World of NOE

Beda, Boleh kan?

taman kota lama

Tidak ada sepasang manusia yang benar-benar cocok di dunia ini, yang ada adalah dua orang yang saling mencocokkan diri.

Kutipan tersebut, entah sumbernya dari mana dan milik siapa. Tetapi aku lumayan sering mendengar dan membaca kalimat itu berseliweran di media sosial. Setelah difikir-fikir, ada benarnya juga.

Gara-gara Curhatan Teman

Beberapa kali aku terlibat dalam obrolan dengan teman perihal menjalin hubungan. Menarik memang, sekedar mendengarkan cerita dan berbagi pengalaman. Dan lebih dari itu, aku juga mencoba mengambil pelajaran. Terkadang cerita yang mereka share berupa keluhan, atau pertanyaan dalam rangka mencari solusi. Dan mendengar semua itu, aku justru teringat dengan semua yang pernah aku alami mengenai hubungan dengan pasangan.

Beberapa hari lalu, dalam perjalanan pulang dari kantor, temanku yang seorang wanita single bercerita tentang lelaki yang kini sedang menjalin hubungan dengannya. Sebut saja namanya Melati. Dia dan kekasihnya sama-sama memiliki keinginan untuk menikah. Hanya saja menurut si Melati, si pria terlampau cuek dan santai. Banyak hal yang dipertimbangkan oleh si pria jika harus menikah sesegera mungkin, memngingat usia Melati yang sudah menginjak kepala 3. Padahal semua masalah pasti ada solusinya. Jalani saja, jangan menunggu segalanya menjadi sempurna, itu prinsip Melati.

Satu lagi, temanku yang bisa dibilang sering juga sharing denganku. Dia laki-laki. Mari sebut namanya Rangga, meski sifatnya jauh berbeda dengan tokoh yang diperankan oleh NicSap dalam film AADC. Rangga disini sangat periang, bukan pendiam seperti pacarnya si Cinta. Aku memakai nama Rangga untuk menyamarkan identitas aslinya, ini karena rambutnya yang sama-sama ikal. (Ok! Back to topic please. πŸ˜€ Ini nggak lucu.)

Rangga pernah beberapa kali bertanya tentang bagaimana aku bisa berkenalan dengan lelaki kurus yang sekarang adalah suamiku sampai akhirnya memutuskan menikah, dan bagaimana aku mengatasi perbedaan-perbedaan antara kami? O, rupanya Rangga juga sedang dalam masa menyesuaikan diri dengan seorang perempuan yang (katanya) saat ini sedang dalam proses ta’aruf.

Tentang Aku & Suami

IMG-20150928-WA0001

Seperti juga Melati dan Rangga, aku dan suamiku pun sebernarnya memiliki masalah yang sama, yaitu perbedaan karakter. Awalnya, sempat juga bertanya-tanya, apa aku bisa hidup bersama dia yang karakternya bertolak belakang denganku? Aku β€˜boros’ dan hidup untuk hari ini, sementara suamiku jauh memikirkan masa mendatang. Aku terbiasa berfikir secara cepat dalam mengambil keputusan dan problem solving, sementara suamiku penuuuhhh perhitungan dan pertimbangan. Baiklah, kalau menurut buku yang membahas tentang kepribadian manusia, aku tergolong dalam karakter koleris sanguinis, sementara suamiku plegmatis hampir 100%.

Otak kananku bekerja lebih cepat, sementara suamiku lebih banyak menggunakan otak kiri dalam berfikir. Contoh sederhana perbedaan cara berfikir saat hendak merencanakan traveling bersama. Saat ada promo tiket murah, tanpa fikir panjang aku akan beli saja, meskipun tiket itu periode terbangnha untuk setahun mendatang. Bagiku, setiap kesempatan harus dimanfaatkan. Soal nanti jika sudah sampai di hari H, apakah bisa terealisasi atau tidak karena ada halangan, itu urusan nanti.

