Cerita Medan Part.2 Selamat datang di Samosir

prapat
Panorama Pratat, view from kapal ferry

“Monyet…, monyet!”

“Aih.., lucunya!”

“Hahaha…”

Suara –suara histeris dan tawa itu membangunkan aku dari tidur-tidur ayam dalam perjalanan dari Medan menuju Samosir. Ada apa? Aku mencari tau. Mengernyitkan dahi melihat teman-temanku di dalam mobil tertawa-tawa sambil melempar pandangan kearah luar di kanan jalan. Rupanya kami sudah sampai di Prapat. Prapat adalah kota pelabuhan yang terletak di sisi danau Toba. Setidaknya ada 3 pelabuhan disini, yaitu Pelabuhan Ajibata, Pelabuhan Tigaraja dan Pelabuhan Reguler. Kami akan menyeberang dari Pelabuhan Ajibata, karena hanya disinilah terdapat kapal untuk menyeberangkan mobil. Ongkosnya untuk mobil jenis family car hanya Rp95.000,-. Sedangkan pelabuhan Tigaraja dan Reguler hanya untuk penumpang (orang) saja. Kapal-kapal dari tiga pelabuhan ini akan berlabuh di Tomok, sebuah desa kecil di pesisir timur pulau Samosir. Dan satu-satunya pelabuhan di Pulau Samosir adalah di desa Tomok ini.

Sebelum sampai di Pelabuhan Ajibata, memasuki daerah Prapat kami melewati jalan yang berliku. Disisi kiri jalan adalah hutan dengan kondisi tanah yang miring. Aku fikir jalan yang kami lewati ini berada di sisi bukit. Pohon-pohon tumbuh lurus menjulang tinggi. Jarum pendek di arlojiku sudah mendekati angka tiga. Matahari masih bersinar. Terlihat cahayanya menembus rimbun dedaunan. Pemandangan lurus kedepan searah mobil melaju, aku melihat bukit-bukit hijau kekuningan. Membius mata, membuai rasa. Dan di kanan jalan, terlihat pembatas jalan dari beton untuk mencegah longsor. Di sepanjang pembatas jalan tersebut banyak monyet-monyet yang keluar dari hutan.

Merupakan suguhan alam yang sempurna bagiku. Mobil masih terus melaju di jalan berliku. Sayangnya kami tak bisa berhenti meski sejenak, karena ini adalah jalur cepat. Akan bahaya jika berhenti karena bisa saja terjadi kecelakaan lalu lintas. Meski sangat ingin rasanya aku membidikan lensa kamera ke arah monyet-monyet yang berjajar di pinggir jalan itu. Mereka benar-benar lucu. Ada yang saling menggaruk, ada yang sibuk dengan makanannya, dan ada yang sekedar duduk, diam dan memperhatikan mobil-mobil yang lalu lalang. Menyaksikan itu membuat kantukku hilang.

Telur bebek

Mobil kami perlahan meninggalkan kawasan hutan monyet itu. Sekarang pemandangan berganti dengan hamparan danau Toba. Di tepi danau banyak dibangun hotel-hotel berbintang dan resort. Ingatanku terbang lagi ke daerah yang setiap hari aku sambangi, Anyer. Garis pantai memanjang menghadap selat Sunda yang ramai karena menjadi destinasi wisata. Banyak juga hotel berbintang serta resort. Prapat ini juga pasti menjadi destinasi wisata favorit disini. Dan tentunya bagi yang berduit. Kalau aku sih, cari penginapan murah saja. 😀

Tepat pukul 3 sore, mobil kami memasuki halaman parkir Pelabuhan Ajibata. Pelabuhan ini tidak terlalu besar. Luasnya kira-kira tidak lebih dari lapangan bola. Satu persatu kami turun dari mobil. Berdiri berkumpul di dekat mobil. Memperhatikan sekeliling. Banyak warung dan rumah makan. Di emperannya banyak juga pedagang asongan menjajakan bermacam barang yang biasa dijual keliling di pelabuhan. Ada kacamata, ikat pinggang, topi, dan pernik souvenir.

Angin bertiup kencang dari arah danau Toba. Aku lupa mengenakan jaket. Terasa dingin dan membuat gigil. Kembali aku masuk kedalam mobil untuk mengambil jaketku yang tersampir begitu saja di sandaran jok. Lalu segera bergabung kembali dengan teman-teman yang mulai sibuk jeprat-jepret dengan background Danau Toba dan plang pelabuhan. Aku pun tak mau ketinggalan.

Bon Apetit!
Bon Apetit!

