Brand baru kopi Vietnam dan Indonesia

Sekarang ini, minum kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Hampir di seluruh penjuru kota, tidak hanya di Indonesia tetapi juga ASEAN, banyak tersebar gerai kopi. Di dunia, negara penghasil kopi terbesar adalah pertama: Brazil,  kedua: Vietnam dan ketiga adalah Indonesia. Kedua negara terakhir adalah anggota ASEAN. Menuju Komunitas ASEAN 2015 ini, mampukah Vietnam dan Indonesia merebut pangsa pasar kopi dunia? Bisakah kedua negara tersebut menjadi partner produksi kopi, bukan menjadi rival atau saling bersaing.

Di atas itu, adalah tantangan hari ke-5 untuk lomba blog #10daysforASEAN. Berat sekali buat saya. Kalau dihari-hari sebelumnya saya bisa langsung menulis saja pagi hari, sekarang saya stuck dulu seharian. Lalu seperti biasa, mengandalkan internet untuk browsing dan mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Indonesia dan Vietnam yang berkaitan dengan kopi.

Jujur pengetahuan saya minim sekali dalam bidang politik dan ekonomi. Yang saya tau sebagai orang yang termasuk dalam golongan ekonomi kelas mengenah ke badah adalah, bagaimana caranya bertahan hidup. Pertanyaan hari ini, sekali lagi saya katakan, berat sekali.

Mampukan Vietnam dan Indonesia merebut pangsa pasar ekonomi dunia? Bolehkah saya jawab mampu? Jika jawabannya adalah boleh, pasti saya juga harus menyertakan alasannya. Baiklah, saya akan coba. Dari yang saya baca di VOV5 tentang kerja sama dalam bidang ekonomi antara Vietnam dan Indonesia, rupanya hubungan ini memiliki track record yang baik. Dengan history kerja sama yang baik antara Vietnam dan Indonesia ini, bukan tidak mungkin kerja sama sebagai partner untuk merebut pangsa pasar kopi dunia.

Di Republika.co.id saya juga membaca sebuah berita dengan judul Potensi Kerja Sama RI-Vietnam Makin Menjanjikan. Pada paragraf akhir berita tersebut saya tertarik dengan sebuah kalimat yang menjadi penutup berita tersebut. Berikut kutipan kalimatnya;

Howard Schultz dari Starbucks mengatakan saat dia di Indonesia beberapa bulan lalu, kopi dari Indonesia terbaik di dunia, yang bermasalah hanya memperkenalkan merek.

Indonesia dan Vietnam mungkin bisa memasarkan produk kopi dengan brand yang ekslusif. Jadi selain menjadi pemasok untuk brand-brand kopi yang mulai merajai dunia seiring dengan gaya hidup modern sekarang ini, seperti kedai starbuck, Indonesia dan Vietnam juga bisa menguasai pasar kopi dalam bisnis cafe.

Bukankah ironis ketika Vietnam dan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar nomor dua dan tiga dunia, namun warganya menikmati kopi di kedai modern dari negara lain yang bukan produsen kopi?

Leave a Reply