Vietnam

Bad day in Ho Chi Minh City, Vietnam

Backpacking With children

Sekitar setahun yang lalu, di Sentosa Island, Daffa’ bilang; “Nggak papa, Ibu, hape-nya ilang. Jangan sedih. Nanti kalo udah punya uang lagi, Ibu beli lagi ya.” Mendengar itu, aku sempat menitikkan air mata. Kupeluk kedua anakku seraya bergumam dalam hati. Tak apa kehilangan HP, asal aku tak pernah kehilangan kalian. Ah, sampai sekarang pun, aku tak pernah bisa lupa kejadian itu, saat handphoneku dicuri orang di Singapura.

Beberapa hari lalu, seseorang memelukku di kamar saat aku sedang menangis. Ia berbisik; “Jangan sedih ya. Tak apa kehilangan HP, dari pada kamu yang hilang, kemana harus kucari lagi?”

*****

Susahnya cari makan halal

Setelah melewati 12 jam perjalanan overland dari Phnom Penh – Cambodia dengan bus. Kira-kira pukul 11.30 siang, kami tiba di Ho Chi Minh City dan langsung check-in di Hoang Lien Hotel. Lokasinya di Distrik 1, tak begitu jauh dari Ben Tanh Market, dimana di sana terdapat banyak rumah makan halal.

Jam 2 siang, kami keluar untuk mencari makan siang yang halal. Bodohnya, kami berjalan ke arah Selatan, sedangkan Ben Tanh Market ada di sebelah utara jika dari hotel yang kami singgahi. Jadilah kami jalan berputar-putar sampai kaki pegal. Tak tanggung-tanggung, kami menghabiskan 4 jam untuk berjalan kaki dari hotel untuk menemukan lokasi Ben Tanh Market. Padahal seharuanya 10 menit cukup jika kami melewati jalur yang benar.

 

Seafood Pho Vietnam

Benar saja, ada banyak restoran halal di sekitar Ben Tanh Market, meskipun harganya sedikit lebih mahal dibandingkan makanan lain di resto atau warung makan khas Vietnam. Sekali makan di resto halal kita bisa menghabiskan 50 – 100 ribu rupiah untuk 1 orang. Sedangkan jika mau jajan sembarangan, dengan 10 – 20 ribu rupiah saja sudah cukup untuk mengenyangkan perut. Ya tapi resikonya harus mau makan pork alias daging babi. hehe 😀

The next tragedy

Habis magrib, kami kembali keluar dari hotel untuk jalan-jalan dan menikmati suasana kota pada malam hari. Tujuan kami adalah taman terbuka yang letaknya pun sangat dekat dengan Ben Tanh Market. Saat itu malam minggu, taman dipenuhi muda mudi serta para turis. Aku bersama abang, Agus dan Ayub, berjalan berkeliling sambil mencari spot bagus untuk foto-foto. Dan kaki kami berhenti saat menemukan satu bangku kosong. Di sini lah tragedi itu dimulai.

Kami berempat duduk di bangku dan menghadap kamera. Kami mengabil gambar menggunakan tripod, dan koneksi bluetooth untuk menggatikan tombol shutter. Kameranya di setting mode night shot, dengan low speed selama 5 detik. Maka, saat pengambilan foto, kami harus diam selama 5 detik agar foto yang dihasilkan bisa bagus.

Ho Chi Minh City

 

Ketika kami mematung dengan pose kami masing-masing, tiba-tiba ada perasaanku tak enak. Seperti ada sesuatu yang bergerak di belakangku. 5 detik pun berlalu. Semua segera menghambur mendekati kamera untuk melihat hasil fotonya. Kecuali aku. Aku sibuk mencari handphone yang tadi kuletakkan di bangku, tepat di sebelahku. Ya Tuhan, HP itu hilang!

Dalam hasil foto dengan mode low speed itu terekam, sesosok perempuan berkaus putih dengan bawahan hot pants, berjalan mendekat ke arah kami dari arah kanan, lalu berhenti tepat di belakang kami, mengambil handphone dan berbalik badan lalu berlari.

Aku berusaha mengejar, tapi tak menemukan. Lalu kami langsung menuju kantor polisi terdekat. Di sana, ada seorang cewe bule yang ternyata sedang melaporkan kasus yang sama denganku. Ah, seketika saja aku menyimpulkan, Di Ho Chi MInh City banyak kasus kriminal copet dan jambret.

Akan tetapi sayangnya, laporanku tak diterima. Katanya, lokasi dimana aku kehilangan handphone tak masuk dalam area yang harus ditangani oleh kantor polisi yang aku datangi. Aku lalu segera menuju kantor yang ditunjukkan oleh polisi di kantor pertama. Dan sialnya lagi, polisi di kantor yang kedua ini malah tidak welcome sama sekali.

Katanya, untuk membuat laporan, aku harus minta surat pengantar dari resepsionis hotel. Polisi itu bicara sambil berlalu, tanpa basa basi, tanpa senyum, tanpa menujukkan keprihatinan sama sekali.

Aku sudah cukup letih berjalan kesana kemari hari ini. Sudahlah, lupakan saja. Aku sadar, handphone itu tak akan kembali. Niat awalku melapor, hanya agar menambah nilai statistik kasus pencopetan semacam ini. Siapa tau angka itu berguna bagi pemerintah untuk membuat kebijakan dalam rangka menguragi kriminalitas.

Tips;

– Berhati-hati dimanapun kita berada. Karena betul kata Bang Napi, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan.

– Belilah asuransi perjalanan, karena di beberapa negara jika kita mengalami kehilangan, pemerintah setempat akan mengganti kerugian, termasuk Vietnam. FYI, Bule cewe di kantor polisi itu punya asuransi, dan aku tidak. huft!

Bagian tersulit sebenarnya adalah…

Hari-hari berikutnya setelah kehilangan handphone, menjadi hari terberat untuk kulalui. Bukan soal aku tak bisa lagi update blog dari hp di sela-sela waktu istirahat di hotel dan memanfaatkan sinyal wifi. Tapi… komunikasiku terputus dengan anak-anakku. SAKIT!!!

 

3 thoughts on “Bad day in Ho Chi Minh City, Vietnam

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.