Antara Hobi, Teknologi & Semangat Kesuksesan

motivasi

Pernah dengar cerita tentang Vinod Thakur? Seorang lelaki India yang terlahir tanpa kaki. Ia mendadak terkenal setelah muncul di layar TV, dan kemudian memenangkan ajang India Got Talent karena kemampuannya dalam menari. Tidak tanggung-tanggung, hadiah yang dimenangkan yaitu sebanyak 800 kali lipat jika dibanding gaji bulanannya sebagai tukang reparasi ponsel.

Menariknya, kepiawaiannya dalam menari diperoleh dengan cara belajar sendiri di rumah dan tanpa instruktur. Ia berlatih selama 5 bulan sebelum mengikuti kompetisi, dengan cara menonton video yang diunduh dari warnet.

Vinod Thakur bukanlah satu-satunya orang dengan keterbatasan fisik yang mampu mendulang prestasi. Sebut saja Bethoven. Hingga kini, musik instrumental hasil karyanya masih banyak diputar dan dinikmati banyak orang. Siapa sangka kalau ternyata ia memiliki gangguan pendengaran?

Atau Shakespeare yang dikenal sebagai seorang seniman besar dunia. Siapa sangka kalau ternyata ia lumpuh?

Atau jika kalian adalah penonton setia Kick Andy, kalian pasti tak melewatkan satu episode dengan bintang tamu seorang fotografer andal tanpa jari tangan dan kaki. Jika belum, coba cari videonya di YouTube dengan kata kunci Achmad Dzulkarnaen yang biasa dipanggil Dzul.

Pernah Putus Asa

Membaca kisah hidup Dzul, membuatku kembali pada ingatan masa lalu. Masa-masa paling kelam di mana aku merasa tak berguna dan nyaris gila. Di rumah, yang kulakukan hanya menangis di sudut kamar. Sementara di kantor, aku lebih suka bersembunyi di dalam gudang dan baru akan keluar jika ada yang harus dikerjakan.

Tak terhitung seberapa kali kubenturkan kepala ke dinding karena merasa sangat bodoh. Pernah juga kucoba menjerat leher sendiri dengan tali karena merasa tak ada alasan lagi untuk hidup. Terlebih saat menyadari bahwa aku harus menyandang status janda. Sungguh, itu bukan cita-cita dalam hidupku.

Putus asa, aku rasa itu juga yang dialami oleh ibu kandung Dzul saat mendapati anaknya terlahir cacat, hingga berniat membuangnya dengan cara dimasukkan dalam kantong plastik. Keputusasaan itu juga yang membuat Dzul nyaris bunuh diri selepas SD karena merasa tak diterima oleh lingkungannya.

Pada titik ini, aku merasa memiliki kesamaan dengan Dzul. Kami sama-sama pernah mengalami masa sulit, namun akhirnya kembali tegak berdiri untuk menjalani hidup. Dzul menjadi seorang fotografer profesional walau tak punya kaki dan jari tangan, dan aku masih menjadi karyawan kantoran yang pergi pagi pulang petang. Hehe. Untungnya dulu bosku ngga main pecat aja saat aku lebih banyak bersembunyi di gudang hanya untuk menangisi nasib.

Titik Balik Kesuksesan

Ya. Aku memang harus banyak berterima kasih kepada bosku itu. Terlebih saat ia memutuskan memasang jaringan internet untuk seluruh komputer kantor. Sejak saat itu aku mulai aktif di media sosial dan mulai punya banyak teman baru. Lagi, terima kasih Pak Bos, karena membebaskanku main facebook dan twitter pada jam kerja.

Teman-teman traveling
Teman-teman traveling

Dari teman-teman yang kukenal lewat media sosial itu, aku mulai mengenal traveling. Beberapa di antaranya membuat aku termotivasi untuk menulis cerita perjalanan dan mempublikasikan melalui blog. Dan salah satu teman yang kukenal dari twitter malah menjadi suamiku sekarang.

Traveling dan Blogging, perpaduan dua hobi yang kemudian mengantarkanku pada dunia yang lebih terang.

Aku tidak hanya mendapat label travel blogger dari hobi itu. Tetapi juga mendapatkan hati anak-anak setelah sekian lama kurang mendapat perhatianku. Yaitu ketika aku berhasil mewujudkan cita-cita mereka untuk naik pesawat. Tiket pesawat pertama yang kubeli untuk anak-anak adalah tiket penerbangan ke Singapura dengan harga hanya 500 ribu pergi pulang.

