Baduy (lagi) – Keputusan yang berat

Part [1] [2]

Ojek yang aku tumpangi berhenti tepat di depan stasiun kereta api Serang setelah melaju kencang mulai dari depan pintu gerbang komplek perumahan Bukit Kramatwatu Indah. Melewati jalanan kota Serang yang masih lengang. Masih pagi sekali ketika aku tiba, arloji yang tak pernah lepas dari pergelangan tanganku menunjukkan pukul 6 kurang 25 menit. Pantas saja sinar matahari belum seutuhnya mengusir gelap.

Aku merogoh saku celana cargo di paha kanan. Mengambil selembar uang lima puluh ribuan yang sengaja aku simpan disana. Tak mahal, hanya Rp 15.000,- yang harus aku bayar sebagai pelanggan pertamanya. Lebih mahal Rp 4.000,- saja jika dibandingkan naik angkutan umum dari rumah ke stasiun Serang ini dengan rute putus-putus. Satu kali naik ojek dan dua kali naik angkot. Yes, keputusan naik ojek langsung seperti ini memang lebih praktis dan menghemat waktu.

Mendukung ransel dan menggandeng dua anak di kanan dan kiri, aku melangkah memasuki halaman stasiun. Beberapa orang terlihat sudah mengantre di depan loket yang bahkan belum dibuka. Diluar pagar, di atas trotoar, pedagang kaki lima sibuk membuka gerobak dan menggelar dagangannya. Sementara di depan gedung stasiun di sisi kanan, pedagang kopi keliling dengan gerobaknya dorongnya sudah lebih dulu mangkal. Dikerubuti calon penumpang kereta yang ingin menikmati aroma kopi dan menyeruputnya sebagai penyemangat pagi.

Ke sisi kanan stasiun aku menuju. Pada sebuah jalan beton yang bentuknya menankak untuk masuk ke dalam stasiun. Jalan ini dibuat khusus untuk penyandang cacat yang tak bisa berjalan dengan kakinya sendiri. Kuletakkan ransel tepat di bawah plang biru bergambar kursi roda, lalu mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sementara Daffa’ dan Abyan sudah sibuk berlarian di halaman stasiun sebelah kanan yang telah disulap menjadi lapangan badminton.

Ah, tiba-tiba tersaji kenangan beberapa bulan lalu. Pada Mei di tempat ini. Aku dan Daffa’ bersama rombongan Kelas Menulis Rumah Dunia. Berkumpul pagi-pagi sekali untuk naik kereta api kelas ekonomi menuju stasiun Rangkasbitung. Destinasi yang sama dengan hari ini, Sabtu 28 September 2013. Bedanya, sekarang aku bersama rombongan Backpacker Koprol. Kami akan ke Baduy. Rasanya tak sabar aku ingin mencicipi aroma ramah penduduknya. Kampung yang sunyi dan damai, hutan yang sejuk menyelimuti bukit-bukit.

Kubiarkan anak-anak dengan antusiasmenya. Kini mereka sudah berdiri di muka pagar yang membatasi halaman stasiun dengan rel kereta api. Wajah mereka sumringah penuh senyuman. Mereka tampak asik bercakap-cakap. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Yang aku tau, mereka suka sekali kereta api. Bahkan di pagi buta ketika mereka masih asik meringkuk di balik selimut, tak ada keluhan saat kuajak bangun. Mengetahui bahwa hari ini kita akan naik kereta, mereka senang sekali. Mereka langsung melucuti pakaiannya sendiri lalu menuju kamar mandi.

Mengamati dua buah hatiku, ada bahagia menyusup rongga dada. Saat melihat seyum dan bahagia itu tergambar di wajah mereka, aku ikut tersenyum.

Tak terasa sudah 10 menit aku berdiri di dekat loket. Belum terlihat perserta lain yang hendak ikut trip ke Baduy hari ini. Atau mungkin, mereka sudah datang lebih dulu dari aku? Hanya saja aku tak mengenali mereka. Ya, maklum saja. Beberapa peserta datang dari luar kota dan aku belum mengenal mereka sama sekali. Oya, aku ingat, aku dan anak-anak belum sarapan. Aku juga belum membeli air minum dan snack untuk bekal di perjalanan dan selama trip.

