Curcol

Anak hilang di pasar menjelang lebaran

“Masyallah… sumpek bener!”

“Iya, sampe ada nak ilang segala”

“Ih, anak siapa itu ya?”

Aku mendengar dua orang perempuan bercakap-cakap sembari lewat di gang pasar Bambu Kuning-Bandar Lampung yang padat oleh orang yang hendak berbelanja. Aku sedang memilih-milih daster batik untuk ibuku. Dalam hati terfikir juga, anak siapa ya yang hilang itu?

Di sebelahku berdiri Abyan yang berpegangan pada tali ransel yang tergantung di punggungku. Aku mulai mengingat-ingat, dimana Daffa’? Seingatku tadi dia bersama ibuku. Di kios baju-baju anak, bersebelahan dengan kios batik tempat aku berdiri sekarang kulihat ibuku sedang memilih-milih gaun untuk adikku, Anggun. Aku lega. Ibuku pasti bersama Anggun dan Daffa’ disitu.

Aku kembali memilih batik dan menawar harga. Setelah deal dan selesai bertransaksi dengan si penjual batik, aku mendekati ibuku.

“Sudah dapat, Mak?”

“Belum”

“Mak, Daffa’ mana?”

“Loh! Tadi disini kok”

Mengetahui Daffa’ tidak bersama ibuku, aku langsung panik. Jangan-jangan

Aku langsung menitipkan Abyan pada ibuku. “Mak, tetap disini ya. Aku mau cari Daffa’ dulu”

Aku langsung menyusuri gang yang tadi sempat aku lewati.

“Daffa’! Daffa’!”

Aku terus memanggil-manggil anak pertamaku itu. Dengan suara kencang. Tak peduli orang sedang berdesakan di gang sempit di tengah pasar. Mataku terus mencari-cari. Orang-orang yang kulewati menatapku aneh.

“Mba, nyari anak ilang ya?” seorang ibu pedagang menanyaiku.

“Iya, ibu tau?”

“Coba ke pos satpam. Tadi diumumin namanya Daffa’, ibunya Nurul katanya”

Mendengar penjelasannya, mataku berbinar. “Terima kasih, Bu” aku langsung berlari ke arah pos satpam. Aku ingat, tadi aku melewatinya. Ada di lorong utama pasar Bambu Kuning.

“Ibu…..” Daffa’ langsung berlari memelukku setibanya aku di pos satpam. Di dalam pos, ada satu orang berseragam satpam warna biru dongker, dan seorang lagi polisi. Alhamdulillah.., aku masih dipertemukan lagi dengan anakku.

“Kalem dulu, dijaga anaknya ya, Bu” polisi itu berpesan padaku.

“Iya, Pak. Terima kasih” aku segera berpamitan.

Aku menuntun Daffa’ kembali ke tempat dimana ibuku menunggu. Sambil berjalan diantara kepadatan pasar, aku terus bicara pada Daffa’ yang matanya masih sembab. Dia pasti ketakutan tadi.

“Maafin ibu ya, Mas”

“Ibu takut ya?”

Aku sedikit kaget mendengar jawaban Daffa’ yang sekaligus merupakan pertanyaan itu. Mengapa malah dia bertanya begitu? Jelas saja aku takut kehilangan dia.

“Ya iya lah ibu takut. Emang mamas nggak takut?” Aku menjawab sambil terus berjalan menerobos lautan manusia.

“Enggak”

“Kok enggak?”

“Kan ibu yang ajarin buat lapor ke polisi”

“Enggak takut tapi kok nangis?”

“Habis, pak polisinya udah beberapa kali ngomong pake speaker, ibu tetep ngga dateng”

Hahaha… kali ini aku terkekeh. Lucu sekali anakku. Suasana pasar Bambu kuning hari ini ramai sekali. Aku memangbtak bisa mendengar suara pengumuman dari pengeras suara itu. Lagi pula, posisiku lumayan jauh dari pos satpam. Waktu aku berjalan setengah berlari menuju pos, aku baru bisa mendengar pengumuman yang diulang oleh polisi.

Seperti ini ya suasana pasar menjelang lebaran. Penuh sesak. Toko-toko fashion banjir diskon. Orang-orang berjubelan memenuhi panggilan pedangan yang berteriak; dipilih, dipilih! Begitu pentingnya baju baru untuk lebaran!

Aku, jika bukan permintaan ibuku, aku malas pergi. Di dalam pasar yang sebenarnya pusat pertokoan. Pengap. Tidak ada udara segar. Keringat bercucuran. Kepalaku pusing. Perut mual karena hidung mencium berbagai aroma dari tubuh-tubuh yang memproduksi keringat.

Di tengah penuh sesak itu, aku beberapa kali berpapasan dengan seorang penjaja minuman dingin aneka rasa dan warna. Ah, sudah tidak terasa lagi ramadhan di pasar. Yang ada hanyalah euforia lebaran yang bahkan belum sampai.

Bismillah.., ya Allah…, semoga aku masih kuat puasa hari ini.

Setelah berkumpul dengan ibu, Abyan, dan adikku, Anggun, kami langsung pulang. Aku batalkan rencana kopdar dengan salah satu teman yang aku kenal dari twitter. Aku bukan capek karena berjubelan di pasar. Aku hanya masih shock karena hampir kehilangan Daffa’, anakku yang justru mengkhawatirkan aku. Pertanyaannya itu loh; “ibu takut ya?”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.