Sementara suamiku, saat aku tanya mau ikut beli atau tidak, pertanyaannya banyak sekali. Pertanyaan itu adalah refleksi dari apa yang ia fikirkan dengan otak kirinya. Tiketnya boleh murah, tapi bagaimana dengan akomodasinya selama traveling nanti? Biaya makan, penginapan, transportasi, rute perjalanan, dan lain lain. Kalau nanti ada sesuatu yang menghalangi, sayang kan kalau tiketnya hangus? Itu semua pertanyaan suamiku. Ribet!

Sebelum menikah, aku sih bisa dengan cuek mengambil keputusan sendiri. Tinggal bilang;

β€œYa sudah, aku pergi sendiri saja.”

Beda cerita kalau sudah status suami istri, kan? Bagaimanapun, harus ada persetujuan suami sebelum memutuskan sesuatu.

Tentang Aku & Anakku

main di krakatau 1

Menanggapi kegalauan Melati dan Rangga, aku juga mencontohkan beberapa β€˜kasus’ antara aku dan anakku yang kedua, Abyan, yang biasa dipanggil kakak.Β Si Kakak ini memiliki karakter yang sama persis denganku.

Contoh; semau gue, nggak mau diatur atau disuruh-suruh, semakin dilarang semakin dilanggar. Ternyata, aku dan si Kakak malah sering bentrok.

Koleris biasanya mendapat julukan si keras kepala, meski sebenarnya menurutku itu hanyalah prinsip dan kita wajib mempertahankan pendapat yang menurut kita benar. Bisa dibayangkan bagaimana dua orang keras kepala berselisih paham dan sama-sama kekeuh mempertahankan pendapatnya?

Aku dan Abyan sering β€˜berantem’ karena hal-hal kecil seperti soal β€˜taruh gelas di tempat cuci piring setelah minum susu’. Biasanya, Daffa’ si sulung yang biasa dipanggil Mamas, menjadi penengah di antara kami.

β€œSudah, biar mamas aja yang taro ya, Bu.” Begitu Mamas meminta ijin padaku yang tetap mengharuskan Kakak melakukan sendiri. Riuh suasana di rumah kalau sudah begini. πŸ˜†

Moral Of Story

selfie julur lidah

Seiring berjalannya waktu, aku semakin menyadari pentingnya mempelajari karakter manusia. Dengan begitu, kita bisa mencari bentuk komunikasi yang tepat dengan orang-orang yang dekat dengan kehidupan kita.

Mungkin jika dianalogikan, karakter manusia itu seperti medan magnet dengan dua kutubnya yang berbeda. Ketika dua kutub berbeda itu didekatkan, maka akan terjadi gaya tarik menarik. Sedangkan dua kutub yang sama sudah pasti akan saling menolak dan menjauh meski dipaksa untuk bersentuhan. Seperti itulah kita dan pasangan dengan segala perbedaan yang ada.

Kembali pada kutipan yang menjadi pembuka tulisan ini. Komunikasi yang efektif mungkin bisa menjadi kunci dalam proses mencocokkan diri. Untuk itu, mengetahui bagaimana karakter pasangan adalah hal penting. Penting juga untuk membangun hubungan yang baik dengan anak-anak, orang tua, teman, bos atau partner bisnis. Teman traveling juga.

Meski masih di level pemula dalam mempelajari macam-macam karakter seperti yang dibahas tuntas dalam buku pengembangan diri berjudul Personality Plus yang ditulis oleh Florence littauer, aku mulai bisa merasakan adanya kenyamanan dalam hubungan antara aku dan suamiku dengan perbedaan karakter. Terjawab sudah kekhawatiran yang dulu sering aku pertanyakan. Ternyata aku bisa mengatasi perbedaan itu. MasyaAllah! Semoga seterusnya bisa langgeng. Aamiin.

Oya, aku juga menyadari satu hal. Bahwa perbedaan yang ada adalah alasan bagi kami untuk bisa saling melengkapi. Aku yang akan memukul kentongan agar ia cepat action saat merencanakan sesuatu. Dan darinya aku belajar artinya sabar saat aku tiba-tiba harus patah karena melakukan sesuatu secara spontan tanpa perencanaan. Bukankah kami perpaduan yang pas?

