Belajar banyak saat overland to Bangkok

Masih nggak percaya rasanya, bahwa kemarin cuma numpang makan siang di Phi-Phi Don. Phi-Phi Don adalah pulau tujuan utama jika hendak berwisata ke Phi-Phi island. Di pulau Phi-Phi Don ini tersedia banyak sekali penginapan, lorong-lorong jalan yang dipenuhi jajaran toko souvenir dan restoran, serta penyewaan alat diving dan snorkeling.

Sedangkan pantainya, dipenuhi dengan long tail yang tertambat. Long tail adalah perahu kayu dengan buritan panjang seperti tangkai daun. Ya, cuma itu yang kami nikmati disana. Tanpa menyewa long tail untuk jelajah pulau dan menikmati pantai-pantai atau snorkeling. Ah, tapi nggak perlu sedih juga. Dibikin asik aja!

20140402_130956_1

Sekarang kami sudah tiba di Bangkok. Semalaman kami habiskan untuk tidur dengan berbagai gaya di dalam bus yang membawa kami meninggalkan Phuket. Berbagai gaya, maksudnya adalah nggak betah duduk di bus yang seatnya nanggung. Dibilang sleeper bus nggak bisa, dibilang bus biasa juga enggak. Sandaran kakinya nggak oke, jadi nggak bisa selonjoran. Busnya dua lantai, ber-AC, ada selimut, dan full music dengan bahasa yang tung tung parang pang, aku nggak mudeng. Hehe..

Oya, ada yang unik waktu kami duduk di bangku peron di terminal bus Phuket. Disana juga full music dari siaran radio. Waktu itu, ketika tepat jam 6 sore, semua orang sigap berdiri dari duduk santainya. “Ada apa? Ada apa?” Tanyaku. And mba Donna bilang, sepertinya ini lagu kebangsaan mereka. Ok, aku ikut berdiri, ikut menghormati. Yaa…meski kemarin aku dibentak-bentak sama petugas imigrasi di Krabi Airport. Hiks… masih sebel kalo ingat itu. Apa lagi waktu ngembaliin passport setelah distempel dengan cara dilempar. Kejam

Aih! Ceritanya bersayap…melebar kemana-mana. Tapi soal lagu kebangsaan itu, di Indonesia, budaya ini belum ada deh ya di tengah warga sipil. Lagu kebangsaan hanya dinyanyikan saat upacara bendera dan saat menjelang pertandingan sepak bola. Itu aja setahuku. Atau dengan kata lain, lagu kebangsaan kita hanya terdengar sakral dan dihormati dalam moment resmi. Kalau diputar di radio lalu terdengar di warteg, pada mau berdiri juga nggak ya seperti orang-orang di terminal Phuket itu

Hehe…malah kepikiran. Mari bicara hal lain lagi. Atau kembali soal bis Phuket – Bangkok deh.

Bus ini berangkat jam 19.30 dari Phuket, padahal di tiket tertera jadual keberangkatan pada jam 18.30. Molor sejam dan sampai di terminal Bangkok jam 8 pagi. Jam 3 pagi, bus ini berhenti 1 kali di toko oleh-oleh besar yang menyediakan resto dan toilet. Aku sempat turun dan kepingin jajan. Disana kulihat ada semacam gorengan dari seafood bentuknya seperti tahu kotak dan bulat seperti baso ikan, ada juga lumpia, ada dimsun. Tapi ngga jadi jajan, karena disebelah meja jajanan tersebut, ada lemari kaca yang memajang daging pork panggang. Sebelahnya lagi sosis pork. Sebelahnya lagi… ah sudahlah. Balik lagi ke dalam bus dan ngemil oreo aja yang disediakan free oleh penyedia jasa bus.

Intinya, dari cerita yang ngalor ngidul ngga jelas ini, aku ingin menyampaikan pesan dan sebuah kesimpulan. Bahwa, di negara lain, kita harus belajar sabar, menghargai budaya lokal, dan harus pandai menjaga diri.

Sabar menghadapi petugas imigrasi yang ngotot minta tiket return, padahal sudah kujelaskan nggak beli tiket return karena setelah dari Bangkok kami mau ke Cambodia. Menghargai lagu kebangsaan Thailand dengan berdiri sejenak padahal masih asik leyeh-leyeh dan masih sebel sama petugas imigrasi. Kudu pinter milih makanan halal. Dan masih banyak nilai-nilai lain yang kita pelajari jika kita berani keluar dari zona nyaman. 😉

Yuk traveling yuk…

Leave a Reply