanan selalu membawa makna tersendiri.
    Aku juga kalau nulis kadang nunggu ibuku tertidur, biar bisa menemani beliau. Memanfaatkan waktu bersama-sama jauh lebih penting.

    Terima kasih sudah mengingatkan sepanjang ini.

  2. Mbaaaakkk, ah, I feel u.
    Akhirnya kalau lomba, kalau emang dirasa susah dan “ngorbanin” anak-anak aku milih enggak ikutan aja.
    Sentilan juga buat aku supaya lbh memperbaiki manajemen waktu, semangaattt! 😀

  3. Huhuhu…Mbak Noe, tulisanmu begitu menyentil. Saya beberapa kali ada dalam posisi itu, dilema antara DL dan anak-anak.
    Untunglah, anak-anak sekarang udah besar, terkadang malah mereka yang mengingatkan saya untuk menulis.

  4. Saya juga sudah merasakan ini, dimana anak menjadi lebih pengertian, ketika ibunya sedang DL , padahal dia pengen bermain dengab ibunya.
    Akhirnya aku sadar bahwa yang lebih berharga adalah anak. Memang harus banyak bersyukur ya mak. Semangat terus.

  5. Pelajaran berharga ya Nu. Akupun, setiap kali keasikan sesuatu sampai (hampir) melupakan keluarga, bertanya lagi ke diri sendiri “semua ini untuk apa dan untuk siapa?” hee.

    Semangat terus, semoga perjalanan perjalanan berikutnya memunculkan pelajaran berharga lainnya ????????????

  6. Ketika DL manghampiri, orang2 tersayang disekitar kita jadi dilupakan dan itu pun saya rasakan.

    Sampai akhirnya putri kecil saya bilang, Ibu qo ngetik terus aku khan pengen main sama Ibu.. #nyesss

Leave a Reply