Puas berfoto, kami masuk ke warung makan yang letaknya persis di pinggir danau. Perut sudah gaduh karena jam makan siang sudah terlewat tanpa menyantap nasi. Sayangnya warung tersebut hanya menyediakan makanan dari mie. Ada mie ayam serta bakso. Mie instant rebus dan goreng juga dilayani jika kita memesan. Ah, bagaimana ini! Sedang tak ingin makan mie, apalagi perut kosong. Akhirnya aku hanya memesan segelas teh manis. Sementara yang lain memesan mi instant rebus dan popmie. Ah! Nanti aku icip-icip aja ya.

Sejak sebelum masuk warung makan ini, aku melihat ada seorang anak kecil duduk di warung kaki lima didekat dermaga. Ia sedang memakan telur rebus. Ini menarik perhatianku karena cangkang telurnya berwarna putih. Telurnya nyaris bulat seperti telur bebek, tidak selonjong telur ayam. Kuning telurnya juga berwarna lebih orange tua. Semakin penasaran. Itu telur apasih? Pingin ih.

Di dalam warung ini pun aku melihat beberapa orang yang sedang menikmati menu makan sorenya dengan telur itu. Bertambahlah rasa inginku untuk mencicipi juga. Lalu datang pelayan warung mengantarkan pesanan kami. Tentu saja tak kusia-siakan kesempatan ini.

“Kak, telur yang seperti itu ada?” aku menunjuk pada orang-orang di meja yang lain tak jauh dari meja tempat kami duduk.

“Tak ada disini, biasanya itu ada di pedagang keliling.”

Aku merengut mendengar jawabannya. Tak lama, seorang ibu-ibu seusia paruh baya menghapiri. Ia membawa ember dan mangkuk besar. Ember itu berisi kacang rebus, sementara mangkuknya berisi telur! Moodku membaik.

“Inang, ini telur apa?”

“Telur bebek. Mau beli?”

“Kok warna kulitnya putih?” aku masih penasaran. Bukankan seharusnya telur bebek warna cangkangnya kebiruan?

Si ibu penjual tidak menjawab. Dari logat bicaranya, aku curiga dia agak susah berbahasa Indonesia.

“Berapa harganya ini, Inang?”

“Dua ribu lima ratus.”

Tanpa basa-basi lagi aku mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu. Kuambil 4 butir telur dari mangkuk di tangannya. Wajahku sumringah. Tak sabar ingin menyantap telur-telur itu. Yummy! Telurnya masih panas. Kuning telurnya tanpa rasa amis. Aku memang penggemar telur sejak kecil. bahkan meskipun amis, aku akan tetap melahapnya. 😀

Sambil menikmati telur, aku dan yang lain sibuk dengan gadget. Mungkin benar kata orang, teknologi bisa mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. Ckckck! Tapi lucu juga, saking asiknya aku dengan android, Damay membidikkan kameranya ke arahku. Aku tertawa geli melihat ekspressi muka sendiri, sebegitu asiknya sampai tak sadar mulutku mencucu. Suasana menghangat di dalam warung makan, di tengah angin kencang Danau Toba.

Pengamen yang sopan

Pengamen cilik di kapal ferry
Pengamen cilik di kapal ferry

Tak terasa, waktu menunggu telah berlalu. Halaman parkir dermaga sudah penuh oleh kendaraan yang hendak menuju Samosir dengan kapal ferry. Kami bergegas meninggalkan warung naik ke kapal. Kapal ferry disini tidak terlalu bersar. Di bagian bawah tempat untuk kendaraan, dibiarkan melompong tanpa atap. Sedangkan untuk penumpang, jika ingin duduk, di sediakan satu ruangan kecil di bagian atas. Ukuran ruangan penumpang ini pun ukurannya hanya sekitar  3 x 8 meter.

Kami duduk di ruangan penumpang ini, sambil menikmati kacang rebus yang tadi sempat dibeli oleh Nida sebelum naik kapal. Kapal mulai berangkat. Angin kencang masih saja membuat aku mengigil karena masuk dari jendela yang kacanya terbuka. Baringsut aku pindah ke kursi yang jendelanya kacanya tertutup rapat.

Dalam perjalanan ini aku mendambakan bisa menikmati sunset sebagai pelengkap indahnya panorama danau Toba yang dikelilingi bebukitan. Sayangnya cuaca sedang mendung. Maka meskipun hari sudah mendekati magrib, tak ada semburat jingga di cakrawala. Meski begitu, ada hal lain yang tetap bisa menghibur kami. Ketika tiba-tiba 2 orang anak kecil menghampiri, mereka meminta ijin untuk bernyanyi. Sopan sekali mereka. Mengamen saja minta ijin.

