NOE's Mind

Daffa’ Start Blogging

Beberapa bulan lalu aku menerima sinyal warning dari guru wali kelasnya Daffa’ di sekolah SD. Katanya, kemungkinan tahun ini Daffa’ tidak bisa dinaikkan ke kelas 2. Alasannya Daffa’ masih belum bagus menulisnya. Masih lambat dan terlalu lama menyelesaikan tugas menulis di dalam kelas, sehingga tertinggal oleh teman-temannya yang lain. Aku tidak kaget saat mendengar pernyataan itu.

Iya, Daffa’ memang tergolong lambat di sekolah. Analisaku, mungkin ia kurang menyukai suasana sekolah. Atau bisa jadi aku yang kurang perhatian. (Jitak diri sendiri).

Satu hal yang aku herankan, Daffa’ sebenarnya termasuk anak yang bisa dengan cepat menyesuaikan diri dengan teman baru, lingkungan baru, atau hal-hal baru lainnya. Ini terbukti dengan mudahnya ia berinteraksi dengan teman-temanku jika kuajak dalam berbagai kegiatan. Mau membaca puisi saat kukenalkan ia dengan teman yang hobi puisi di komunitas Kelas Menulis Rumah Dunia, mau bermain dengan anak-anak lain seperti main bola, atau mainan lainnya. Dia ceria dan aktif. Tapi berdasar laporan guru, di sekolah Daffa’ pendiam dan tidak memiliki antusiasme seperti anak-anak lain.

Aku mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuatnya begitu di Sekolah? Apakah ada yang membullynya? Ataukah dia lebih suka belajar secara privat? Bukan di ruang kelas dengan satu guru yang perhatiannya terbagi ke banyak murid? Entahlah.

Satu hal yang masih membuatku senang adalah, Daffa’ tetap mau pergi ke sekolah setiap hari. Tidak mogok. Dan, Daffa’ tetap mempunyai kelebihan yang bisa membuatku bangga, yaitu menghormati orang yang lebih tua; peka, penyayang, dan perhatian; membuang sampah pada tempatnya; mau mengantri; mau mendengar nasehat; dan suka membaca.

Dan aku percaya, prestasi akademik bukan satu-satunya penentu kesuksesan.

Walaupun memang aku tidak boleh menjadikan kalimat itu sebagai pembelaan diri untuk aku sebagai seorang ibu yang tidak sempurna. Seharusnya aku mencari cara yang efektif untuk membantunya belajar.

Kenyataannya, aku sangat malas. Aku malah lebih suka mengajaknya jalan-jalan. Berinteraksi dengan alam, melihat kehidupan, atau mengenal teknologi melalui berbagai hal yang bisa kami temui di luar rumah.

Aku berharap dari kegiatan itu Daffa’ akan menemukan ketertarikan untuk belajar sesuatu yang lebih spesifik. Misalnya, saat naik pesawat, dia sempat mengatakan bahwa ia ingin jadi pilot. Atau gara-gara menonton film 5 cm, dia jadi ingin mendaki gunung. Atau juga ketika going abroad, dia kemudian ingin belajar bahasa inggris.

Aku tau, anak-anak memang gampang sekali bergonta-ganti cita-cita. Tergantung stimulus apa yang dia terima dan ditangkapnya. Pertanyaannya, sejauh apa orang tua mendukung cita-cita, atau sebut saja potensi anak?

Aku mengaku sejauh ini cenderung menelantarkan potensi anak-anakku. Aku agaknya tertampar ketika seorang teman blogger bercerita tetang bagaimana ia mendukung anaknya belajar. Setiap bulan, ia memberi 1 rim kertas HVS untuk anaknya. Terserah kertas itu akan diapakan. Digambar, dibuat hiasan, untuk belajar seni melipat kertas, atau disobek-sobek sekalipun. Lama-kelamaan, si anak terbiasa dengan kertas dan menggambar. Lalu si ibu mengajari anaknya membuat blog untuk menulis dan membagi hasil belajarnya dengan kertas-kertas itu. Sst…, anak itu masih berusia 7 tahun!

Iya, aku tertampar. Daffa’ juga umurnya 7 tahun. Tapi apa yang sudah aku ajarkan untuk membuka potensinya?

Screenshot_2014-06-16-09-04-55-1

Dari situlah aku mencoba mengajak Daffa’ untuk start blogging. Daffa’ menyambut baik ajakanku. Dan inilah hasil belajar kami… www.daffastory.blogspot.com

Aku berharap, blog ini menjadi awal untuk Daffa’ dalam menemukan passion hidupnya. Membuka potensi sehingga masa depannya lebih terarah. Aamiin…

Nanti, aku ingin bercerita lagi step by step yang kami lakukan untuk membuat blognya Daffa’, bagaimana Daffa’ mendapat ide menulisnya, dan bagaimana Daffa’ menuangkan idenya dalam postingan blog. Doakan kami tak lelah untuk belajar ya… terima kasih banyak. 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.