Jawa Timur, Traveling

Burger untuk Andri

Wajah Daffa’ dan Abyan tampak kuyu. Mereka baru saja terbangun dari tidur-tidur ayam di dalam pesawat yang mengudara selama 1 jam 30 menit dari Jakarta, dan mendarat di Terminal 2 Banda Juanda di Sidoarjo – Jawa Timur. Abyan mulai menusuk-nusuk lubang telinganya dengan jari telunjuk. Ini memang satu hal yang tidak kami sukai jika naik pesawat. Telinga kami sakit.

Namun kami seperti mendapat bonus ketika hendak meninggalkan kabin pesawat. Bonusnya yaitu aero bridges yang memungkinkan kami bisa langsung masuk ke gedung bandara tanpa harus melewati lapangan udara. Ternyata benar adanya soal cerita teman-teman yang mengatakan bahwa fasilitas di Bandara Juanda lebih baik dari pada di Terminal 3 Bandara Soeta.

Segera setelah memasuki gedung bandara, kuaktifkan handphone dan memberi kabar kepada Andri. Andri adalah teman yang kukenal dari event Krakatau Writing Camp pada Agustus 2013. Kebetulan ia sekarang bekerja di Surabaya. Sejak beberapa hari lalu, kami sudah janjian. Ia akan menjemputku ke bandara. Sayangnya terjadi miss komunikasi antara kami. Andri menungguku di Terminal 1, sementara pesawat yang aku tumpangi mendarat di Terminal 2. Aku jadi merasa tidak enak kepada Andri. Ini pasti merepotkannya. Apa lagi jarak antara terminal 1 dan terminal 2 tidak dekat. Ah, aku masih merasa bersalah.

Selama menunggu, Daffa’ dan Abyan terus merengek. Mereka tak sabar jika hanya duduk saja di depan mushola. Tanpa tahu pasti hendak melakukan apa dan entah sampai kapan.

Mungkin memang sudah sifatnya manusia, ingin waktu cepat berlalu, dan segera sampai pada waktu yang ditunggu, tanpa mau melewati proses yang kadang membuat jenuh.

“Ibu, ayok! Ngapain duduk aja di sini?”, Daffa’ mulai merajuk. Diikuti rengekan Abyan, dan terus, silih berganti. Aku hanya bisa meminta mereka sabar dan menjelaskan bahwa kita akan dijemput oleh Om Andri, teman ibu yang dulu pernah bertemu di Rumah Dunia.

Setelah menunggu selama 1 jam, akhirnya kami bertemu Andri sekitar jam 5 sore, dan kami langsung menuju kota Surabaya. Rencananya aku akan nimbrung ke acara buka bersama Emak-emak Blogger Surabaya di Sutos (Surabaya Town Square). Sayangnya, kami tidak bisa mengejar waktu.

Aku semakin merasa tidak enak hati kepada Andri. Karena ban sepeda motornya sempat bocor di dekat Taman Tunggul. Padahal Adzan sudah berkumandang sejak 20 menit lalu dan kami belum berbuka sama sekali. Aku sempat memintanya berhenti untuk minum terlebih dahulu. Namun sepertinya ia terlalu fokus mengantarku ke Sutos. Ini membuatku merasa menjadi beban baginya.

Dan setelah kufikir lagi, aku merasa bahwa Tuhan sedang menunjukkan kasih sayang-Nya dengan memberiku kejadian ini. Dia pasti ingin kami segera membatalkan puasa kami. Karena insiden ban bocor itu, mau tak mau kami harus menghentikan laju sepeda motor kami. Aku lalu memeriksa isi tasku. Kutemukan 3 buah kurma dalam plastik kecil di dalamnya. Kuberikan satu kepada Andri untuk membatalkan puasanya, dan sisanya untuk Daffa’ dan Abyan.

Andri memintaku menunggu di Taman Tunggul sementara ia mencari tempat untuk tambal ban. Namun aku tidak menurutinya permintaannya. Karena tak jauh dari tempat kami berhenti, kulihat ada restoran ayam goreng asal Amerika, KFC. Kutuntun Daffa’ dan Abyan menuju restoran fast food itu untuk membeli makanan.

Suasana di dalam restoran KFC ramai sekali. Hampir tak ada meja kosong. Sementara di depan kasir orang-orang masih berjubel mengantri. Huft! Aku tak punya pilihan lain selain ikut mengantri. Sedangkan Daffa’ dan Abyan segera saja bermain di sudut playgroud di dalam restoran KFC.

Ada yang menarik perhatianku ketika sedang mengantri dan memperhatikan papan menu. Hey, masih ada menu harga goceng! Seingatku, di Cilegon dan Jakarta sudah tidak ada burger atau spaghetti dengan harga goceng. Atau aku yang lupa? Atau aku yang jarang ke KFC?

Saat tiba giliranku, aku memesan 4 burger harga 10 ribuan, dan 2 mocca float ukuran medium. Bagiku ini lucu. Kami sudah pergi bermil-mil jaraknya dari rumah kami di Bantwn, tetapi yang kami makan di Surabaya ini malah burger KFC, bukannya kulineran khas Surabaya. Tapi memang itulah kami dengan gaya travel light yang terbiasa bergerak cepat dari satu tempat ke tempat lain. Urusan makan, kami lebih sering membeli burger yang bisa disimpan dalam ransel dan bisa kami makan di mana saja. Tapi jika di rumah, kami jarang sekalk beli fast food untuk makan.

Andri menelepon saat burger yang kami nikmati tersisa separuh. Rupanya ia sudah selesai menambal ban dan sudah menunggu kami di Taman Tunggul. Cepat-cepat kami bungkus burger yang masih tersisa dan menemui Andri. Aku tak mau menyusahkannya lebih banyak lagi.

Tak lama setelah Andri telepon, ada SMS masuk dari Mak Eda, salah satu member Kumpulan Emak Blogger Surabaya. Ia mengabarkan bahwa acara buka bersama sudah bubar. Wajar saja, sudah jam 7 malam. Yasudah, aku gagal bertemu dengan Emak-emak Blogger di Surabaya. Jadi setelah bertemu Andri di Taman Tunggul, aku langsung memintanya mengantarku ke Tune Hotel saja di Jalan Arjuno.

Aku tidak segera masuk kamar setelah check-in. Di ruang lobby, aku mengajak Andri mengobrol. Awalnya ia hendak buru-buru pulang ke kost-an, tapi aku memintanya santai sejenak sambil makan burger yang tadi sempat aku belikan untuknya. Ah, sepotong burger pasti tak sebanding dengan pengorbanannya menjemput dan mengantarku ke hotel. 🙂

Tetapi dari sepotong burger untuk Andri itu aku belajar satu hal lagi tentang hidup. Kita boleh memiliki impian besar dan berjuang untuk meraihnya. Namun jangan sampai apa yang sudah kita miliki malah terabai dan lupa untuk disyukuri. Seperti tadi, aku terlalu terobsesi untuk bertemu banyak teman baru di Sutos, dan tanpa sadar aku mengabaikan Andri.

Burger

To Be Continued…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.