Tersesat di Samosir

Sekitar satu setengah jam perjalanan, kami lalu tiba di Tomok. Gelap sudah menyelimuti hari. Suasana ramai seperti pasar malam. Para penumpang kapal yang sibuk turun dari kapal. Di sambut sisi dermaga yang dipenuhi pedagang kaki lima. Hampir semua orang yang kulihat disini berwajah Batak, tidak seperti kota Medan yang didominasi melayu.

Masih di Tomok, di sisi-sisi jalan juga dipenuhi deretan warung. Beragam dagangan mereka. Dari mulai souvenir, kelontong, makanan ringan, serta lapo-lapo. Lagi, selalu ada hal yang menarik perhatianku setiap kali berada di tempat baru. Tidak seperti lapo yang sering aku lihat di tanah jawa yang cenderung tertutup. Lapo-lapo disini terbuka. Bangunannya semi permanen. Setengah tembok di bagian bawah dari batu bata, dan setengahnya lagi dari bilah-bilah papan yang bisa dilepas sehingga membentuk ruangan terbuka.

Di dalam lapo disediakan meja-meja dan kursi layaknya café. Orang-orang Batak biasa berkumpul di lapo ini. Usia mereka terlihat sebaya ibuku, 40-an. Terlihat asik sekali setiap kali mobil yang kami kendarai melewati lapo, pasti ada salah satu dari orang-orang dalam lapo ini yang memetik gitar, lalu yang lainnya menyanyikan lagu-lagu Batak. Usia yang menua ternyata tidak mematikan jiwa muda mereka. Ah, aku suka suasana seperti ini.

Malam di Pulau Samosir, tidak ada destinasi wisata yang bisa dikunjungi. Akhirnya kami hanya berkeliling dengan mobil. Menyusuri jalan dari Tomok sampai ke Tuk-tuk. Jendela mobil dibiarkan terbuka, AC mobil dimatikan. Kami menikmati angin malam di Pulau Samosir sambil berdiskusi. Apa yang akan kita lakukan malam ini? Ditemani suara-suara jangkrik bersahutan.

Kami memutuskan untuk mencari mushola, niat kami hendak menjamak solat magrib di waktu isya, dan rencanaya di mushala itu juga kami hendak menginap. Sayangnya, tak ada satupun mushala yang kami temui. Tentu saja, karena mayoritas orng Batak beragama kristen. Akhirnya kami berhenti di Tuktuk, di sebuah penginapan bernama Maroan Accomodation. Tempatnya cozy. Letaknya persis di pinggir Danau Toba. Suasananya jadi seperti penginapan di pinggir pantai.

Di penginapan ini, kami tidak langsung memesan kamar. Karena di bagian depan terdapat semacam cafe, kami malah memesan teh manis. Aku fikir ini benar-benar cafe, rupaya aku salah. Yang aku kira cafe itu rupaya adalah lobby penginapan. Untung saja pelayannya mau menyediakan teh yang kami pesan. Mungkin mereka fikir kami akan menginap juga.

tuktuk
Menikmati malam disisi Danau Toba

Sambil menunggu teh dihidangkan, kami berjalan menuju taman. Di samping lobby, jalan setapak membentuk tangga untuk turun ke sisi danau. Melewati tanaman bunga yang ditata apik. Di sisi danau, terdapat beberapa tempat duduk dari batu yang dibuat melingkari meja bundar. Lampu-lampu dengan cahaya temaram mebuat suasana menjadi romantis. Aku fikir, tempat ini cocok untuk bulan madu. Harga kamarnya pun murah, berkisar antara 70 sampai 150 ribu-an. bangunan kamar-kamarnya juga dibuat unik. Bagian atapnya dibuat seperti atap rumah bolon. Benar-benar rasa Batak.

Disini, sambil menikmati teh, kami kembali berdiskusi. Karena tak ada mushola, kami putuskan untuk menyewa satu kamar untuk tidur 4 backpacker cantik. Yang ganteng-ganteng harus legowo tidur di mobil. Ya, ini demi penghematan budget. Dan hal yang terpenting sebenarnya, kami dapat menggunakan kamar tersebut untuk sholat. Tetapi kami juga memutuskan untuk tidak menginap di Tuk-tuk. Padahal aku sudah jatuh cinta dengan penginapan maroan Accomodation ini.

Kami lalu kembali ke Tomok. Mencari penginapan disana. Pertimbangannya, esok paginya kami akan berwisata ke Makam Batu yang ada di Tomok. Melihat patung Sigale-gale yang bisa berjoget, dan masuk ke Museum Batak. Semua itu berada si satu lokasi. Selanjutnya kami akan langsung meninggalkan Pulau Samosir lewat Pangururan.

Leave a Reply