Oleh-oleh khas Ambon

Camilan Tradisional, Pembangkit Gairah Traveling

Kue-kue jajanan pasar, atau camilan tradisional itu ternyata ngga cuma bisa menggugah selera ngemil, ya. Sebagai emak-emak yang sedang riweuh ngurus bayi, melihat aneka camilan tradisional ternyata malah sukses membuatku kangen jalan-jalan.

Jajanan Pasar

Ceritanya kemarin, Minggu 6 September, keluarga besar dari Bekasi datang untuk menjenguk baby Ranu. Aku gagap dapur ini, tentu memilih kepraktisan. Yaitu pesan catering untuk hidangan makan siang. Begitu juga dengan kue-kue untuk suguhan, aku beli beberapa jenis kue jajanan pasar. Nah, demi melihat beraneka jenis camilan tradisional itu, jiwa mbolangku malah seperti diledek.

“Hei, inget ngga apa nama lainku?” Tanya si pastel. Duh! Kan aku jadi ingat kenangan backpacking selama seminggu di Sulawesi Selatan. Waktu hari terakhir di sana, sempet jajan jalangkote, alias pastel yang enak banget.

Dan berhubung sekarang lagi ngga bisa kemana-mana, ngga bisa nekat mbolang demi ngobatin rasa kangen jalan-jalan ini, jadi cari pelarian dengan nulis di blog. Jadi dapat ide untuk nulis tentang berbagai camilan tradisional khas daerah yang pernah kucicipi, tapi ย belum pernah kukunjungi daerah asalnya.

1. Carica

Carica
Carica, an exotic fruit from Dieng

Siapa tak kenal Carica dan daerah asalnya yang mempesona. Yups, bicara soal Carica, pasti akan langsung ingat dataran tinggi Dieng. Meskipun sebenarnya, Carica yang memiliki nama latin Carica pubescens atau Carica candamarcensis adalah tanaman yang berasal dari daratan Amerika Selatan. Awalnya, Carica didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, sekitar tahun 1890 atau pada akhir abad ke-19.

Carica disebut juga sebagai buah pepaya gunung. Kabarnya, bibit Carica ini kalau ditanam di daerah lain, tetap bisa tumbuh, namun buahnya jadi seperti pepaya biasa. Hmm… Carica makin menambah daftar keunikan Dieng, ya. Dan setiap kali makan Carica, aku jadi semakin ingin traveling ke Dieng. Ingin camping di Gunung Prau dan menyaksikan sunrise di pagi hari dari ketinggian. Ingin melihat langsung keindahan negeri di atas awan, dengan kabut-kabut yang menggantung menyelimuti pedesaan. Ingin merasakan ketenangan di telaga warna, dan banyak lagi pesona lain dari dataran tinggi Dieng.

2. Kerupuk Kulit

Oleh-oleh khas Lombok
Kerupuk kulit dari Lombok

Di Kantor, aku punya teman orang Lombok. Kalau mudik, pulangnya ia pasti membawa oleh-oleh kerupuk kulit. Yap, kerupuk kulis sapi/kerbau memang sudah ngga asing lagi dan sudah dikenal luas. Jadi ngga cuna bisa ditemui di Lombok. Banyak daerah di Indonesia juga memproduksi kerupuk kulit dan menjadikannya ciri khas. Sebut saja Jogja yang biasa menyebut kerupuk kulit dengan nama krecek, dan biasa dijadikan campuran dalam masakan gudeg. Di Bandung biasa disebut kerupuk Rambak.

Akan tetapi, kerupuk kulit dari Lombok ini rasanya lebih spesial. Lebih kerasa rasa sapinya di lidah. Dan membuatku lebih penasaran akan pesona wisata Lombok yang banyak dipuji-puji wisatawan. Huhuuu… Semisal Gili-gilinya itu, atau desa adatnya, cantik jain tenunnya, mutiaranya… Banyak ajaa yaa yang jadi daya tarik Lombok.

3. Roti Kenari

Oleh-oleh khas Ambon
Roti Kenari khas Ambon

Perjumpaan dengan roti kenari ini benar-benar ngga diduga sebelumnya, yaitu pada akhir Maret lalu ketika road trip dari Singapura, Malaysia, & Aceh. Ceritanya ada 2norang teman baru yang gabung dalam road trip itu, dan mereka berasal dari Ambon. Ketika sarapan di Singapura, mereka membuka perbekalan yang dibawanya dari Ambon, ada pop mie, ada kerupuk, dan satu lagi yang khas dari Ambon, yaitu Roti Kenari.

Roti kenari ini dibuat dari roti tawar, diolesi selai khusus dengan topping kacang kenari, yang kemudian rotinya dipanggang sampai kering crispy. Eum, kebanyang ngga sih rasa gurih kacang kenarinya! Bagian yang menyebalkan ketika menikmati roti kenari ketika di Singapura waktu itu tuh, cerita dari teman baru yang asli orang Ambon, tentang eksotisnya Ora Beach. Alamaak…!

Sebagai traveler apalah apalah, yang suka mupengan, aku memang gampang kegoda kalo ada yang cerita tentang keindahan alam Indonesia, terutama kalo yang berpantai-pantai. Entah kapan bisa traveling lagi. Hehe… Dan dari pada galau terus karena kangen traveling, mending sekarang ngemil kue cucur dulu, salah satu camilan tradisional yang rasanya manis, semanis baby Ranu. ๐Ÿ˜€

25 thoughts on “Camilan Tradisional, Pembangkit Gairah Traveling”

  1. Jajanan pasar selalu bikin kangen. Terutama, bagi saya, kue basah yang masih seger.
    Besok aku cari roti kenari seperti yang di foto atas, mumpung lagi di Ambon, ๐Ÿ™‚

  2. sampe sekarang pingin banget sama carica,penasaran aja hahaha…
    wah,nama pastelnya unik ya,jalangkote xixixixi…ayuk ke Batam,nanti kita makan epok2..nah lo,pastel mak hahaha

  3. Carica di Semarang udh banyak yg jualan Noe. Jadi klo pas pengiiiinnn bgt aku beli aja tuh. Memang beda rasanya dari pepaya biasa. Lebih mengkal dan krenyes2. Segereeeee yoh minum es carica siang2 ๐Ÿ™‚

Leave a Reply