Budaya barter dan semangat menjalin persaudaraan

Credit
Credit

Seperti yang kita tau, barter adalah proses tukar menukar barang atau juga jasa yang dibutuhkan oleh kedua belah pihak, tanpa menggunakan uang. Kalau menggunakan uang, tentu namanya akan berubah menjadi transaksi jual beli. Dan seiring dengan munculnya uang sebagai alat pembayaran, budaya barter mulai ditinggalkan. Semua barang ataupun jasa yang dibutuhkan manusia kini dinilai dengan uang. Dan untuk mendapatkannya, tentu kita harus membeli.

Meski demikian, di zaman sekarang ini, dimana uang seolah menjadi hal paling penting untuk dimiliki, sebenarnya budaya barter masih dilestarikan oleh sebagian kalangan. Sebagai contoh saja, di kalangan backpacker. Tanpa disadari, sebenarnya aku dan teman-teman sering melakukan budaya barter jasa. Semisal, transaksi barter jasa seperti dalam percakapan berikut;

Aku; “Guys, besok aku ke Jakarta sama anak-anak, ada yang bisa kasih tumpangan nginep?”

Teman; “Boleh. Ke rumahku aja. Tapi mohon maaf kalo kondisinya sedikit berantakan.”

Aku; “Ok! No problem. Kapan-kapan, main ke Anyer ya, nginep aja di rumahku.”

Tidak hanya barter jasa, barter berupa barang pun masih kami lestarikan. Semalam, di grup facebook Krakatau Writing Camp, aku di mention oleh salah seorang teman di Bandung, perihal barter.

Barter

Namanya Intan. Ia adalah sosok teman yang hangat dan bersahabat. Grup facebook Krakatau Writing Camp (KWC) sendiri adalah sebuah grup yang dibuat setelah adanya event Krakatau Writing Camp bersama Gol A Gong pada bulan Agustus 2013. Karena adanya event KWC inilah kemudian terjalin suasana kekeluargaan dalam setiap hati para pesertanya. Dan kami terus aktif berinteraksi dalam grup facebook.

Intan menyebut beberapa teman untuk menindak lanjuti kesepakatan barter barang berupa kopi dan buku. Sebenarnya, ini bukan yang pertama kalinya. Sepulang dari acara KWC bulan Agustus lalu, transaksi barter juga sempat terjadi atara Intan dan beberapa teman lain. Waktu itu, aku sempat iseng, nimbrung dan memberi komentar dalam thread mereka. Aku bilang kepada Intan, bahwa aku mau juga dikirimi kopi Aroma dari bandung. Dan responya sangat cepat, Intan meminta alamatku untuk pengiriman kopi. Tetapi waktu itu, ia tidak menawarkan untuk barter dengan benda tertentu.

Kali ini, ia mention lagi. Ia hendak memberiku satu buku bagus untuk kedua anakku. Aneh juga ya, kali ini pun aku tidak diminta untuk barter. Padahal teman-teman lain yang ingin mencicipi kopi Aroma dari bandung, ia minta untuk barter. Hmm.., jangan-jangan ia sedang menguji kesadaranku. Haha.. 😀 *su’udzon

Oya, menyinggung soal kopi Aroma, adalah merek dari kopi bubuk yang di produksi oleh pabrik kopi tua di Bandung. Pabrik kopi Aroma ini sudah beroperasi lebih dari 80 tahun lamanya, dan memproduksi dua jenis kopi bubuk, yaitu kopi arabica dan kopi robusta. Pabrik kopi Aroma beralamat di jalan Banceuy no.51, Bandung. Aku berencana mampir ke pabrik kopi Aroma ini bulan depan. Tepatnya pada 11 Desember 2013, sebelum aku terbang ke Bali pada malam hari via Bandung dari bandara Husein Sastranegara.

Bersama Intan juga, aku ingin melihat langsung bagaimana mesin-mesin penggarang biji kopi itu bekerja. Mesin yang sama yang masih digunakan sejak saat pabrik kopi Aroma baru didirikan. Mencicipi secara langsung aroma kopi yang menguar dari mesin-mesin penggarang. Dan sebelum kopi ini digarang dan dijadikan kopi bubuk, biji kopi terlebih dahulu disimpan dalam gudang selama bertahun-tahun untuk menurunkan kadar asamnya. Mungkin, aku akan membeli beberapa bungkus kopi dari satu-satunya toko kopi Aroma yang sejak dulu hingga sekarang bertahan tanpa perluasan usaha.

PhotoGrid_1384318030035

Untuk siapa kopi yang aku beli itu nanti? Aku berencana mengirimkannya ke Jogja. Kepada salah seorang sahabat yang juga ia adalah backpacker. Bersama dengan Intan yang mengirimiku kopi Aroma pada bulan Agustus lalu, ia mengirimiku 2 buah celana batik khas Jogja. Beberapa bungkus kopi lainnya, mungkin akan aku jadikan buat tangan untuk sahabat yang memberi tumpangan menginap selama aku ke Bali pada bulan Desember nanti.

Dan sekarang, aku sedang memikirkan, apa buah tangan yang pantas untuk kuberikan kepada Intan saat berkunjung ke Bandung nanti?

Pada akhirnya, barter bukan lagi soal tukar menukar barang atau jasa sesuai kebutuhan. Lebih dari itu, ada ketulusan dan jalinan persaudaraan yang nilainya tak bisa digantikan dengan uang atau benda apapun. Priceless.

Semoga aku masih punya cukup waktu untuk bisa membalas semua kebaikan para sahabat sekalian.

Leave a Reply