Baduy (lagi) – Kesan menuju Cibeo

Part: [1] [2] [3]

Abyan CibolegerAbyan segera berlari ke salah satu tako souvenir yang ada di terminal Ciboleger untuk berteduh. Matahari sudah sangat terik ketika itu karena waktu sudah memasuki tengah hari. Kami baru saja tiba setelah perjalanan kurang lebih 1 jam dengan angkutan umum dari Terminal Pariuk Aweh di Rangkasbitung.

Menyaksikan wajah polos Abyan di toko, membuatku menarik nafas sedikit lebih panjang. Mengingat dari titik inilah kami harus mengandalkan kaki-kaki kami untuk bisa sampai ke Cibeo, kapung Baduy Dalam. Tak kurang dari 13 meter jarak yang harus ditempuh, tanpa kendaraan di jalan setapak berliku, medan yang menanjak dan menurui bebukitan dan lembah. Sanggup kah?

Di terminal ini juga, aku diajak memunguti kenangan saat pertama kali mengunjungi Baduy bulan Mei 2013 bersama Daffa’. Waktu itu cuaca hujan, hamir 5 jam kami trekking di bawah guyuran hujan. Perjalanan dengan berjuta rasa dan membekas di hati. Daffa’ yang masih berusia 6 tahun, begitu tabah melangkah setapak demi setapak hingga mencapai garis finish. Tanpa mengeluh, dan itu menjadi sumber kekuatan untuku, untuk tetap mengikuti langkah kecilnya. Tanpa mengeluh!

Sunguh berbeda dengan keadaan cuaca saat ini, di bulan September 2013. Tak ada hujan. Pengalaman apa yang akan aku dapat bersama Abyan, si bungsu yang belum genap 5 tahun usianya? Soal Daffa’ aku tak perlu kuatir lagi, dia sudah mandiri. Kubiarkan dia menikmati perjalanan kali ini bersama teman-temanku yang akan ikut membantu menjaganya. Sementara aku akan berkonsentrasi menjaga Abyan.

Setelah briefing dan makan siang bersama seluruh anggota trip, tibalah waktunya kami trekking. Aku memutuskan untuk meminta bantuan porter. Jika nanti Abyan kelelahan, seorang porter yang merupakan orang asli suku Baduy akan menggendongnya. Bismillah…

Kampung Baduy

Tetapi dasar Abyan, kolokannya masih belum hilang. Setiap kali mogok jalan kaki, pasti pilih-pilih orang untuk gendong. Alhasil, semua teman laki-laki yang ada di dekat kami pasti kebagian jatah gendong. 😀 Ok! It’s time to say… Thaaankk You Friend… 😉

Dalam perjalanan menuju kampung Baduy Dalam di musim panas seperti ini, aku justru menyadari satu hal. Bahwa perjalananku yang pertama di bawah hujan itu lebih menyenangkan. Tidak mudah merasa haus. Dengan satu catatan, fisik kita harus kuat. Sedangkan sekarang, di bawah terik matahari, kami mudah berkeringat, cepat haus. Jika mengabaikan kebutuhan minum, bisa saja kita dehisdrasi. Tapi jangan kuatir, Tuhan begitu baik. Di alam Baduy, banyak mata air yang bisa kita minum langsung airnya.

Kami beberapa kali berhenti untuk sejenak beristirahat. Banyak hal yang tetap menarik perhatian, meski aku sudah pernah melewati jalan ini. Ternyata benar apa yang dikatakan Jack, relawan Rumah Dunia yang entah sudah berapa kali ia bolak-balik ke Baduy. Baduy punya charisma luar biasa, tak akan pernah bosan untuk kembali, dan kembali lagi.

Gadis Baduy sedang membuat kain tenun
Gadis Baduy sedang membuat kain tenun

Di salah satu rumah yang kami singgahi untuk numpang sholat dzuhur, di salah satu perkampungan Baduy Luar. Aku kagum pada seorang gadis yang sedang menenun. Dia cantik! Dia pemalu namun ramah. Tersenyum dan sedikit bicara saat ku ajak mengobrol.

Sementara aku memperhatikan caranya menyulap benang demi benang menjadi selembar kain, dua anakku asik bermain di sungai. Sungai dengan air yang mengalir jernih dan tak akan pernah bisa ditemui di perkotaan.

Di sungai ini pula lah kami bertemu dengan jembatan bambu pertama yang biasa disebut gajeboh oleh penduduk setempat. Jembatan yang melintang di atas sungai, terbuat dari bambu dan tanpa paku. Hanya mengandalkan keterampilan tali temali, namun cukup kuat. Beruntung kali ini musim panas sehingga debit air yang mengalir tak begitu banyak dan deras. Pertama kali kesini, saat melintasi jembatan ini, air sungai berwarna coklat karena hujan. Arusnya deras. Dan ketika aku mencoba melihat ke bawah, aku merasa seperti jembatan ini bergerak melawan arus. Pusing!

main di sungai
Main di Sungai bersama On Efri

Rintangan terberat sebenarnya adalah saat bertemu dengan tanjakan cinta. Tanjakan panjang dan curam, dengan kemiringan 30 derajat. Di puncak tanjakan, cobaan masih belum rampung. Jalan setapak berundak, kemiringannya hampir 70 derajat. Rupanya inilah puncak bukit terakhir yang harus kami lewati untuk sampai ke Cibeo.

Oya, Tanjakan cinta ini disebut-sebut memiliki mitos, jika melintasi tanjakan yang cukup panjang dan curam ini dengan bergandengan tangan bersama kekasih, maka cintanya akan abadi. Ah, ya. Semoga cintaku dan anak-anakku abadi. 🙂

Sebelum sampai di perkampungan Cibeo, kami beristirahat untuk ke sekian kalinya. Di sebuah gubuk di tengah kebuh, kami singgah untuk minum dan sedikit berbincang dengan si pemilik kebuh. Kami membeli beberapa butir kelapa muda yang langsung di petik dari pohonnya. Segar rasanya, ketika sedang dahaga, meneguk air kelapa muda dan memakan daging kelapanya.

Di sini, kami juga sempat mencicipi nira dari pohon aren. Pemandu kami yang baik hati itu segera saja memanjat pohon aren dan mengambil hasil sadapannya semalam. Rasa dan aromanya sedikit mirip dengan air tape ketan. Jika  nira ini difermentasi lagi, maka akan mengandung alcohol dan disebut tuak. Tapi oleh orang Baduy, nira tidak dimanfaatkan untuk tuak, melainkan untuk membuat gula aren.

Setelah merasa cukup kuat untuk berjalan kembali, kami melanjutkan perjalanan. Tak lama, kami lalu tiba di Cibeo. Tak kurang dari 4 jam perjalanan kami dari Terminal Ciboleger menuju Cibeo. Sungguh, bukan hanya rasa lelah yang kami dapat. Ada banyak hal baru dan pengalaman baru yang kami dapat. Ada kesan mendalam dan kebahagiaan yang tak terhingga.

ciboleger family

Leave a Reply