Curcol

Belajar Menulis Fiksi

credit image
credit image

Alhamdulilah ya Allah, akhirnya kiamat internet di kantor sudah berakhir. Setelah hampir sebulan kabel telepon putus karena tersangkut truk tangki minyak. Hari ini sudah selesai diperbaiki dan aku bisa mencuri-curi waktu di kantor untuk ngeblog lagi.

Sedih juga blogku yang cantik ini sampai kusam kulitnya karena jarang dielus-elus. Hehe 😀

Tetapi mungkin ada hikmahnya juga dari kejadian putusnya kabel telepon kantor, rupanya aku sedang diingatkan untuk fokus pada pekerjaan sebelum aku cuti selama beberapa hari mulai besok, 11 s.d. 16 Desember 2013, untuk jalan-jalan ke Bali dan Jogja bersama suami. So, tepat di hari ini, hari terakhir aku kerja sebelum cuti, speedy kembali tersambung.

Selain menekuni setumpuk pekerjaan, selama kiamat internet terjadi, aku juga mencoba belajar menulis fiksi. Kebetulan, di grup Krakatau Writing Camp (KWC) sedang ada project mebuat antologi cerpen bertema perjalanan. Aku berusaha keras untuk menyelesaikan satu tulisan dalam waktu kurang lebih seminggu.

Ah, meski tak sempurna, tapi aku sekarang bisa sedikit bahagia. Menyungging senyum kemenangan karena telah berhasil mengalahkan ego yang selalu saja berkata “gue nggak bisa nulis fiksi!”.

Setelah menyelesaikan satu cerpen, aku mulai bisa merasakan keasyikannya. Rasanya ingin mencoba menulis lagi dan lagi. Dan karena itu pula, sepertinya aku sekarang punya alasan untuk membaca. Aku yang baru setahun belakangan ini ‘mengenal’ buku, sampai sekarang pun masih payah dalam hal membaca. Iya, Minat bacaku payah!

Mengapa aku harus membaca? Tentu saja karena aku ingin bisa menulis. Bukankah membaca adalah bahan baku utama untuk menulis? Tapi bukan hanya karena aku sedang mengumpulkan bahan baku. Aku memang lebih suka belajar dengan cara melihat banyak contoh yang sudah ada, lalu mempraktekkannya. Entahlah, bagiku, belajar teori rasanya membosankan.

Dan sejak aku bisa menyelesaikan tugas satu cerpen itu, setiap ada kejadian yang menyentuh perasaanku, rasanya imajinasiku mulai terpancing. Menari-nari banyak kata dalam benak yang kemudian terangkai menjadi kalimat-kalimat. Dorongan menulis itu tiba-tiba muncul dan menguat. Beberapa, aku coba menuliskannya di facebook. Seperti status hari ini yang aku tulis di wall;

     Ada yang menggenang di balik kelopak matanya. Diam-diam butiran bening itu turun merayapi pipinya yang kusam. Ia tak sanggup menahan perih dari luka di sekujur tubuh dan jiwanya.

     “O, tuhaan. Ampuni aku yang masih saja merawat luka ini,” pekiknya dalam hati.

     Selalu begitu, setiap kali ia menyadari betapa diri berlumur dosa. Hina. Namun kakinya tak bisa lepas dari jerat yang telah ia ikat mati sendiri.

Kadang-kadang, setelah menekan tombol ‘post’ untuk update status di facebook, fikiranku kembali terusik untuk melanjutkan dan menuliskannya menjadi satu cerita utuh. Dan hal kemudian serupa perangkap yang membuatku terjebak dalam kebuntuan. Konflik, alur, plot, diksi… Ya, tuhan… Aku harus lebih banyak belajar dan berlatih lagi. Semoga stamina ini terus terjaga. 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.