Sulawesi Selatan

Berlomba, berbahagia, dan bertumbuhlah

Riuh. Suara-suara penyemangat sudah mulai diteriakkan ketika peserta lomba sedang bersiap sedia menunggu aba-aba dari wasit. Dengan ban sepeda motor di tangan dan pandangan mata lurus ke depan, mereta tak sabar ingin segera berlari. Sampai akhirnya tanda itu terdengar. Priiittt! Peserta melesat, berlomba menuju garis finish. Diiringi debu yang berterbangan dihempas gerakan kaki-kaki telanjang yang berlarian.

*****

Siang itu 1 September 2014, rupanya Tuhan masih ingin mengajakku untuk bermain dengan anak-anak suku Bajoe. Setelah mengunjungi Pulau Rajuni Kiddi, aku bersama seluruh peserta Taka Bonerate Insland Expediion VI, dibawa ke Pulau Rajuni Bakka yang jaraknya sekitar 15-20 menit saja jika ditempuh dengan perahu kayu bermotor. Aku penasaran, setelah Anak-anak Matahari, kebahagiaan apa lagi yang akan aku temukan?

Di Pulau Rajuni Bakka ini kami disuguhi beberapa perlombaan yang melibatkan anak-anak. Ada perlombaan menggiring ban, balap karung, serta lomba renang masal di pantai yang kedalamannya bahkan tak sampai 2 meter.

Adegan demi adegan dalam perlombaan pun tersuguh sebagai hiburan bagi kami yang mungkin sedang ingin melepas jenuh karena sehari-hari berhadapan dengan setumpuk berkas dan komputer. Kami semua ikut bersorak memberi semangat sambil bertepuk tangan. Beberapa lainnya terlihat sibuk mengabadikan momen dengan kamera masing-masing. Tak terkecuali aku.

Aku bisa merasakan kobaran semangat dalam jiwa anak-anak yang mengikuti perlombaan hari itu. Ketika mata menatap lekat pada garis finish, mereka tau apa yang ingin dicapai. Tak peduli terik matahari yang menyengat. Tak peduli seberapa banyak dan kuatnya lawan yang harus ditaklukan.

Dan saat mereka sedang berlomba mencapai garis finish, aku melihat ada sebagian mereka yang harus terjatuh. Ada yang kemudian berusaha bangkit lagi, namun ada juga yang akhirnya menyerah kemudian keluar dari arena. Dan tentu saja…ada yang berbahagia karena berhasil mengecup manisnya kemenangan.

Senyumku mengembang ketika panitia lomba membagikan hadiah untuk para juara. Anak-anak itu begitu antusias menerima amplop-amplop berisi uang meski mungkin jumlahnya tak seberapa bagi  orang-orang yang terbiasa jajan di perkotaan, dan tak akan cukup untuk sekali makan di resto mahal meski sendirian. Namun bagi anak-anak itu, selembar uang Rp50.000 adalah jumlah yang sangat luar biasa.

Kebahagiaan itu pun tak hanya dirasakan oleh para juara, tetapi peserta lomba lain yang harus legowo menerima kekalahannya. Mereka semua berkerumun dan membuka amplop bersama-sama. Bertepuk tangan, bersorak sorai dan memberi ucapan selamat. Sebuah seleberasi tanpa ada satu pun expresi kekecewaan atau iri saat melihat kebahagiaan para juara.

Sungguh kontras jika dibandingkan dengan keriuhan pesta demokrasi dan politik Indonesia yang bahkan belum juga reda sampai hari ini. Sebagai orang awam, kadang aku pusing mendengar dan membaca beritanya. Mulai dari saat bersaing saat berjuang menuju kemenangan, perayaan kemenangan yang sulit untuk tidak membusungkan dada, ketidak puasan dan usaha menggagalkan kemenangan, sampai yang terjadi baru-baru ini soal undang-undang pilkada dan sidang DPR.

Ah, tapi aku tak punya kuasa untuk mengubah keadaan politik Indonesia. Sebagai warga sipil yang tak tau apa-apa tentang politik, aku hanya bisa berdoa semoga siapapun yang menjadi pemimpin bisa mengemban amanah dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Serta berdoa untuk anak-anak itu, juga semua anak-anak Indonesia, semoga hidupnya selalu diliputi kebahagiaan dalam lindungan Tuhan, agar mereka tumbuh menjadi penerus bangsa yang berbudi pekerti luhur.

Dan sebagai seseorang yang masih menyimpan impian untuk bisa terus menjelajah luasnya dunia, semoga Tuhan memberiku kemudahan untuk melihat, mendengar dan merasakan semua yang terjadi di sekelilingku, mengambil pelajaran darinya, sehingga menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.