Mendapatkan tiket promo dengan harga sangat murah kuanggap sebuah prestasi besar. Kalau ngga kenal blogging dan ngga rajin blog walking, mungkin aku ngga akan pernah tau juga bagaimana cara berburu tiket murah. Jadi, terima kasihku untuk kalian para blogger dengan tulisan-tulisan yang amat berguna.

Selanjutnya, terima kasihku untuk semua pengalaman traveling yang akhirnya kutuliskan. Trafik blog perlahan meningkat dan stabil. Beberapa tulisan berhasil menduduki page one Google. Hingga akhirnya seorang redaktur sebuah brand penerbitan ternama Indonesia menemukanku.

Aku ditawari menulis buku. Tentu kesempatan itu tak kusia-siakan. Walau konsekwensinya aku harus mau begadang setiap malam untuk menulis, dan siangnya tak boleh absen bekerja.

Khusus saat weekend, aku meliburkan diri dari menulis. Aku lebih memilih traveling dan menyempatkan update blog. Ini agar aku tetap bahagia walau dikejar deadline. Alhamdulillah, naskahku selesai dalam waktu 3 bulan dan sesuai target.

5 bulan setelah naskah selesai, bukuku terbit. Tak lama berselang, tawaran menulis buku datang lagi dari sebuah penerbit yang biasa memproduksi buku-buku islami. Kali ini tawarannya berupa menulis buku antologi catatan perjalanan. Selain aku, ada sederet nama travel blogger keren yang ikut terlibat.

Tak terkira senangnya rasa hatiku saat itu. Aku pun mulai sibuk bersenang-senang dengan hobiku. Traveling, backpacking dengan anak-anak, menulis, promosi buku, berbahagia.

batu-gambir-merak-cilegon-1024x683_1
Backpacking bersama anak

Masa-masa kelam yang hampir membunuhku sudah tak kuingat lagi. Bahkan saat kenangan itu hadir, aku sudah bisa tersenyum bangga, karena aku masih tegak berdiri sampai hari ini.

Apa lagi jika melihat perjalanan hobiku yang hanya didukung peralatan seadanya.

Melampaui Batas

Suatu hari, jaringan internet di kantor akhirnya diputus karena alasan penghematan biaya. Netbook di rumah yang biasa kupakai menulis pun akhirnya wafat setelah kerja paksa bertahun-tahun. Maka selama 3 tahun terakhir ini aku hanya mengandalkan smartphone untuk blogging dan atau menulis apapun.

picsart_11-29-01-46-34
Mobile blogging saat traveling

Walau merasa asik bisa blogging lewat smartphone, kadang aku harus tertekan juga jika ada pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan lewat laptop. Di saat seperti itulah aku biasanya minta tolong teman. Alhamdulillah aku punya banyak teman yang mau direpotkan. Untuk itu, ada banyak rasa terima kasihku untuk kalian wahai kawan.

Malah ada salah satu kawan yang kebaikannya melampaui batas rata-rata. Dia memberiku laptop yang katanya tak terpakai di rumahnya. Sayangnya, belum lama ini laptop Acer One 10 pemberiannya dicuri orang.

Bisa dibilang, saat ini aku sedang sedih karena kehilangan laptop. Tau sendiri kan, laptop adalah nyawa kedua bagi seorang blogger. Di sana lah segala data penting disimpan, termasuk foto-foto yang menjadi pendukung tulisan. Saat ia hilang, maka hilang pula separuh nyawa.

Laptop Acer One 10" yang tinggal kenangan
Laptop Acer One 10 yang tinggal kenangan
Si Kakak sedang memilih ransel baru dengan di tablet Acer One 10"
Si Kakak sedang memilih ransel baru dengan Acer One 10 yang bisa jadi tablet

Padahal laptop itu juga yang biasanya sangat membantu kalau  anak-anak mendapat PR dari sekolahnya dan berhubungan dengan internet. Laptop yang biasanya jadi rebutan anak-anak kalau sudah tiba saatnya mereka boleh membeli barang baru dan memilih sendiri di toko online. Biasanya itu kalau aku habis menang lomba blog, atau saat tahun ajaran baru dan mereka butuh tas atau sepatu baru.

