Sumatera Utara

Cerita Medan Part.1 Petualang selalu rindu rumah

Melva, aku, Damay & Nida
Melva, aku, Damay & Nida

Hari masih terbilang pagi ketika pesawat Mandala Air mendarat di Bandara Polonia Medan. Belum hilang rasa sakit di telinga karena tekanan udara saat pesawat yang aku tumpangi dari Jakarta terbang mengangkasa. Selama 2 jam perjalanan udara aku kembali memuaskan rasa kantuk dengan tertidur. Wajar saja, aku harus bangun jam 3 pagi demi terbang ke medan pukul 5 subuh. Dan aku terbangun saat pengumuman dari pengeras suara menghimbau agar seluruh penumpang hendaknya bersiap untuk landing. Sabtu pagi pukul 7.20 WIB, tanggal 15 Juni 2013, aku menginjakan kaki di tanah Medan.

Kuayunkan langkah menuju gedung bandara yang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan bandara Soekarno Hatta. Ramai. Aku terus berjalan mengikuti arus penumpang yang baru saja tiba dan hendak keluar bandara. Supir-supir taksi tampak begitu bersemangat menyambut. Menawarkan jasa, mengais rejeki sejak pagi.

Aku tengah asik memperhatikan sekeliling ketika tiba-tiba teman seperjalananku mengingatkanku untuk menghubungi seorang teman backpacker Medan yang akan menemani pertualangan kami selama 3 hari dua malam menjelajahi sebagian kecil Sumatra Utara. Tak lama setelah kukabarkan melalui whatsapp bahwa aku telah tiba di Medan, aku mendapat balasan. Aku segera meluncur ke Hotel Soechi International di Jalan Cirebon No. 76A, tempat yang ditunjuk oleh temanku sebagai meeting point kami pagi itu.

Beruntung hari itu aku bertemu dengan Ridha, seorang teman dari Jakata yang hendak pulang kampung untuk menjenguk neneknya yang sedang sakit. Maka aku, Tio dan Nida mendapat tumpangan gratis sampai ke Soechi Hotel. Sebenarnya, jika pun kami harus naik taxi, ongkosnya tidak akan terlalu mahal karena jarak dari bandara hanya 2.5 kilometer dengan ongkos taksi taksi hanya sekitar Rp30.000,- Jika ingin lebih murah bisa mencoba naik bentor (becak motor), alat transportasi umum yang hanya dapat ditemui di Sumatra Utara. Betor adalah kendaraan modifikasi dari sepeda motor yang disambungkan dengan badan becak di bagian samping sepeda motor. Tempat duduk di dalam badan becak dibuat berhadapan, sehingga penumpangnya bisa lebih dari 2 orang. Jika masih tak cukup duduk di dalam becak, satu penumpang bisa duduk di jok sepeda motor (dibonceng) di belakang pengemudi betor.

Setibanya di Soechi International Hotel, 4 orang teman sudah menunggu. Mereka adalah Alvie, Awi, Melva dan Damai. Jadi total kami ada 7 orang yang hendak backpacking bersama. Kami bersepakat menyewa mobil avanza untuk mengakomodir perjalanan kami. Dari sinilah petuangan kami dimulai.

Sarapan Lontong Sayur

Jam di tangan kananku sudah menunjukkan pukul 9 ketika kami selesai berembug. memutuskan bahwa hari itu kami akan langsung menuju pulau Samosir. Keputusan inilah yang akhirnya kami sesali, karena jarak dan waktu dari Medan ke Samosir sangat lama. Terhitung 6 jam perjalanan kami dari Medan sampai di pelabuhan Ajibata di Prapat. Kapal ferry menuju Pulau Samosir yang letaknya di tengah danau Toba dijadualkan berangkat pada pukul 17.45 dan tiba di Tomok (pelabuhan di pulau Samosir) pada jam 7 malam. Yup, hari pertama kami habis di jalan. Padahal kami punya pilihan itinerary yang lebih efektif untuk hari pertama, yaitu wisata ke  Berastagi, yang bisa ditempuh selama 2 jam dari kota Medan. Lalu dari Berastagi bisa lanjut ke air terjun Sipiso-piso yang jaraknya bisa ditempuh selama 1 jam. Baru pada sore harinya melanjutkan perjalanan ke Pulau Samosir. Lebih efektif bukan?

