Sulawesi Selatan

Belajar dan Berproses

Pagi menjelang di 1 September 2014. Aku terjaga saat mendengar suara adzan subuh dari masjid yang letaknya tak jauh dari tempatku mendirikan tenda. Dan aku bersyukur bahwa Tuhan masih meberiku hidup. Meski dalam keadaan yang masih merindu rumah, namun tak sabar ingin menikmati petualangan hari ini bersama seluruh peserta Taka Bonerate Island Expedition VI 2014.

DSC00369_1

Pagi di Pulau Tinabo menjadi pengalaman menyenangkan buatku. Meski tak ada panorama susrise bulat yang kuidamkan. Ada banyak awan tebal yang berarak di kaki langit sebelah timur sehingga menghalangi jarak pandang. Tetapi tetap ada banyak hal lain yang membahagiakan.

Aku memang mudah menikmati apa saja yang tersaji di depan mata. Mungkin begitulah caraku menerjemahkan bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana duduk di tepi pantai bagian timur Pulau Tinabo. Sembari memejamkan mata, merasakan hembusan angin yang menerpa wajahku, dan mendengarkan irama deburan ombak.

Dan rupanya bukan aku satu-satunya di pantai itu. Ketika aku membuka mata, kudapati seorang perempuan berkerudung tengah berbaring tanpa alas di atas pasir pantai. Ia ada di sebelah kiriku dan jaraknya hanya selemparan batu saja dari tempatku duduk. Tangan kanannya memeluk kamera SLR. Mungkin ia sama sepertiku, pagi-pagi sudah meninggalkan tenda untuk hunting sunrise.

Di sisi yang lain, di sebelah kananku, seorang lelaki tampak asik memotret objek kecil di atas pasir. Aku penasaran. Aku bangkit dan mendekatinya.

“Hai, sedang memotret apa?”, tanyaku pada lelaki berpostur tinggi besar yang hanya memakai celana pendek sebatas lutut, dan kaos tanpa lengan.

Pemuda yang tengah berjongkok itu menoleh ke arahku. Ia tersenyum. “Ini”, katanya. Ia menujukkan sebuah rumah kerang yang sudah kosong dan berlubang, yang tergeletak di atas pasir.

“Bagus”, aku berkomentar meski tak diminta.

Ia kemudian berdiri dan pamit. Berjalan ke arah utara meninggalkan aku yang bahkan belum sempat mengajaknya berkenalan. Mungkin ia terusik dengan kehadiranku. Iya, mungkin.

Ini adalah hari pertama dalam rangkaian agenda Taka Bonerate Island Expedition VI 2014. Ada lebih dari 50 orang peserta yang mengikuti acara ini. Dan jumlah itu belum termasuk panitia. Wajar jika kami masih malu-malu dan belum berbaur. Bahkan untuk berkenalan saja masih canggung. Mungkin pemuda itu tipe pemalu, sementara aku berperan sebagai orang asing yang SKSD, alias sok kenal sok dekat.

Mr.Crab

Belum jauh pemuda itu berlalu, ia berhenti dan berjongkok lagi untuk memotret sesuatu dengan handphonenya. Seekor kepiting rupanya telah menarik perhatiannya. Dan aku tidak kapok untuk mengikutinya. Setidaknya, kepiting itu bukan miliknya, aku boleh ikutan memotret kan? Tetapi kali ini aku sedikit menjaga jarak. Meski aku tetap berbasa-basi sebelum ikut memotret kepiting itu.

“Wah, bagus kepitingnya. Aku ikutan motret ya”, ujarku meminta ijin. Pemuda itu menoleh dan tersenyum lagi.

Ini untuk pertama kalinya aku melihat kepiting yang bebas di tempat hidupnya. Biasanya, aku melihat mahluk jenis ini dalam keadaan terikat di pasar, atau sudah tersaji dan siap santap di atas meja makan.

Kepiting yang aku temui di Pulau Tinabo itu sungguh menarik. Ia seperti memiliki wajah dengan sepasang mata yang sayu. Ia berjalan menyamping kesana dan kemari. Terkadang kaki-kakinya disentuh ombak dan ia berlari menjauh. Dan kadang, ia berhenti sejenak untuk menurunkan cangkangnya hingga menyentuh pasir. Seolah mengistirahatkan kaki-kakinya yang mungkin lelah menopang cangkang kesana kemari.

“Noe, ayo sarapan!”, tiba-tiba terdengar suara lelakiku memanggil.

Aku bergegas memenuhi panggilannya. Lagi pula, baterai kameraku sudah hampir sekarat karena memotret kepiting terus menerus. Ditambah lagi, kakiku mulai pegal karena ikut berlari-lari mengejar kepiting, dan berkali-kali jongkok, berdiri, dan jongkok lagi, demi mendapat angle foto yang bagus.

Ya, untuk hasil yang memuaskan terkadang kita harus melakukannya berulang-ulang. Berkesperimen dengan cara yang berbeda. Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya pada percobaan berikutnya. Sampai mendapat hasil yang memuaskan.

Dalam hidup, kita memang harus terus belajar, dan sabar menjalani proses.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.