Lagi pula, bagaimana kami bisa menikah kalau tidak ada perbedaan? Beda jenis kelamin, penting kan?

44 thoughts on “Beda, Boleh kan?

  1. Perbedaan justru membawa banyak keindahan. Dan seru hehehehe… Karena beda ama suami aku pun jadi banyak belajar noe.. Terpacu untuk berbuat lebih plus tambah sabar πŸ˜‰

  2. itulah jodoh, kalo sang pencipta udah berkehendak, meskipun beda tetap aja cinta, hehe pengalaman tetangga. dengan adanya perbedaan hidup kita jadi berwarna, ya nggak sihhh

  3. Perbedaan yang ada dan keinginan untuk saling mengerti dan menyesuaikan diri justru menjadikan hidup lebih berwarna, ya?

    Sukak deh de ngan tulisan ini. πŸ™‚

  4. Ulasannya sangat menarik. Bagaimanapun juga yang penting saling melengkapi mbak. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Salam Kenal dari Bandung ^_^ Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih ^_^

  5. berbeda karkter dengan pasngan …??
    hemm… menurutku itulah yang akan membuat hidup seseorang bahagia deng pasangannya…. asal saaling mengerti, memaklumi, melengkapi. πŸ˜€ πŸ˜‰

  6. banyak persamaan kadang malah gak enak juga mbak…misalnya aja kalo sama sama cuek, sama-sama keras kepala hehehehe…justru perbedaan itu yang malah bisa saling menguatkan…

  7. Dek Noe… justru perbedaan yang ada bisa membuat pasangan bisa saling melengkapi kan?
    Kalau terus berkutat pada perbedaan, gak akan bisa berjalan beriringan nanti hehehe
    salam buat mas ojrahar dan ketiga jagoannya ya

  8. Hahaha beda jenis kelamin sudah pasti jadi yang paling penting. Aku sama suami juga beda banget rul. Beda pokoknya mah lah.. Cuma ya memang itu yang bikin jadi rame rumah tangganya ????

  9. menikah, bukannya emang menyatukan 2 org yg berbeda sama sekali ya? bukannya nyari yg cocok-cocok.. ntar kalo maunya yg cocok, kaya artis lagi, yg kawin cerai, krn alasan beda prinsip πŸ˜€

    eh, met taun baruuu.. smoga makin berkah ya pernikahannya :*

  10. Sama! Saya dan suami juga karakternya sangat beda. Tapi Allah lebih mengetahui kenapa kita dipasangkan dengan pasangan kita kan ya. Setuju dengan : intinya komunikasi, karena masing2 bukan dukun yg bisa menebak pikiran atau perasaan dalam hati pasangannya πŸ™‚

    1. Nah, selain komunikasi, kudu luruskan niat jg kan ya mba. Kembali kepada Allah, Dia lbh tau knp dulu kita bs menikah dg pasangan πŸ™‚

  11. kuncinya adalah bagaimana mengelolanya. Berbeda bisa pecah kalau masing-masing lebih mementingkan diri sendiri. Padahal sebetulnya kalau bisa mengelola, berbeda itu asik. Malah jadinya penuh warna πŸ˜€

    1. Iyaa, dunia penuh warna karena adanya perbedaan. heran nya, banyaaak aja yg pd ngga mau menerima perbedaan, lalu muncullah tipe org nyinyir yg kbnyakan energi utk nyinyir sana sini ke org yg gk sesuai sama prinsip idupnya. wkwk. capek deh

  12. Dalam berumah tangga berbeda itu biasalah. Yang gak biasa satu pihak “menjajah” pihak lain. Saya kadang suka perhitungan, kadang beli sesuatu kalau butuh gak perlu hitung-hitungan.

  13. Mbak, sifat kalian yang berlawanan sama persis kayak aku dan istri pertamaku he3. Dia orangnya spontan dan terbiasa ambil keputusan cepat sedangkan aku penuh pertimbangan yang di matanya jadi terkesan lamban. Makasih udah sharing, saya jadi iku belajar juga.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.