Namun meskipun keputusan yang kami ambil tidak efektif, bukan berarti perjalanan kami membosankan. Banyak hal seru yang meninggalkan kesan dan menjadi kenangan tak terlupakan.

Berada di kota Medan, aku merasakan suasana kotanya mirip dengan Bandung. Ruko-ruko di sepanjang jalan, hotel-hotel berbintang, bangunan bersejarah dan pusat perbelanjaan mudah ditemui. Dan sebagian besar orang yang aku temui di kota Medan adalah orang Melayu. Sama sekali jauh dari bayanganku sebelumnya bahwa Medan adalah Batak.

Lontong sayur Medan
Lontong sayur Medan

Kami sempat mampir untuk sarapan di warung nasi dan lontong di pinggir jalan. Perut yang kosong karena belum sarapan harus diisi terlebih dahulu sebelum menempuh perjalanan panjang. Kami memesan menu seragam. Lontong sayur. Ada yang unik lontong sayur di medan ini, yaitu ikan asin crispy yang menjadi lauk tambahan dan tersedia gratis dalam toples di atas meja.

Ibu-ibu penjualnya seorang muslim dan berkerudung. Ramah si ibu menyapa.

“Hendak pigi kemana?”

“Danau Toba, Bu.” jawabku sambil memperhatikannya menyiapkan pesanan kami.

“Lihat apa disana?”

“Jalan-jalan, Bu. Kami dari Jakarta, ingin tau seperti apa Danau Toba.” Jawabku lagi, kali ini aku beranikan diri merangkul si ibu. Ah, aku merasa jadi anak gadisnya yang manja. Tiba-tiba aku kangen emak di kampung.

Segitiganya dimana?

Selesai sarapan, perjalanan kami lanjutkan. Kami terus bergerak dari Medan – Tebing Tinggi –Siantar – Prapat – sampai ke Pulau Samosir. Selama perjalanan kami berbincang apa saja, mulai dari Nida dan Damai tentang hobinya akan drama Korea, aku dan Tiko tentang gadget, Awi yang sibuk dengan musik dari earphone yang tersambung dengan blackberrynya, Alvie yang fokus menyetir mobil, dan Melva yang menjadi penunjuk jalan karena ia orang asli Medan.

Hingga sampai kami di sebuah daerah bernama Lubuk Pakam. Matahari sudah meninggi, lengan-lengan cahayanya memapar apa saja yang ada di bumi. Mobil kami sedang melaju kencang di jalan raya yang cukup lebar bersama kendaraan-kendaraan lain. Lalu tiba-tiba mobil-mobil di depan kami melambat. Lampu rem mereka menyala. Aku fikir ada perbaikan jalan sehingga menimbulkan macet. Ah sial. Setiap hari sudah ketemu macet setiap pergi dan pulang kerja, backpacking pun harus kena macet karena perbaikan jalan.

Mobil kami pun ikut melambat. Lalu kemudian kami melihat sekumpulan motor bertuliskan POLISI terparkir di pinggir jalan. O, ada razia. Seorang polisi terlihat berjalan menghampiri. Tak lama ia sudah berdiri di sebelah pintu sopir. Alvie dengan sigap menurunkan kaca jendela.

Polisi itu kemudian menanyakan SIM dan STNK. Alvie menyodorkan apa yang dimintanya. Lalu menanyakan kotak P3K dan segitiga. Kami semua kebingungan. Masalahnya, kami tidak mengecek sebelumnya di dalam mobil apakah ada kotak P3K dan segitiga. Aku sebdiri bahkan baru dengar segitiga. Apa itu segitiga? Rupanya segitiga adalah perlengkapan yang dapat digunakan sebagai penanda jika mobil yang kita kendarai mengalami masalah mogok, atau sedang mengganti ban. Segitiga ini harus diletakkan di jalan, kira-kira 10 meter di belakang mobil. Gunanya, supaya kendaraan yang datang dari arah belakang tau bahwa mobil kita sedang mengalami masalah. Dan bermanfaat juga untuk menghindari kecelakaan.

Kami terus mencari-cari. Sementara polisi itu telah meniggalkan mobil kami dengan membawa SIM dan STNK. Membuka semua laci di dashboard, P3K tidak kami temukan. Memeriksa kolong jok mobil. Segitiga tetap tak ada. Kami semua panik. Lalu melva mengeluarkan blackberrynya, menelepon si pemilik mobil untuk menanyakan apakah ada kotak P3k dan segitiga di dalam mobil.

