Cerita Medan part.3 Wisata Singkat di Pulau Samosir

Pulau Samosir, Tanah Batak yang eksotis. Wisata adat dan budaya yang sangat kental dan menarik untuk dijelajahi. Ada makam raja Batak, museum Batak, rumah bolon & patung sigale-gale di Tomok. Tidak hanya itu, Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba ini juga memiliki banyak spot untuk wisata alam, seperti danau di atas danau yang sudah banyak dikenal kalangan backpacker yang senang dengan wisata alam.

Sayangnya aku tak punya waktu banyak untuk menjelajah Pulau Samosir. Pada Minggu,16 Juni 2013, aku hanya menghabiskan hanya sekitar 2 jam saja untuk berwisata di tomok. Mulai jam 8 pagi aku dan teman-teman check out dari penginapan yang letaknya tidak jauh dari lokasi makam raja Sidabutar di Tomok. Hanya 5 menit berjalan kaki, aku sudah bisa sampai ke sebuah Makam Batu yang letaknya hanya beberapa meter saja dari jalan raya.

Ada dua makan Raja Sidabutar di Tomok. Yang pertama aku kunjungi, yang letaknya di tepi jalan raya ini adalah Makam Raja Sidabutar I. Disini, terdapat sebuah peti dari kayu tempat jenazah dimakamkan. Di sisi kanan dan kiri peti, terdapat patungvgajah berwarna putih.

Sebenarnya yang unik di makam Raja Sidabutar I ini adalah patung batu yang dibuat melingkar, seperti orang-orang yang sedang berkumpul untuk mermusyawarah. Ada juga kursi dan meja yang terbuat dari batu. Mugkin inilah sebabnya, kenapa makam ini dinamakan makam batu.

Selesai melihat-lihat dan mengambil foto, aku dan teman-teman melanjutkan perjalanan pagi itu. Berjalan lebih ke dalam, menjauhi sisi jalan raya. Disini, terdapat rumah bolon, rumah adat Batak. Di depan rumah bolon ini, berdiri sebuah patung yang sangat terkenal di Samosir. Patun ini bisa berjoget dengan diiringi alunan musik khas Batak. Namanya, patug sigale-gale. Sayangnya, saat aku kesana, hari masih terlalu pagi. Pertunjukan patung sigale-gale belum dimulai. Jadi aku harus cukup puas berfoto bersama patung Sigale-gale yang sedang beristirahat itu.

Selanjutnya, aku dan teman-teman berjalan lagi, menuju Museum Batak. Museum ini berisi benda-benda peninggalan suku Batak pada zaman dahulu. Aku tidak terlalu banyak memperhatikan benda-benda tersebut, tapi yang paling menarik perhatianku adalah pernak-pernik pajangan yang terbuat dari kayu, uang dipamerkan di ruangan belakang dari museum ini. Banyak sekali ragamnya, dan yang palin mendominasi yaitu cicak. Menurut penjaga museum, cicak memiliki filosofi sebagai mahluk yang dapat hidup dimana saja.

Di dalam museum, aku sempat mencoba memakai pakaian ada Batak, yaitu ulos. Pakaian untuk wanita terdiri dari 3 lembar kain ulos. Satu lembar ulos lebar untuk dilingkarjan ke badan sebatas dada, dan 2 lembar ulos ukuran selendan untuk di selempangkan di kedua bahu. Setelah ketiga ulos ini melekat di badan, lalu diikat dengan tali di bagian pinggang. Cantik!

Sedangkan pakaian untuk laki-laki, cukup 2 lembar ulos saja. Satu untuk dililitkan sebatas pinggang, dan satu lagi untuk diselempangkan di salah satu bahu. Corak ulos untuk perempuan dan laki-laki pun berbeda. Untuk laki-laki biasanya warnanya lebih gelap.

Sebagai pelengkap, untuk laki-laki diberikan tambahan togkat raja. Tongkat ini terbuat dari kayu yang di bagian atasnya dibuat pahatan berbentuk lelaki yang memanggul anak-anaknya. Yang mengandung filosofi bahwa, anak-anak harus bisa lebih sukses dari orang tuannya. Pada zaman dahulu, tongkat inilah yang menjadi simbol bahwa yang memilikinya adalah raja dan atau ketua adat yang harus dihormati.

Dari museum Batak, aku dan teman-reman lalu beranjak ke Makam Raja Sidabutar II. Letaknya masih dalam satu kawasan di Tomok. Makam yang ke-II ini agsk berbeda dengan makam batu. Jika makam batu dibiarkan terbuka, tanpa pagar dan tanpa penjaga, artinya siapa saja bebas masuk. Makam Raja Sidabutar II, di sekelilingnya dipagari dengan pagar beton. Untuk masuk ke makam ini, pengunjung harus mengenakan ulos. Di dalam kawasan makam, terdapat bangku untuk para pengunjung duduk dan mendengarkan penjelasan pemandu.

Aku tidak berlama-lama disini. Karena ternyata kawasan makam ini mulai ramai. Kebanyakan pengunjung adalah orang-orang Batak yang berziarah. Mereka berombongan dan disertai seorang pemandu. Aku dan teman-teman memilih untuk segera meninggalkan makam agar tidak menggangu mereka yang hendak berziarah ke makam lelulurnya.

Sebelum meniggalkam Tomok, kami sempat berbelanja souvenir disini. Matahari mulai meninggi, waktu sudah mendekati pukul 10. Toko-toko souvenir yang tadi pagi masih tutup, saat kami lewati untuk menuju museum batak dari makam batu, sekarang sudah mulai buka. Aku tergoda untuk membeli kaos dengan gambar dan tulisan “Lake Toba”. Harganya lumayam murah, hanya Rp30.000,- saja.

Tepat pukul 10, aku bersama teman-teman meluncur dengan mobil avanza yang kami sewa dari Medan. Meninggalkan Pulau Samosir, lewat Pangururan. Singkat sekali waktu untuk mengeksplorasi Tomok. Namum demikian, temapt ini meninggalkan jejak kenagan dalam hati. Mengenal sejarah dan budaya Batak, satu dari sekian banyak suku yang menjadi kekayaan dan kebanggaan Indonesia.

Rute & Biaya

Untuk rute transportasi umum menuju Tomok, bisa dilihat dalam postingan itinerary 3D2N di Medan – Sumut.

Biaya masuk museum Rp3.000,- per orang

Biaya sewa baju adat di museum Rp10.000,- per orang

Donasi seiklasnya untuk kotak sumbangan di makam dan patung Sigale-gale.

Leave a Reply