Bertemu seorang atheis

credit
credit

“Saya tidak beragama, Pak” kata seorang lelaki di depanku.

Bukan main, aku terkejut mendengar pernyataannya. Ia duduk tepat di depanku, di kursi nomor 10E gerbong 2, dalam kereta Gaya Baru Malam yang melaju dari Jogjakarta menuju Pasar Senen, 15 Desember 2013.

Waktu itu, kereta baru saja melaju meninggalkan stasiun Lempuyangan. Aku duduk di kursi nomor 9E, bersebelahan dengan suamiku di kursi 9D. Aku sedang mencoba memejamkan mata untuk tertidur, sambil merasakan pegalnya kedua kaki karena kecapekan setelah dua hari keliling-keliling kota Jogja dengan jalan kaki.

Tepat di depanku dan suamiku, duduk dua orang laki-laki yang usianya seumuran, sekitar 40-an. Mereka memulai obrolan dan berkenalan. Perkenalan yang tanpa menyebutkan nama. Awalnya terkesan sekedar basa-basi saja menurutku. Tapi lalu obrolan itu berlanjut, soal pekerjaan, agama, dan soal kehidupan.

Lelaki itu mengenakan kemeja coklat muda berlengan pendek dan celana jeans potongan standar. Model rambutnya yang lurus dan lebat itu mirip gaya rambutnya Silvester Stallone. Ada kemiripan juga di mata dan hidungnya, bedanya, bola mata lelaki Jawa di depanku ini berwana hazel brown, coklat keabuan. Dialah yang mengaku atheis itu. Wajahnya terkesan seorang yang optimis, dan dia suka sekali bicara.

Disebelahnya, seorang lelaki dengan kaos sport warna abu, celananya dari bahan, model celana resmi yang dipakai pekerja kantoran. Wajahnya terlihat ramah. Pembawaannya tenang. Ia pendengar yang baik, namun sesekali bercerita jika mendapat kesempatan.

“Kerja di mana Pak?” kata lelaki atheis itu. Aku tak berniat menguping pembicaraan mereka sebenarnya, tapi suara itu jelas mampir ke telingaku di antara suara deru kereta yang melaju di atas rel.

“Saya di pemerintahan”

“Bidang opo Pak?”

Lelaki atheis itu mengejar. Namun saat lelaki ramah di sebelahnya menjawab pertanyaannya, aku tak dapat mendengar jelas. Entah di bidang apa, tapi aku menangkap sedikit, pekerjaannya membina usaha-usaha kecil di seluruh Indonesia.

“Lha, njenengan kerjane opo, Mas?” kali ini pertanyaan itu tertuju kepada lelaki atheis.

“Aku wirausaha, Pak. Bebas. Ndak terikat pekerjaan. haha” jawabnya yang diikuti tawa.

“Usahane opo?”

“Ternak”

“Wih, aku seneng juga ternak. Tapi sekarang lagi agak sibuk, jadi nggak sempet. Ternak opo Mas?”

“Babi, Pak”

Babi? Mendengar jawaban itu, aku agak bergidik. Membayangkan sebuah perternakan penuh dengan babi-babi. Aku jadi teringat waktu di Toraja, aku melihat langsung babi-babi terikat dan tergeletak di tanah lapang, menunggu disembelih. Ugh!

Babi di Toraja
Babi di Toraja

“Sik, aku pamit ke toilet yo, Mas”

Si lelaki ramah itu pamit ketika hari menjelang magrib. Tak lama ia kembali ke kursinya dengan muka yang terlihat segar. Rambutnya terlihat basah. Ia duduk, lalu shalat. Suamiku yang duduk tepat di depannya bangkit dan berdiri di lorong sampai lelaki itu selesai dengan shalatnya. Dan setelah lelaki itu selesai, si atheis membuka obrolan lagi.

“Saya dulu muslim juga lho Pak”

“Lha sekarang agamanya apa, Mas?”

“Saya tidak beragama, Pak”

Lelaki ramah di sebelahnya terlihat mengangguk-angguk. Aku sudah tidak lagi memejamkan mata. Aku mencoba menikmati pemandangan di luar jendela, sawah-sawah yang luas itu seperti permadani hijau yang terhampar. Sesekali, aku menengok ke arah dua lelaki itu, bertemu pandang, tersenyum dan sedikit mengangguk, lalu kembali ke lukisan di balik jendela kereta.

