Banten, Traveling

Baduy (lagi) – Kisah di gerbong kereta

Part: [1] [2]

Hangat mentari mulai menyirami stasiun kota Serang. Seluruh peserta trip ke Baduy telah berdiri di sisi rel menunggu kereta tiba. Termasuk juga aku, ikut berdesakan diantara banyaknya calon penumpang kereta api kelas ekonomi jurusan Merak-Tanah Abang.

Kupegangi lengan Abyan diantara himpitan manusia yang semakin tak sabar menunggu kereta datang, lalu hendak segera berebut naik ke deretan gerbong berkarat yang pintunya selalu terbuka. Bismillahirrohmaanirrohiim… Aku berdoa dalam hati. Sementara beberapa langkah dari tempat aku berdiri, Daffa’ tampak bergandengan dengan Efri. Pemuda gokil yang tak pernah lelah melucu dalam situasi apapun. Presistensinya dalam hal lawakan garing itu memang patut diacungi jempol. Namun, sebagai backpacker kebanyakan, tetap ada sisi plus dalam dirinya. Ya, dia peka. Ia tau aku bakal kerepotan jika harus mengurus dua anak untuk naik kereta. Maka, pemuda dengan perawakan kurus, tinggi, berparas manis dan berambut ikal ini mengambil alih tanggung jawab Daffa’ dari tanganku.

Keretanya tiba. Kami segera naik melalui pintu pada gerbong yang tingginya sepinggang orang dewasa. Tersedia tangga memang, namun sayang, kereta berhenti pada posisi yang tidak tepat sehingga tangga yang seharusnya membantu pijakan para penumpang justru teronggok begitu saja di sisi gerbong. Tidak tepat di depan pintu. Aku dan para penumpang lain tentu kerepotan. Berebut posisi di depan pintu, berebut meraih besi pegangan pada sisi pintu, lalu penuh perjuangan memasuki gerbong kereta.

Di dalam gerbong kereta hampir semua kursi telah penuh. Kususuri lorong yang tidak lebar diantara dua kursi di dalamnya. Pertama, aku harus mencari Daffa’. Meski ia bersama Efri, aku tak akan tenang jika dia luput dari pandanganku. Setelah itu, baru aku akan mencari kalu-kalau ada yang mau memberikan kursinya untuk aku dan dua anakku.

“Ibu…!” Aku mendengar suara Daffa’ dari arah punggungku. Oh, rupanya dia di gerbong sebelah. Aku tuntun Abyan dan mendekati Daffa’.

Sekarang kami sudah berkumpul dan kereta sudah mulai melaju diatas rel. Kugenggam pergelangan tangan kedua anakku di kanan dan kiri. Sambil menjaga keseimbangan dan bersandar pada salah satu kursi. Tepat pada kursi berhadapan yang aku jadikan sandaran, duduk berhadapan 4 orang muda mudi. Saat mataku bersitatap dengan salah satu dari mereka, kami saling tersenyum.

“Sini, sini. Duduk sini!” salah satu dari mereka menggeser posisi duduknya. Lalu diikuti oleh temannya yang duduk dihadapannya. Mereka merapat lalu terbukalah space yang kira-kira cukup diduduki oleh ukuran bokong anak-anak. Maka Daffa’ dan Abyan pun kini duduk berhadapan bersama muda mudi itu.

Aku menarik nafas lega. Bagaimanapun predikat buruk yang disandang negeri ini, juga tentang manusia-manusianya yang katanya sudah memakai hukum rimba, yang kuat dialah yang menang. Namun dimanapun, akan selalu ada golongan orang-orang yang masih memiliki jiwa sosial tinggi. Seperti muda mudi ini. Dan bukankah dalam fasilitas umum golongan anak-anak, lansia dan orang cacat harus didahulukan?

Di lorong gerbong, aku masih berdiri berpengangan pada besi yang menjadi rangka kursi. Diselingi para pedagang yang berseliweran menjajakan aneka makanan dan minuman dengan bakul bambu yang disandang di pinggangnya. Ada juga pedagang asongan yang menawarkan rokok, tissu dan permen.

Ah, aku suka suasana seperti ini. Meski jauh dari kata nyaman, tapi banyak hal yang bisa kulihat. Rata-rata gerbong-gerbong kereta ini memang dipenuhi oleh kalangan masyarakat ekonomi kelas bawah. Mulai dari penumpang dengan pakaian lusuh dan membawa karung berisi berbagai hasil tani. Mungkin hendak dijualnya di Jakarta. Ada juga yang hendak ke Tanah Abang untuk berbelanja barang dagangan. Juga golongan backpacker sepertiku. Alasannya memilih kereta ekonomi mungkin sama, cepat dan murah. Meski tak bisa menolak paket lengkap yang tidak dijual terpisah, yaitu pedagang, pengamen, serta pengemis.

Aku mencoba mengalihkan perhatian dari wajah-wajah dan tindak-tanduk manusia di dalam gerbong. Pada jendela kereta yang hanya separuh tertutup kaca tebal, aku mencoba membuang pandangan. Angin bebas masuk dari sana. Kurasakan juga menampar-nampar wajahku. Di luar sana, pemandangan tersuguh dan tak jarang membuat takjub. Hamparan sawah yang menghijau, petani dengan kerbaunya, barisan tiang listrik yang saling terhubung dengan kabel, rumah-rumah penduduk, serta kebun. Panorama segar bagi sepasang mata yang jenuh karena sehari-hari pandangannya terbatasi olah gedung-gedung kota yang menjulang.

Di setiap stasiun yang dilewati, kereta berhenti sebentar untuk menaik-turunkan penumpang. Sayangnya, lebih banyak penumpang naik dibanding turun. Maka gerbong-gerbong semakin penuh sesak. Meski begitu, selama satu jam dari Serang menuju stasiun Rangkasbitung, aku sangat menikmati suasana ini.

Sementara aku sibuk dengan berbagai fikiran di kepala, sambil berdiri dan sesekali terhuyung diantara desakan banyak penumpang. Daffa’ dan Abyan justru seperti pangeran kecil yang senantiasa dilayani oleh para emban. Muda mudi yang membagi tempat duduknya itu juga membagi berbagai makanan kepada anak-anakku. Keripik kentang, roti, wafer dan coklat. Air minum juga.

Traveling bersama anak-anak memang membawa berkah tersendiri buatku. Daffa’ dan Abyan seperti sinyal wifi. Ia menghubungkan aku dengan banyak orang yang tersedot perhatiannya karena kepolosan anak-anak yang lucu. Bukan sekedar mendapat banyak makanan atau diutamakan untuk duduk di dalam sarana transportasi umum. Lebih dari itu, aku mendapat banyak teman baru.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.