Rupanya segitiga ada di bagasi. Namun tak ada kotak P3K. Alvie dan Melva turun dari mobil. Mendekati polisi yang tadi mebawa Sim dan STNK. Aku menyusul turun, berdiri di sebelah pintu mobil dan memperhatikan melva berbicara dengan polisi itu. Memberi tahu bahwa segitiga ada di bagasi.

Polisi itu kemudian berjalan mendekati mobil kami. Melihat kedalam bagasi untuk mengecek keberadaan segitiga.

“Lalu P3K-nya mana?” polisi itu bertanya lagi. Kami kebingungan.

“Nggak ada, Pak.” Kali ini Alvie menjawab. Aku punya ide.

“Pak, kami backpacker dari Jakarta. Kami sudah terbiasa membawa obat-obatan pribadi kami di tas masing-masing. Nggak masalah kan, Pak.” kali ini aku ikut bicara.

Polisi itu terlihat mengangguk-angguk. Diberikannya lagi STNK dan SIM kepada Alvie. Lalu berpesan agar kami berhati-hati, dan membiarkan kami pergi. Alhamdulillah, aku menghela nafas lega.

Penting; Cek kelengkapan mobil rental sebelum pergi!

Nostalgia Lemang

Kami meluncur lagi di jalan raya. Semua terdiam di dalam mobil, sibuk dengan fikiran masing-masing tentang kejadian barusan. Tapi tak lama, Damay dan Nida asik berbincang lagi tentang artis-artis Korea yang wajahnya imut. Aku sama sekali tak mengerti dan tak mengenali sederatan nama-nama artis idola mereka. Aku malah mengantuk. Kujatuhkan kepalaku di pundak Tiko. Memejamkan mata. Mencoba tidur, namun tak bisa.

Aku kembali menegakkan leher dan kepala. Melihat ke kanan dan kiri jalan. Lalu mobil kami mulai memasuki perkebunan kelapa sawit. Aku malah teringat kampung kelahiranku di Lampung Tengah. Kampungku dekat dengan perkebunan kelapa sawit. Waktu kecil, dengan bersepeda aku senang bermain-main di areal kebun yang penuh pohon-pohon kelapa sawit tumbuh dengan rapi. Di dalam areal kebun itu ada sebuah sungai, di sungai itulah aku bebas mandi tanpa pakaian bersama teman-teman. Ups! Masa kecil yang indah.

Lemang Pulut Asli Medan
Lemang Pulut Asli Medan

Di perkebunan kelapa sawit yang ada di daerah Tebing Tinggi ini, ada yang menarik perhatianku. Di pinggir jalan banyak penjual lemang. Lemang adalah makanan dari nasi ketan, yang dibungkus daun pisang lalu dimasukkan kedalam bambu dan dibakar diatas bara. Aku tergoda untuk mencicipi. Lagi, mobil diparkirkan di pinggir jalan, dekat dengan salah satu penjual lemang. Tak hanya transaksi jual beli yang terjadi setelahnya. Tentu saja kami sigap mengambil gambar dengan kamera. Harganya cukup murah, Rp5.000,- per satuannya. Kami membeli tiga.

Aku teringat lagi dengan perkebunan kelapa sawit di Lampung. Disana juga banyak yang berjualan di pinggir jalan raya di tengah kebun kelapa sawit seperti ini. Hanya saja yang mereka jual bukan lemang. Melainkan jamur yang mereka kumpulkan, yang tumbuh di batang-batang pohon kelapa sawit yang telah tumbang. Jamur ini enak untuk disayur tumis, dicampur ikan teri dan irisan cabai. Ah! Aku selalu homesick setiap kali pergi backpacking seperti ini.

Setelah transaksi selesai, kami kembali ke dalam mobil. Melanjutkan perjalanan sambil menikmati lemang. Rasanya enak. Aroma daun pisang yang layu, bambu dan asap bara membaur dengan rasa ketan. Indonesia memang juara! Setiap daerah punya ciri khas dan keunikan. Termasuk dalam hal makanan.

Sebenarnya, lemang tidak hanya dikenal di Sumatra Utara. Di Lampung, temanku yang orang ogan rajin membuat lemang jika hari raya. Bedanya, lemang buatan keluarga temanku itu dibakar dalam bambu yang besar. Dan nasi ketannya, setelah dibungkus daun pisang, akan diikat terlebih dahulu dengan tali yang dibuat dari serat bambu. Baru kemudian dimasukan ke dalam bambu dan dibakar.