“Mamas…Kakak…! Kita beli minum dulu yuk.” Aku berteriak memanggil Daffa’ & Abyan. Saat mereka menoleh ke arahku, aku langsung mengusung ransel yang tadi aku letakkan di atas tanah, lalu melangkah ke luar stasiun. Daffa’ dan Abyan berlari menyusulku.

Di depan gerobak khas kaki lima, si pedagang masih asik menyusun botol-botol air mineral dan minuman ringan dalam kotak oranye yang berisi es batu.

“Pak, beli aqua yang besar,” kataku seraya mengambil sebotol air mineral ukuran 1.5 liter.

“Ambil aja, Neng. Enam ribu.” Sahutnya singkat.

Kulirik Daffa’ dan Abyan yang berdiri disisi kiriku. Mereka tampak bicara berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk susu cair kemasan kotak yang disusun rapi di sebelah jajaran air mineral botol.

“Kenapa, Nak?” Tanyaku. Mendengar suaraku, mereka menoleh. Sekarang wajah–wajah polos itu menatapku. Penuh harap. Aku tau apa yang mereka mau. Dua anak lelakiku ini memang penggemar susu.

Tak ada jawaban. Mungkin Daffa’ dan Abyan juga tau apa yang aku fikirkan.

“Enggak sekarang ya, Sayang.” Aku mencoba bicara dengan lembut. “Tadi di rumah kan sudah minum susu. Sekarang kita beli minum sama jajan aja ya.” Lanjutku lagi sambil melengkungkan senyum. Dan mereka mengangguk setuju.

Aku mengambil kue pia dan roti yang satuannya seharga Rp 500,- Masing-masing satu pack, isi 10 bungkus. Aku rasa ini cukup untuk camilan.

“Ini, Pak. Enam belas ribu ya semuanya.” Sambil kusodorkan uang pas dan menunjukkan belanjaan yang aku ambil dari gerobak kaki limanya. Diambilnya uang dari tanganku, lalu si Bapak sibuk mencarikan kantong plastik untukku.

Sambil menunggu plastik dari si Bapak, datang seorang pembeli lain. Pemuda berambut ikal. Ia tersenyum padaku. Entah, seperti ada kemistri saat aku menangkap dua bola mata di balik kaca matanya. Mungkin karena style-nya yang terlihat seperti seorang backpacker. Ada ransel hitam bertengger di pungungnya.

“Mau ke Baduy juga?” Tanyaku setengah menebak.

“Iya. Teteh juga ya?” Sahutnya dengan senyum yang semakin melebar.

“Iya. Dengan Backpacker Koprol, bukan?” Tanyaku lagi sambil menerima kantong plastik dari si Bapak pedagang kaki lima. Lalu aku sibuk mengemasi belanjaanku dan memasukkanya ke dalam ransel. Dan pemuda itu menjawab ‘iya’ lagi.

“Oke, aku duluan ya.” Tanpa sempat berkenalan, aku pamit pada pemuda itu. Fikirku, nanti juga bertemu lagi, kan?

Kembali aku berjalan sambil menggandeng Daffa’ dan Abyan menuju pintu stasiun yang jaraknya hanya beberapa langkah saja. Tepat di depan pintu stasiun itu langkahku terhenti. Kulihat sebuah angkot baru tiba dan berhenti di sisi trotoar, dekat dengan pedagang kaki lima tadi. Lalu satu per satu penumpang turun.

“Hei!” Spontan aku berteriak ketika melihat Jack keluar dari dalam angkot biru.

“Hei!” Jack membalas sapaanku sembari melambaikan tangan. Dengan senyum ramahnya yang khas. Rambutnya yang ikal masih gondrong. Dibiarkan terurai acak-acakan. Kadang terlihat lebih rapi jika diikat dengan karet. Atau terkadang ia memakai ikat kepala dari selembar kain slayer. Gayanya selalu sama, kaos oblong dipadu dengan celana setinggi lutut, memakai sepatu tracking dan kaos kaki pendek sampai batas mata kaki, tak ketinggalan carrier 75 litter di punggungnya.