“Saya bingung e, Pak. Agama menurut saya itu, terlalu banyak aturan. Harus ini, harus itu. Nggak boleh anu, nggak boleh ina”

Lelaki di sampingnya tak memberi komentar. Hanya mendengarkan. Mengangguk, dan sesekali tersenyum.

“Saya lebih bingung waktu pindah agama ke Kristen” lelaki atheis itu melanjutkan ceritanya. “Nggak masuk akal menurut saya. Moso iyo, semua umat Kristen dijamin masuk surga. Kan sudah ditebus dosanya sama yesus. Kata pendeta saya begitu. Jadi isinya, semua orang mung seneng-seneng tok. Pestaaaa aja kerjaannya. Kurang lebih setahun, terus saya pindah agama lagi, ke katolik”

Hmmmh…aku menarik nafas sedikit lebih panjang dari tarikan biasanya. Bicara soal agama, sensitif. Jika aku ada di posisi lelaki yang diajaknya bicara itu, aku juga pasti hanya bisa diam. Harusnya, ada yang lebih sanguin dibanding lelaki atheis ini untuk menghidupkan sebuah diskusi.

“Kalo katolik, lebih mendingan, Pak. Masih ada ritual doa, ada puasa. Masih ada aturan lah, mana yang boleh dan yang ndak boleh. Tapi tetep aja, nggak sesuai sama hati nurani saya e. Kalo sekarang, saya lebih seneng semedi. Hati jadi tentrem gitu kalo habis semedi. Saya kalo semedi bisa sampe sebulan. Tempat favorit saya itu di danau”

“Lha, terus saiki di KTP agamane tertulis opo, Mas?” akhirnya lelaki itu bersuara setelah menjadi pendengar saja sejak tadi.

“Kalo di KTP ya agama terakhir yang saya anut, Pak. Katolik. Kan nggak boleh kosong to?”

“Oooo…ya…ya…” lelaki muslim itu mengangguk lagi.

“Hidup bagi saya sekarang, yang penting punya attitude. Nggak menyakiti orang lain. Cukup! Makanya saya suka heran sama laskar-laskar pembela itu. Bikin ribut dimana-mana. Akhirnya perang saudara. Katanya membela agama. Lha! Tuhan kan nggak butuh dibela. Ya to, Mba?”

Eh! Aku kaget saat ia menyebut kata ‘mba’. Cuma aku satu-satunya perempuan dalam lingkaran kecil obrolan ini.

“Semua soal keyakinan, Pak. Setiap orang punya pandangan berbeda soal agamanya” jawabku gugup.

Ah! Aku terseret juga dalam obrolan ini.

“Oya, Mas. Babinya dikasih pakan apa?”

Lelaki muslim yang ramah itu mengalihkan topik pembicaraan. Akhirnya!

Lelaki atheis itu lalu bercerita panjang lebar tentang usaha ternaknya. Tidak hanya soal pakan dan berbagai eksperimen saat dia mencari formula yang tepat untuk pakan, estimasi usaha, kegiatannya sehari-hari di kandang, sampai soal pelanggannya yang bisa menjual satu porsi makanan dari babi seharga 5 juta di sebuah restoran. Ia juga bercerita bagaimana seluruh keluarga besarnya menentang keputusannya untuk menjadi petani ternak babi. Ia yang seorang dosen kimia di perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta, memutuskan pulang ke Jogja untuk menikmati hidup sesuai keinginannya.

“Saya sempat dimusuhi istri lho. Bayangin, modal awal saya 50 juta. Saya pakai untuk merintis ternak babi. Dalam waktu 3 bulan, 50 ekor indukan babi saya mati kabeh! Hahaha… Hancur!” tuturnya berapi-api. Kali ini aku ikut mendengarkan dan dengan sengaja memperhatikan wajahnya.

“Trus saya pusing. Stress. Tapi untungnya saya nggak nyerah. Saya ngutang ke teman, saya mulai lagi. Saya experimen terus. Dengan pengetahuan yang saya punya, akhirnya saya nemu kuncinya. Ternyata, usaha peternakan itu, yang penting perbaiki saluran cerna. Kalo saluran pencernaan udah oke, makanan apapun yang masuk, pasti diserap sempurna itu, Pak.”

