Category Archives: World of NOE

Dilema Dalam Selembar Undangan ASUS Limitless Gaming

Beberapa hari sebelum event Limitless Gaming, kurir mengantarkan undangan ke rumah. Hatiku sedih rasanya. Aku terancam tak bisa hadir. Padahal sudah sejak lama aku menantikan momen ini. Kuingin menjadi saksi sejarah lahirnya smartphone baru ASUS. Smartphone yang kabarnya terinspirasi dari ZanFans di Indonesia, dan di Indonesia pula untuk pertama kali diluncurkan. Sehingga ASUS sendiri menyebutnya sebagai smartphone “Inspired by ZenFans, from Indonesia, for Indonesia”. Sebagai pengguna setia ZenFone, wajar kan kalau aku ikut antusias?

Sayangnya, saat selembar undangan itu sampai di tanganku, aku harus menghadapi kenyataan bahwa Ranu dan Karla sakit. Bahkan sehari sebelum hari H, Karla masih demam, sementara Ranu batuk pileknya makin menjadi.

Aku tau, aku harus bijak mengambil keputusan. Keluarga lah yang seharusnya yang menjadi prioritasku. Walau tetap saja, dalam hati aku berdoa, semoga ada keajaiban. Semoga aku bisa tetap ke Jakarta.

Lalu di tengah kegalauan itu, Ojrahar memberiku ide. “Datang saja saat acara inti, nggak udah nginep,” katanya. Ah! Benar juga, fikirku. Lalu langsung aku memberi kabar kepada salah seorang personel PR ASUS perihal halangan yang kuhadapi.

Hari itu, saat puluhan blogger ASUS datang dari berbagai daerah, berkumpul di Jakarta, menginap di hotel berbintang dekat tugu Monas, mulai berbagi keceriaan dan oleh-oleh dari daerah masing-masing, haha hihi dan share banyak foto di grup whatsaapp, aku cuma bisa mematikan notifikasi, menyimpan hape di bawah bantal supaya nggak gengges. Dan supaya aku bisa tetap fokus dengan bocil yang pada rewel. 😆

When The Day Comes

Senin pagi, 23 April 2018. Pagi sekali, saat matahari belum menampakkan dirinya, aku bergegas menuju Jakarta dari Serang. Entah apa yang hendak Tuhan tunjukkan padaku, sehingga aku harus mengalami berbagai peristiwa. Menyaksikan kecelakaan lalu lintas di jalanan Serang, berebut naik elf trayek Serang-Grogol, dan menembus hujan dengan ojek sejak dari Central Park sampai ke hotel di kawasan Gajah Mada.

Namun tak kukeluhkan semua itu. Karena rasa bahagiaku bisa tiba di hotel saat masih jam sarapan adalah nikmat Tuhan paling hakiki. Haha 😆

doc. by Blus member

Yup, aku lapaaar. Berangkat subuh sih, jadi belum sempat sarapan kan. Maka setibanya di hotel, aku langsung check in di resepsionis dan masuk ke tempat sarapan untuk isi perut. Baru setelah itu aku bisa menemui teman-teman blogger, berkumpul dan siap mengikuti serangkaian acara launching ZenFone Max Pro M1 yang dimulai pukul 12 siang di The Ritz Carlton Pacific Palace. Sebuah event yang diberi judul;

Limitless Gaming Max Series Launch

Tepat jam 12 siang, pintu masuk ball room Ritz Carlton dibuka. Tamu-tamu undangan kemudian mengantre masuk. Tidak hanya blogger, ada ZenFans, jurnalis media, juga dealer. Entah jumlahnya ada berapa ratus orang. Yang jelas … ramai. Mengingatkanku pada event launching ZenaFone 3 di Bali 2 tahun lalu. Dan karena itu juga, aku seperti mendapat firasat bagus.

Aku merasa, ZenFone Max Pro M1 yang akan dilaunching adalah smartphone yang luar biasa, sebuah gebrakan dan akan mengagetkan pasar.

Apalagi kalau melihat gelagat admin di OA instagram ASUS, poster-posternya bikin gemes. Ada pernyataan not live on any TV station lah, ada makan mi lah. Kocak banget! 😆

Dan ternyata memang benar dong. ASUS ZenFone Max Pro M1 memang hadir dengan berbagai keunggulan. Highlight keunggulan, spesifikasi & harga ASUS ZenFone Max Pro M1 sudah kutulis dan published beberapa hari lalu. Boleh dibaca dengan mengklik tautannya. Sedangkan postingan ini, khusus untuk curhat dan cerita keseruan eventnya. Hehe.

