Tentang cinta dan kebahagiaan

Bahagia itu Cinta

Tidak dapat dipungkiri bahwa seluruh manusia di dunia ini pasti meginginkan bahagia. Dan ukuran kebahagiaan pada setiap individu juga berbeda-beda. Meski sebenarnya bahagia itu sesungguhnya sederhana saja.

Tentang cinta dan kebahagiaan

Ada yang beranggapan bahwa bahagia itu adalah uang. Maka jangan heran jika ia akan berusaha untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Ada yang baginya kebahagiaan adalah gelar di depan dan di belakang namanya. Ada lagi yang mengartikan kebahagiaan adalah jabatan dan kedudukan tinggi. Namun pertanyaannya, apakah semua hal-hal yang bersifat duniawi itu adalah sumber kebahagiaan?

Belum tentu!

Contoh sederhananya, dulu pertama kali aku punya handphone yaitu tahun 2003. Aku ingat waktu itu aku baru lulus SMK dan hendak kuliah. Bapak membelikanku NOKIA 3310. Betapa senangnya aku saat itu. Namun lama-kelamaan rasa bahagia itu memudar. Handphone menjadi barang yang biasa saja. Apalagi setelah bermunculan tipe baru yang lebih canggih. Akhirnya, keinginan untuk ganti handphone pun muncul. Dan setelah ganti handphone baru, kebahagiaan itu datang lagi, lalu memudar  karena handphone baru lama-kelamaan akan berubah menjadi biasa saja. Apalagi kalo nggak punya pulsa, handphone jadi basi banget!

Ternyata, kebahagiaan yang bersumber dari materi duniawi itu hanya semacan euforia yang bersifat sementara.

Kebahagiaan yang diukur dengan materi justru bisa berubah menjadi semacam zat adiktif yang membuat kita mengejar sesuatu yang lebih dan lebih besar lagi. Bukankah jika demikian makna kebahagiaan menjadi sempit dan semu?

Lalu, bagaimana agar kebahagiaan itu singgah dan bisa menetap dalam hati? Jawabnya adalah cinta.

Cinta itu seperti motor (penggerak). Sumber energi yang bisa membuat seseorang mau melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya. Maka jangan heran jika ada seorang yang tadinya jarang mandi, saat jatuh cinta dia lalu berubah menjadi rajin dan selalu berpenampilan rapi. Seorang pendiam dan cuek tiba-tiba jadi puitis karena cinta.

Coba renungkan sejenak. Bukankah sebuah kebahagiaan tersendiri jika kita bisa membuat orang yang kita cintai bahagia? Seperti bapakku yang pada waktu itu mau membelikanku handphone padahal handphone bagi keluarga bapak adalah barang mewah dan mahal untuk ukuran pekerjaan bapak sebagai penjahit. Maka seharusnya, bukan handphone itu yang membuatku bahagia, tetapi karwna cinta bapak. Ya, seharusnya saat itu aku menyadari  dan berbahagia karena bapak mencintai aku sehingga beliau membelikanku handphone.

Kata kunci diatas bahagia adalah cinta. Semua karena cinta, dan cinta lah yang kemudian melahirkan kebahagiaan.

Terkadang, ada orang yang melempar kata bernada skeptis terhadap cinta. Ketika mendengar ada seseorang yang sedang memperjuangkan cinta, atau menikah karena cinta, ia akan berkata; “makan tuh cinta, emang kenyang makan cinta?”

Memang, beberapa orang ada yang merusak makna cinta sehingga muncul tanggapan skeptis demikian. Mereka begitu mudah mengucap cinta, namun ternyata cinta itu hanya dibibir saja. Karena cinta adalah sumber energi, maka seharusnya kata cinta itu dibarengi dengan usaha untuk membuktikannya. Sehingga kalimat skeptis tersebut tidak akan ada lagi. Setiap orang akan berlaku sesuai posisinya masing-masing. Mencari nafkah karena cinta, memasak karena cinta. Semua karena cinta.

Leave a Reply