Bali

Batubulan, kesan pertama di pulau Bali

Sawah Batubulan

Sore itu 11 Desember 2013, langit yang menaungi pulau Bali tertutup awan gelap. Hujan yang mengguyur bumi baru saja reda. Kabarnya angin puyuh juga sempat menyapu kota Denpasar dan Sanur. Aku baru saja mendarat di Ngurah Rai saat SMS masuk ke hand phoneku dari salah satu teman, Mba Wayan, yang mengabarkan hal tersebut.

Akan tetapi kondisi ini tidak lantas membuatku bad mood. Karena niatku dalam traveling ke Bali kali ini memang hanya ingin bersantai saja. Menikmati suasana desa yang tenang, melihat lebih jauh budaya lokal dan berinteraksi dengan penduduknya. Kebetulan, Mba Wayan yang memberi tumpangan menginap untuk 3 hari 2 malam, lokasi tempat tinggalnya di kawasan desa wisata Batubulan.

Aku semakin ngiler ketika Mba Wayan bilang, bahwa rumahnya sungguh mewah. Alias mepet sawah. Oh Tuhan! Aku kangen sawah. Terbayang sudah suasana liburan yang tenang di desa.

sawah batubulan collage

So, yang tanya-tanya selama di Bali aku ngapain aja, mohon maaf karena jawabanku di luar ekspektasi. Aku nggak ke Tanah Lot, nggak ngeliat dimana Monumen Bom Bali atau ke Garuda Wastu kencana. Aku juga nggak ke Jimbaran untuk nyicipin seafood-nya yang terkenal itu. Nggak ada agenda hunting sunset di Kute atau sunrise di Sanur. Nggak nyobain water sport di Tanjung Benoa atau Nusa Lembongan. Atau sederet destinasi dan activity lain yang biasa orang kunjungi dan lakukan di Bali.

Trus ngapain? Ya, selain hepi-hepi di kamar (kan honeymoon 😆 ), aku menikmati liburan kali ini dengan santai di rumah Mba Wayan. Dan karena dipinjemin sepeda motor sama Mba Wayan untuk jalan-jalan. Jadi kalo mood lagi bagus untuk keluar rumah, hayuk lah!

Pasar Senggol

Dari bandara Ngurah Rai sore itu, kami naik Bus Trans Bali (semacam Trans Jakarta) jurusan Batu Bulan. Sampai di terminal Batubulan hari sudah gelap. Perut terasa lapar, jadi sebelum pulang, yuk makan dulu.

Di terminal Batubulan ini, kalau malam banyak yang jualan, jadi semacam pasar malam. Dinamakan Pasar Senggol karena banyaknya pedagang dan jaraknya berdekat-dekatan. Jadi jika kita berjalan di sana, sudah dapat dipastikan akan senggol-senggolan dengan pengunjung lain atau juga baju-baju atau barang dagangan lain. Selain pakaian, bermacam kuliner bisa ditemukan di sana. Yuk, cari makanan khas Bali. Jangan pecel lele atau ayam goreng lagi lah, di Jakarta juga banyak. 😆 Lalu pilihan jatuh pada sate lilit dan srombotan.

Sate Lilit dan Srombotan

Apa itu sate lilit? Sate lilit adalah sate yang dibuat dari ikan. Daging ikan segar ditumbuk dengan bumbu, lalu dililitkan pada tusuk sate dan dibakar. Ada juga daging ikan segar yang dipotong-potong dan ditusukan ke tusuk sate lalu dibakar. Rasanya? Uenaaakkkk!

Sedangkan srombotan, adalah makanan khas Bali yang terbuat dari bermacam sayuran rebus. Semacam urap kalau di Jawa. Bedanya ada pada sambalya, kalau di Jawa sambal kelapanya diparut kasar, kalau di Bali lebih halus dan ditambah taburan kacang goreng. Pedes, tapi seger!

Main di Sawah

Keesokan paginya, setelah melewati malam yang hujan di rumah Mba Wayan, aku jalan-jalan pagi di sawah. Whuih…, sejuk! Tanaman padi yang tumbuh di sawah sedang hijau-hijaunya.

Hujan semalaman masih menyisakan embun-embun di batang dan pucuk-pucuk padi. Awan kelabu masih menggantung, dan matahari pagi pasih bersembunyi disebalik awan itu. Beberapa petani sedang bekerja membersihkan saluran air yang tersumbat sampah. Dari sawah yang berundak-undak itu, air mengalir turun ke sawah yang lebih rendah. Suara gemericiknya memberi suasana damai di jiwa. Aaaaaak…it was amazing!

Sesaji Bali

Oya, aku sempatkan juga pagi itu jalan-jalan keliling komplek. Menikmati udara pagi yang bercampur asap dupa. Arsitektur yang unik di setiap rumah, tempat-tempat sembahyang umat hindu di setiap sudut halaman rumah, ditambah sesaji dari bunga berbagai warna yang terserak di depan pintu gerbang setiap rumah. Sesaji itu di Bali biasa disebut banten atau upakara. Sedangkan tempat sembahyangnya dinamakan Pelinggih Betara Gede. Kerasa banget kan wisata budayanya?

Sedikit Tentang Desa Batubulan

Desa Batubulan ini terkenal sebagai desa seni. Utamanya adalah seni pahat dan seni tari. Terletak sekitar 10 KM dari kota Denpasar, di kecamatan Sukawati, kabupaten Gianyar. Dari bandara, membutuhkan waktu sekitar 45 menit dengan berkendara untuk sampai ke Batubulan. Tapi jika kondisi jalan macet, ya bisa lebih lama. Desa Batubulan ini letaknya satu jalur dengan Ubud dan Kintamani. Jadi, kalau mau ke Ubud atau ke Kintamani, bisa sekalian mampir.

Seni Pahat. Di sepanjang jalan utama, sangat mudah dilihat patung-patung hasil pahatan yang dipajang di galeri. Dan patung-patung tersebut nggak cuma bernuansa hindu, patung budha juga ada. Patung-patung pahatan ini rata-rata terbuat dari batu alam. Jika ingin melihat langsung proses pembuatan patung, kita tinggal mampir dan melihat-lihat. Biasanya para pemahat bekerja di bawah pohon rindang di dekat galerinya.

Seni Tari. Ada banyak sanggar tari di Batubulan jika ingin menonton pertunjukan seni tari khas Bali, seperti tari barong, tari legong, tari kecak, dan fire dance. Dalam satu kali pertunjukan akan menampilkan dua tari, seperti tertera dalam jadual yang sempat aku ambil fotonya. Harga tiket untuk satu kali pertunjukan di setiap sanggar rata-rata harnganya Rp100.000,- per orang.

jadual tari

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.