The Journey of In Search of Incredible

Serentetan agenda acara berlansung lancar siang itu. Dimulai dengan makan siang, acara inti yang berisi speech dan presentation produk yang diluncurkan, coba-coba unitnya di ruang pamer, sampai kembali ke hotel untuk gala dinner dan doorprize. Dan di antara semua agenda acara itu, ada satu hal yang mencuri perhatianku. Dia adalah milestone wall perjalanan ASUS ZenFone.

Aku jadi teringat cerita saat aku mulai jatuh cinta pada ZenFone. Begini ceritanya…

Sejak Indonesia diserbu ponsel android asal China dan Taiwan, pelan-pelan aku mulai berpaling dari Blackberry. Sempat mencoba beberapa merk smartphone yang ada di pasaran. Tetapi rata-rata hanya kupakai selama beberapa bulan saja. Biasanya paling lama 3 bulan setelah beli, langsung jual lagi. Sebab apa? Ada yang lemot banget saat dipakai browsing, yang kameranya nggak oke lah, sering nge-lag lah, dll. Sampai akhirnya aku mencoba ZenFone 5 dan malah jadi setia pada brand ASUS sampai sekarang.

Beberapa bulan setelah aku pakai, ZenFone 5 aku lungsurkan pada suami sebab hape miliknya rusak. Aku? Beli lagi dong yang baru dan lebih bagus, yaitu ZenFone 2 intel inside dengan memory 4/32. Waktu itu, rasanya bangga punya smartphone dengan memory lega, baterai awet dan fast charging, plus kameranya yang juara.

Sayangnya setelah cukup lama dipakai, layarnya kena masalah ghost touch. Lalu kukirim ke ASUS Service Center via konter hape teman di Cilegon. Dalam waktu sekitar 3 minggu, hape udah balik dan tidak dikenakan biaya service. Oh senangnya rasa hatiku. Haha.

Anyway, dari semua seri ZenFone yang ada, memang nggak semuanya pernah aku pakai. Hanya beberapa saja. Tapi aku berharap, setelah ini aku bisa pakai juga ZenFone Max Pro M1.

Sebab kapasitas baterainya besar 5000mAh, proses isi ulang baterai cepat, kapasitas RAM dan internal memory lega, prosesor canggih Snapdragon 636, triple slot untuk dual sim card dan microSD card, serta kameranya yang bisa diandalkan.

Sebab aku butuh dia walau bukan gamers sungguhan. Sebab akan ada banyak aktifitas harianku yang akan terbantu bersamanya, ngeblog dengan smartphone dari mana pun dan kapan pun, tanpa terganggu daya baterai yang cepat habis, tanpa nge-lag dan anti lemot.

Sebab aku juga tak mau ketinggalan dengan ribuan orang yang sudah mendapatkan unitnya lewat flash sale di Lazada.

Bayangkan! Sudah 2 kali Zenfone Max Pro M1 dijual dengan cara flash sale di Lazada, dan semuanya ludes dibeli pelanggan hanya dalam hitungan detik!

Bukankah itu berarti ZenFone Max Pro M1 adalah smartphone yang bagus?

Mimpi Ini Membuatku Gila

Aku ini cuma manusia. Aku punya banyak kekurangan. Salah satunya, aku sering susah mengontrol emosi, terutama saat sedang menginginkan sesuatu. Kalau Ojrahar bilang, “Noe itu… ambisius. Kalo lagi pengen sesuatu, teruuus aja dikejar”.

Okey, kedengarannya itu seperti pujian. Padahal, aku tau kok maksud dibalik kata-katanya itu. Yup, seperti kubilang tadi, aku kesulitan mengontrol emosi.

Adalah aku yang selalu menggebu-gebu, ingin cepat sampai di garis finish, grasak grusuk, terlalu fokus dan malah jadi melupakan hal lain.

Padahal, aku ini kan hidup bukan untuk diri sendiri ya. Aku ini kan menjalani hidup dimana ada keluarga yang juga butuh aku. Aku pun kerja sebagai karyawan yang juga menuntutku untuk melakukan tugas dengan baik. Dan seringnya, hidupku jadi kacau kalau aku sedang sibuk dan fokus mengejar sesuatu.