Kehilangan laptop yang punya banyak kenangan jelas membuatku shock dan stres. Untungnya aku punya support system yang baik.

Impian Baru, Semangat Baru

Ojrahar, suamiku, membantuku untuk memiliki impian baru.

“Noe, kayaknya lo bakal cocok deh sama laptop yang ini,” katanya penuh semangat sembari menyodorkan smartphone. Di layarnya, terlihat sebuah foto notebook Acer Switch Alpha 12, notebook 2-in-1 yang powerful dan fanless.

acer
Acer Switch Alpha 12 (sumber: www.acerid.com

Liat deh! Ini keyboardnya bisa dilepas dan jadi tablet. Bodinya tipis, jadi ngga terlalu berat kalo lo bawa pergi traveling,” ujarnya lagi.

Wah! Sama kayak Acer One 10 yang kemarin dicolong orang, fikirku dalam hati.

Aku mulai tertarik. Kubaca lebih lanjut hasil browsing Ojrahar tentang notebook berprosesor Intel Core i Series generasi ke-6, yang memiliki kinerja kencang dan hemat energi. Ada video juga di web acerid.com yang kubaca saat itu. Kutonton dan terpesonalah aku dibuatnya.

Bagaimana aku ngga terpesona, kalau notebook-nya tipis tapi ngga cepat panas saat digunakan. Padahal ngga pakai kipas.

Menggantikan kipas, Acer mengusung teknologi Acer LiquidLoop™ sebagai pendingin. Di dalamnya terdapat pipa berisi cairan pendingin untuk menstabilkan suhu prosesor Intel Core i Series secara optimal. Dengan begitu, Acer Switch Aplha 12 ngga berisik saat digunakan, dan ngga membutuhkan ventilasi udara yang mengeluarkan hawa panas dan membuat laptop ngga nyaman saat dipangku.

Selain itu, keyboard docking-nya menggunakan engsel magnet. Jadi proses switching antara laptop dan tablet bisa dilakukan dengan cepat dan aman. Sama sepertiku yang harus siap berubah-ubah menjadi apa saja sesuai kebutuhan. Sehari-hari, aku harus menjalankan tugas sebagai karyawan kantor, dan harus siap menjadi ibu rumah tangga jika sudah kembali ke rumah.

Bahkan pada saat-saat tertentu, aku harus siap menjadi 100% blogger dengan berbagai macam aktivitas, seperti blogger gathering lintas negara, pernah menjadi pembicara dengan tema “from blog turn to book”, atau sekadar menjadi blogger yang harus duduk diam di balik meja dan menulis dengan serius.

Bersama bloggers dari beberapa negara ASEAN saat event blogger gathering di Jakarta
Bersama bloggers dari beberapa negara ASEAN saat event blogger gathering di Jakarta

Keinginan untuk total saat menulis di blog, membuatku harus berlama-lama di depan laptop dan tentu saja itu melelahkan. Kuping lelah karena suara bising dari kipas pendingin di dalam laptop. Mata lelah karena terlalu lama menatap layar. Juga jiwa yang lelah seandainya kinerja laptopnya lambat.

Kabar baiknya, Acer Switch Alpha 12 bukan hanya laptop 2-in-1 yang bertenaga tanpa kipas. Layarnya yang selebar 12 inchi, punya resolusi QHD (2160 x 1440 pixel) dan sudah dilengkapi teknologi IPS. Ini membuat layar Acer Switch Alpha 12 punya gambar yang tajam dan warna yang baik jika dilihat dari berbagai sudut. Sudah punya teknologi BlueLight Shield juga untuk mengurangi emisi cahaya biru pada layar.

Cahaya biru diketahui sebagai visible light (cahaya tampak) yang memungkinkan mata untuk mengenali berbagai warna. Sumbernya bisa dari matahari atau dari lampu led buatan manusia. Sayangnya, cahaya biru dapat memberikan dampak buruk kepada mata jika terpapar dalam waktu yang lama atau terlalu sering.

Dengan adanya BlueLight Shield pada Acer Switch Alpha 12, mata penggunanya bisa lebih terlindungi dan tidak cepat lelah walaupun menggunakan notebook dalam waktu lama.

Sistem operasinya pun menggunakan yang terbaru yaitu windows 10. Dilengkapi juga dengan berbagai teknologi terdepan lainnya seperti port USB Type-C dengan USB 3.1 gen 1 dan pena digital Active Pen.

