Andai aku bisa menggantikanmu

Tubuh lemahnya terbaring di atas ranjang besi yang dilapisi kasur kapuk. Rambut peraknya terurai tak beraturan di atas bantal. Garis keriput kulitnya membuatku tersadar sekali lagi, nenekku, yang tetap kupanggil mamak karwna merawatku sejak aku bayi itu, telah rapuh dimakan usia.

Matanya sayu, tak bertenaga. Namun masih bisa kulihat binar bahagia di dalam sana, saat Ia menatapku yang terpaku disisinya. Diulurkan tangan kirinya padaku saat menyadari kehadiranku. Kusambut, kuciumi. Seketika air mata yang susah payah kutahan di balik kelopak mataku tumpah.

“Mak, ini aku, Nurul”, bisikku disela isak tangis.

“Hu…aa…u”, sahutnya. Ya Allah, nenekku tak hanya lumpuh separuh tubuhnya, tapi kini tak dapat lagi berbicara.

Tangisku pecah untuk ke sekian kali.

*****

Lampung, 15 Agustus 2014, bermalam di kamar nenekku, pahlawanku, malaikatku…

Andai aku bisa menggantikan rasa sakitmu… Ya Allah, berilah kesembuhan baginya. Aamiin…

Leave a Reply