By the way, barangkali teman-teman memperhatikan apa yang terlihat di sosmedku, terutama instagram @nurullnoe, aku yakin kalian tau ya apa yang sedang kukejar. Ho-oh, aku sedang bermimpi untuk bisa menguasai ilmu fotografi bayi. Saking pinginnya, tiap saat otakku dipenuhi hal-hal yang berhubungan dengan impian itu. Banyak waktuku habis untuk nonton YouTube, mantengin hashtag #NewbornPhotography untuk cari inspirasi, ngubek-ubek toko online untuk window shopping berbagai property, browsing informasi teknik fotografi sampai info kursus fotografi maupun editing.

Di rumah, di jalan, di kantor dan setiap ada kesempatan, aku sibuk melakukan semua itu. Sampai akhirnya aku merasa overwhelmed. I loose control. Otakku panas karena memikirkan banyak rencana dalam waktu bersamaan secara terus menerus. Rasanya kepingin nangis dan teriak. Tapi yakali teriak gitu aja di bis? Di kantor apalagi. Nggak mungkin! Di rumah? Ya kadang kelepasan. Kalau ada hal yang annoying, aku emosi. Marah.

Anyway, it’s driving me crazy!

Sampai puncaknya kemarin malam. Aku sadar aku sudah gila. Lalu saat anak-anak sudah pada tidur, aku curhat ke Ojrahar.

“Beb, kayaknya aku udah mulai sakit. Bla bla bla”, aku tumpahkan semua perasaan dan uneg-uneg. Lalu dengan pembawaannya yang super duper tenang itu, dia nggak ngomong apa-apa dong. Cuma tangannya aja ngerangkul dan ngusap kening. Iya, gitu doang, tapi aku ngerasa nyess, adem.

Memang, di dadanya lah aku bisa menemukan jawaban dari banyak tanya, ketenangan dari banyak resah. Uuuh.

By the way, anyway, busway, saat menulis ini, orangnya mau ikut baca apa yang aku ketik. Tapi aku larang lah dia. Kok rasanya sedang diawasi ya. Jadi kan nulisnya nggak bebas. 😆

Jadi, setelah curhat dan merasa lebih tenang, Ojrahar mengajak aku untuk coba alihkan fokus sejenak. Memikirkan dan merencanakan hal lain yang menyenangkan.

Biasanya, kalau udah pening atau penat, pelarianku adalah traveling. However, traveling ampuh banget untuk merefresh otak, melapangkan hati, membuka fikiran, dan yang jelas … senang-senang. Sayangnya, aku sedang komit untuk nggak jalan-jalan dulu. Budgetnya ora ono! Jadi aku harus kuat. Walau kaki udah gatel untuk mbolang. Karena seingatku, terakhir kali jalan-jalan ya November tahun lalu untuk staycation di Sandalwood Hotel Lembang.

Walau begitu, aku tidak lantas menyerah. Aku dapat ide supaya setidaknya tahun ini bisa jalan-jalan. Aku bilang ke Ojrahar, aku kepingin banget diajak mudik ke kampung halamannya di Purworejo.

Untuk itu, aku langsung coba cari tiket kereta mudik lebaran tahun 2018 ini. Ya, walaupun belum tau juga sih, bakal jadi mudik beneran atau ngga. Cari aja dulu tiketnya secara online, intip harganya dulu. Sama seperti kalau aku window shopping secara online akhir-akhir ini, banyak barang aku masukkan ke keranjang belanja, kalau udah puas, tutup deh situsnya. 😆

Paling-paling setelah itu, bakal ada email masuk untuk mengingatkan kalau ada barang belum dibayar di keranjang belanjaanku. Haha. Gengges ya kadang toko online atau e-commerce itu.

Saking genggesnya, aku sering juga tergoda untuk bayar. Seperti beberapa hari lalu, aku beli kupluk bayi. Soalnya model kupluknya juga cantik banget untuk baby Karla. Kupluk yang bakal berguna banget untuk perjalanan jauh naik kereta nanti. Ya biasanya kan,di dalam kereta ACnya dingin banget.

Selain itu, rasanya kupluk bayi model itu bisa jadi props fotografi bayi yang cute.

Aiih, ujung-ujungnya kok balik lagi ke impian untuk jadi newborn photographer. Mungkin memang begitu sih ya, kalau manusia punya impian, pasti akan terus terbawa dan teringat di saat apapun, kapanpun dan dimanapun.

Tetapi semoga, aku bisa lebih kontrol emosi. Lebih sabar. Semoga aku bisa kembali menyadari, bahwa segalanya butuh proses dan tidak ada yang instan.