Post USB Type-C diketahui memiliki kecepatan 10 kali lipat dalam hal transfer data, bisa difungsikan sebagai output video, dan juga dapat mengalirkan daya hingga 4.5W untuk mengecas gadget.

Active Pen Acer Switch Alpha 12 (sumber: www.acerid.com
Active Pen Acer Switch Alpha 12 (sumber: www.acerid.com

Sedangkan Active Pen, sangat membantu mereka yang hobi corat-coret digital. Seandainya aku punya Acer Switch Alpha 12, mungkin aku bisa punya hobi baru lagi, yaitu menggambar.

Ah, diam-diam ada percikan api semangat yang menyala dalam hati. Semangat yang dipicu oleh impian memiliki Acer Switch Alpha 12.

“Jadi gimana? Udah siap kejar deadline lagi? Ada banyak lomba juga tuh. Semangat ya! Gue doain deh lo menang dan hadiahnya untuk beli laptop baru,” ucap Ojrahar menyemangati saat melihatku mulai senyam-senyum sendiri membaca artikel ulasan Acer Switch Alpha 12.

Jadi ingat satu kalimat bijak, bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib satu kaum, kecuali ia berusaha mengubahnya sendiri. Kalimat yang berhasil melecut diri untuk berani melampaui keterbatasan, seperti halnya Vinod Thakur dan juga Dzul.

Lecutan yang membuatku berani memiliki impian, dan berani bertindak untuk mewujudkannya. Lecutan yang mengantarkan aku pada titik ini, menjadi seorang ibu, istri, karyawan kantoran, dan tetap menjadi diri sendiri dengan hobi traveling dan blogging.

Switchable me, seperti Acer Switch Alpha 12 yang fleksibel.

Acer Switchable Me

58 thoughts on “Antara Hobi, Teknologi & Semangat Kesuksesan”

  1. Noe… saya baru tahu kalo suamimu itu kenal lewat twitter 🙂 pengen ketemu lagi sama si baby, yg kayaknya skrg udah gak baby lagi ya hehehe… (pengen nyubit pipinya) 😀

    1. Traveling dan.blogging buat aku adalah dua sisi mata uang yang gk bisa dipisah lagi kak. Lagian, dipisahkan itu sakit. Eaa

  2. Moga diganti yg lebih baik yaaah mba Noe…good luck yaa
    Aku suka foto mba Noe pake kostum itu..uhuy
    Jadi di balik meja dan di depan panggung yaa 🙂 keren

  3. Semangat ya Noe, semua orang memiliki cerita masing masing dalam kilas balik hidupnya. Akupun gak tahu, akan bagaimana hidupku ke depan. Tapi aku berharap selalu ada imam, hati dan pikiran yang jernih.

    Menyalurkan sesuai dengan hobby dan passion adalah satu hal yang membahagiakan. Seperti traveling dan blogging dalam hidupmu.

    Luka dalam perjalanan hidup, adalah hal yang manusiawi. Kehilangan laptop, menjadi kecil dibandingkan ketika kamu terpuruk dulu. Dan pasti semua akan ada gantinya.

    Sukses selalu buat kamu, ya Noe.

  4. Nggak nyangka ternyata asal muasal hobi travelling Mbak Noe dari keputusasaan. Tapi berkat keputusasaan itu sekarang malah jadi hebat bisa keliling-keliling, menulis, menghasilkan karya, dan ketemu banyak orang.

  5. karena traveling blogging sangat keterkaitan ya kak sekarang…
    semua apa yang pernah kita alami harus di tulis
    biar semua orang tau apa yang pernah kita lakukan
    dan memberikan informasi untuk berbagi dengan mereka 🙂

  6. Semangat mba Noe..semoga menang dan mendapatkan Acer swithchableme ya, dan bisa kembali produktif menelurkan karya karyanya..masih banyak tempat tempat indah menanti mba Noe untuk dijelajahi..happy blogging and happy Travelling..

  7. Keren semngatnya mba, semoga dapet acer gratisan *amiin* aku pun mau kalau gratisan hihihii. Hidup ini indah ketika kita membuka diri dan melihat sekeliling, ternyata lebih banyak hal yang patut disyukuri daripada ditangisi 🙂

Leave a Reply