Ia terus bercerita. Bersemangat. Diam-diam aku malah mengagumi kegigihannya dalam membangun usaha. Terlepas dari apa usahanya dan apa keyakinannya. Aku menyimak ceritanya tentang formula yang ia buat untuk pakan babinya, tentang probiotik dan prebiotik yang ia beli dari Jerman, tentang jerami yang ia taburi bakteri baik untuk mengurai serat yang rumit, tentang pegembang-biakan cacing yang biasa digunakan untuk obat thypus dan dijadikan campuran pakan babi, tentang dia, tentang bisnisnya.

Namun pada akhirnya ada hal yang mengusik fikiranku.

“Sekarang, kerja saya itu pagi-pagi cuma ke kandang, ngecek anak buah udah ngurusi babi dengan baik apa belom. Paling sejam. Trus pulang. Tidur-tiduran aja sampe sore. Penghasilan saya, sekali panen itu untungnya bisa 200 persen! Setahun panen 3 kali. Lha, babi kan masa hamilnya Cuma 4 bulan. Dari pada saya jadi dosen, kerja babak belur di Jakarta, gaji sebulan Cuma 10 juta. Saya lulusan S2 lho, Pak!”

Aku ngeri mendengar kata-katanya. Seandainya semua orang berfikiran seperti dia tentang materi, lalu tak akan ada guru lagi di dunia ini. Ah, tidak! Aku percaya, masih banyak guru-guru yang tidak sebegitunya menilai materi.

Sementara dari lelaki muslim itu, aku dan suamiku sempat berbincang hangat tentang dunia traveling. Pekerjaannya yang mengharuskan ia berkeliling hingga ke pelosok daerah, membuatku ‘ngiler’. Terutama saat ia bercerita tentang pengalamannya saat menjamah tanah Merauke. Uwoo…pingin…! Atau tentang pengalamannya saat mengarungi laut Maluku hanya dengan perahu kecil yang terbuat dari fiber. Kapasitas perahu itu hanya muat 3 orang dan digerakkan dengan mesin motor. Melawan badai dan ombak setinggi 2 meter. Seandainya perahu itu sampai terbalik, maka tenggelamlah semua!

“Lepas dari bahaya maut, rasanya itu….sangat sangat bersyukur. Saya jadi lebih bisa menghargai hidup setelahnya” katanya. Iya, aku setuju.

Kami berempat juga sempat mengobrol tentang manfaat memberi. Kedua lelaki itu sangat percaya bahwa dengan berbagi tidak akan membuat kita miskin. Meskipun keyakinan tentang tuhan berbeda, tetapi di banyak hal dalam memandang kehidupan mereka berdua adalah sosok orang yang mengagumkan.

Obrolan kami kemudian berakhir ketika kereta memasuki daerah Purwokerto. Kedua laki-laki itu pamit untuk menjatuhkan dirinya dalam tidur. Mereka menggelar Koran di lorong kereta di antara dua kursi. Suamiku juga ikut-ikutan memejamkan mata dengan tetap berada di kursi.

Dan tinggal lah aku yang sibuk dengan fikiranku sendiri. Ada suara-suara yang begitu nyaring di otakku, salah satunya berbicara tentang keberagaman agama di Indonesia yang dikritisi lelaki atheis itu. Perang antar saudara demi membela agama. Sampai kapan? Bhinneka tunggal ika, masih kah dijadikan sebagai pedoman? Kapan kerukunan antar umat beragama benar-benar terwujud?

Akhirnya aku menyerah, mencoba tidak lagi meladeni suara-suara yang memenuhi otakku. Tidur.

“Berjalanlah.. ada banyak pelajaran baru yang akan didapat dari orang-orang baru yang kau temui. Bahkan dari seorang atheis sekalipun.”

di kereta

*****

Tulisan ini saya buat tanpa ada maksud menghina atau menistakan agama manapun. Yang saya tuliskan tentang agama adalah apa yang dituturkan dan menurut sudut pandang orang yang saya temui di kereta pada waktu itu. Jika ada hal yang kurang berkenan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Leave a Reply