Matahari masih terik. Sepanjang jalan yang ku lihat masih pohon-pohon yang menghasilkan buah untuk dibuat minyak sayur. Perut kenyang setelah menyantap lemang. Aku mulai mengantuk. Tak lama aku lalu jatuh tertidur di pundak Tiko.

3 thoughts on “Cerita Medan Part.1 Petualang selalu rindu rumah

  1. Assalamualaikum
    Fadly medan transport MENYEDIAKAN pakej tour muslim berbaloi. Harga dan program bisa di bincangkan.
    Call to whatsapp langsung
    +6281376455045
    NO PAYMENT NO AGENT
    Tanpa orang tengah

  2. PAKEJ 4 HARI 3 MALAM MEDAN – DANAU TOBA

    “DAY 1

    TIBA BANDARA INTERNASIONAL KUALANAMU MEDAN (“WELCOME TO MEDAN”)
    PERJALANAN KE LAKE TOBA
    MAKAN TENGAHAN (LUNCH)
    SINGGAH KEKEDAI PATEN (SHOPPING KACANG TUMBUK YANG BERNAMA TING-TING , TANG-TANG , TUNG – TUNG ,PING-PING , PONG-PONG
    TIBA DI PARAPAT (LAKE TOBA)
    CHECK IN HOTEL DANAU TOBA INTERNATIONAL COTTAGE
    MAKAN MALAM DINNER
    ISTIRAHAT
    TOUR PERTAMA BERAKHIR

    “DAY 2 ”

    SARAPAN PAGI (BREAKFAST)
    MENAIKI FERRY MELAWAT KE PULAU SAMOSIR
    SINGGAH KE TOMOK MENGENAL SEJARAH SEJARAH TOMOK
    BALIK KEDANAU TOBA
    MAKAN TENGAH HARI
    TOUR KE BRASTAGI ( DALAM PERJALANAN)
    SINGGAH KE PUNCAK LAKE TOBA SIMARJARUNJUNG MAKAN PISANG GORENG SPECIAL SAMBIL MINUM COFFEE
    SINGGAH KE AIR TERJUN SIPISO PISO MELIHAT PEMANDANGAN SIPISO PISO WATERFALL
    CHECK IN HOTEL KAT BRASTAGI
    MAKAN MALAM ( DINNER )
    WISATA MALAM
    TOUR KEDUA BERAKHIR

    “DAY 3 ”

    SARAPAN PAGI (BREAKFAST)
    SINGGAH KE BUKIT GUNDALING
    SINGAH KEPASAR BUAH BRASTAGI SAMBIL MENIKMATI JAGUNG REBUS DAN JAGUNG BAKAR DAN BERKENDARA MENAIKI KUDA
    MEMETIK STROWBERRY SENDIRI
    PERJALANAN KEMEDAN
    SINGGAH KEKEDAI BATIK
    CHECK IN HOTEL
    ISTIRAHAT BAGI YANG NAK ISTIRAHAT , BAGI YANG TAK BOLEH PERGI PIJAT TRADISIONAL MEMANJAKAN DIRI DAN RILEX
    MAKAN MALAM ( DINNER )
    KEMBALI KE HOTEL ( ISTIRAHAT )
    “DAY 4 ”
    SARAPAN PAGI ( BREAKFAST )
    MELAWAT KE ISTANA MAIMOON
    SHOPPING MAL KOMPLEK
    SHOPPING BIKA AMBON
    KELILING KOTA MEDAN SAMBIL MENUNGGU MASA TRANSFER KE BANDARA AIRPORT KUALANAMU MEDAN

    “HARGA PAKEJ 4H3M / PAX
    RM 430 / PAX (MIN 5 ORANG )

    “PAKEJ INCLUDE
    TRANSPORT FULL AC
    HOTEL 3 STAR , 4 STAR
    BREAKFAST , LUNCH , DINNER
    AIR MINERAL
    DRIVER AND TOUR GUIDE
    FERRY KEPULAU SAMOSIR

    FOR INFORMATION :
    WHATSAPP : +6287867000255 (Saidina Umar)
    FACEBOOK : saidina umar , melancongmedan
    instagram : @melancongmurahsodap
    page facebook : melancongmurahsodap
    group facebokk : melancongmurahsodap(travellyholidays)
    EMAIL : medanhiphop@gmail.com
    blogspot : melancongmurahsodap.blogspot.com

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.