Dia lah host acara trip ke Baduy hari ini. Bersama satu orang host lagi bernama Alvie. Pemuda kelahiran kota kembang. Perawakannya tinggi, kulitnya putih bersih. Nama lengkapnyanya yang Alvie Deliana itu membuatnya sering dipanggil ‘mbak’ oleh orang-orang yang baru dikenalnya lewat dunia internet. Namun setelah bertemu muka, semua orang akan dibuat kaget dengan jambang yang tumbuh di pipi hingga tersambung dengan jenggot di dagunya.

Jack dan Alvie adalah dua dari sekian orang volunteer yang rela repot-repot mengurusi berbagai kegiatan Backpacker Koprol. Termasuk juga aku. Hanya saja kali ini, aku tak ikut menjadi panitia acara. Dengan dua anak yang aku bawa, mungkin aku hanya bisa membantu sekedarnya.

Angkot biru itu telah kosong dan meninggalkan stasiun. Seluruh penumpangnya tadi adalah peserta trip ke Baduy dari rombongan Backpacker Koprol. Kami semua lalu berkumpul di halaman stasiun yang sudah mulai ramai. Loket telah dibuka dan terlihat calon penumpang sudah berbaris hendak membeli tiket. Sambil menunggu loket sepi, kami beramah-tamah dan berkenalan satu sama lain. Luar biasa para peserta kali ini, beberapa dari mereka datang dari luar kota. Tidak hanya Jakarta dan Bandung, tetapi juga ada yang datang dari Jogja, Lampung, dan Palembang. Jumlah peserta keseluruhannya mencapai 26 orang termasuk aku dan dua anakku.

“Wih! Mamas akhirnya ikut juga. Mbolos sekolah lagi? Ckckck…” Disela ramah tamah dan perkenalan, Alvie menyapa anak sulungku, Daffa’.

Daffa’ menatap Alvie dengan ekspressinya yang innocent. Aku yang merasa paling berdosa atas hal ini hanya bisa tersenyum lebar menahan rasa malu. Pasca kegalauanku semalam, akhirnya aku memutuskan untuk tetap ikut ke Baduy bersama Daffa’ dan Abyan.

Tahun ini Daffa’ mulai masuk sekolah di SD negeri XII Cilegon. Seperti SD negeri lainnya, kegiatan belajar mengajar berlangsung mulai hari Senin hingga Sabtu. Sebenarnya, sejak seminggu yang lalu, aku sudah memberi pengertian kepada Daffa’ agar bersedia tidak ikut ke Baduy lagi. Aku tidak ingin dia membolos sekolah. Toh ia sudah pernah aku ajak kesana. Biar kali ini aku kembali ke Baduy dengan Abyan saja.

Awalnya Daffa’ mau mengerti dan menerima penjelasanku. Aku juga berjanji padanya, pertengahan bulan Oktober nanti, kita pasti bisa traveling bresama lagi. Rencananya aku akan mengajak anak-anak mendaki gunung Gede. Tetapi tadi malam Daffa’ justru menangis saat aku pamit dan hendak menitipkan Daffa’ di rumah kakeknya. Ia ingin ikut lagi ke Baduy. Aku tak tega melihat dua sudut matanya yang basah. Air mata mengalir di pipinya. Diringi suara isak dari bibirnya yang mungil.

Kepada Jack dan Alvie aku mengirimkan pesan singkat. Memberi kabar bahwa mungkin aku tak bisa ikut ke Baduy karena Daffa’ yang tak mau ditinggal pergi. Dua pemuda itu responsive sekali. Dengan cepat mereka membalas pesan dariku.

Alvie tertawa mendengar kabar kegalauanku. Expreasi yang ia kirimkan melalui BBM hanya bertuliskan “ha ha ha”. Sementara Jack justru menjadi ‘kompor’.

“Yaudah, ajak aja semuanya anakmu itu.” Begitu balasan SMSnya.

Bukan salah siapa-siapa jika sekarang aku berada disini, di stasiun kota Serang. Menunggu kereta pagi kelas ekonomi jurusan Merak-Tanah Abang. Dengan kereta ini, nanti kami akan turun di stasiun Rangkas Bitung, lanjut dengan angkot dan mobil elf menuju Ciboleger, lalu trekking menuju kampung Cibeo di Baduy Dalam.

Aku yang salah jika akhirnya Daffa’ meninggalkan sekolah. Harapanku, semoga perjalanan ini tidak sia-sia. Semoga.

Leave a Reply