Sulawesi Selatan

Anak-anak Matahari

Kusebut mereka anak-anak matahari. Bukan karena kulit yang legam, serta rambut yang memerah dan setengah gimbal karena terbakar sinar matahari. Tapi lihatlah, mata merekabersinar. Memancarkan berjuta impian dan harapan. Lihatlah mereka yang menikmati hari-harinya di antara nyiur-nyiur yang melambai, yang tumbuh di setiap sudut Pulau Rajuni tempat tinggal mereka, di dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate. Pulau pertama yang aku kunjungi saat Land Tour bersama puluhan peserta Taka Bonerate Island Expedition VI, 1 September 2014.

Mereka akrab dengan embun, rumput, pohon, pasir, ikan-ikan kecil di bawah dermaga, hingga ikan pari dan bulu babi. Bersekolah di pagi hari, mengaji di masjid di kala siang, bermain dan berenang di pantai menjelang sore, dan membuat PR di malam hari. Dan impian-impian, cita-cita masa depan, terpatri kuat di dalam jiwa. Sekuat pohon-pohon nyiur yang begitu tabah meski angin barat dan timur menerpa silih berganti sepanjang tahun.

Bermain dan berbincang dengan mereka membuatku kembali terlempar pada suatu masa ketika aku seumur mereka. Aku yang selalu merasa masa kecilku sama sekali tak bahagia. Bergelut dengan peluh kemiskinan. Saat anak-anak lain menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain gameboat, aku menghabiskan waktuku untuk bercumbu dengan tanah di ladang, lumpur di sawah, bibit, pupuk, dan cangkul. Dan ketika malam menjelang, aku diserbu ketakutan-ketakutan. Mengapa aku berbeda?

“Mengapa aku tidak punya teman?”, tanyaku ketika itu pada mereka yang kupanggil Bapak dan Emak.

“Mengapa bertanya begitu?”, sahut emak yang mungkin bingung dengan pertanyaanku.

“Mak, aku ingin punya teman, ingin seperti mereka yang punya gameboat, sepatu yang ada lampu kelap-kelipnya, tas dan sepatu baru setiap kenaikan kelas…”, jawabku menyebutkan sederet keinginan yang teramat mustahil terwujud.

“Dengar, nak, hidup adalah berjuang. Kita tidak bisa memilih dari mana kita berasal. Tapi, setiap kita berhak memilih, akan menjadi apa di masa depan”, jawab emak sembari mengusap rambutku. “Tugasmu sekarang adalah sekolah dan belajar. Kejar cita-citamu. Nanti jika kamu sudah dewasa dan sukses, kamu bisa mendapat apa yang kamu inginkan, dan tentu saja punya banyak teman”, kata emak melanjutkan.

Begitu cara emak menenangkanku dengan kata-katanya, membuai dan mengantarkanku pada lelap di malam yang gelap. Sebuah kenangan yang saat ini seperti mozaik yang sempat hilang tertimbun rutinitas kehidupan, lalu kutemukan lagi di antara kehidupan anak-anak di Pulau Rajuni Kecil yang begitu sederhana, di sebuah pulau kecil di Kabupaten Kepualauan Selayar, bermil-mil jaraknya dari kampung kelahiranku di ujung selatan pulau Sumatra.

Anak-anak itu…mereka masih berseragam putih merah ketika menyambut kedatangan kami, orang-orang yang terbiasa hidup di hiruk pikuk kota dan sedang ingin mencicipi kedamaian. Mereka berbaris rapi di sisi dermaga, didampingi para guru dan pejabat desa. Wajah-wajah mereka sumringah dan tak malu-malu berpose ketika lensa-lensa kamera membidik mereka.

Sambutan hangat itu diteruskan dengan hidangan makan siang di gedung balai desa. Nasi dan lauk pauk tersaji dan memuaskan perut-perut kami yang lapar. Tak lama usai makan siang, adzan dzuhur berkumandang. Jamaah berduyun menghidupkan masjid di seberang balai desa. Lelaki dan perempuan. Bapak-bapak dan ibu-ibu. Tak terkecuali anak-anak yang bersemangat mengaji usai sholat jamaah.

Setelah bersujud, aku sempat ngaso di selasar masjid. Melihat kembali wajah-wajah inosen yang sempat terekam dalam lensa kameraku. Kemudian satu per satu anak-anak itu berdatangan dan mengerubutiku. Ikut melihat wajah mereka sendiri dalam layar digital seukuran 3”.

“Ok! Sudah dulu lihat fotonya, bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan keliling pulau?”, aku mencoba mengajak mereka bermain.

“Ayo!”, jawab mereka serentak, dan kemudian mereka menemani berkeliling pulau.

Di sepanjang perjalanan, menyusuri gang-gang di antara rumah-rumah panggung yang eksotis, kami terus berbincang. Memperkenalkan nama masing-masing, membahas pelajaran sekolah, hobi, dan tentang cita-cita. Sesekali kami bermain tebak-tebakkan ringan, dan sekeping biskuit kujadikan sebagai hadiah bagi mereka yang bisa menjawab dengan benar. Sesekali kami berhenti untuk melihat aktifitas penduduk yang sedang membuat ikan asin.

Satu hal yang paling aku sukai saat bersama mereka adalah saat kami mebahas tentang cita-cita. Sebagian mereka ingin menjadi guru, polwan, pilot, dan sederet profesi lain. Mendengar celoteh mereka tentang cita-cita membuatku kembali mengingat-ingat, apa cita-citaku dulu? Menjadi traveler bukanlah cita-cita masa kecilku, tapi aku mencoba menyingkap tabir misteri mengapa Tuhan menjadikan aku seperti sekarang. Ya, Dia selalu punya cara untuk membuat kita belajar.

Dan aku, pun anak-anak suku Bajoe itu, adalah anak-anak matahari yang tak akan lelah menjejak bumi dan menatap langit, belajar dan berjuang, memegang teguh harapan dan menyambut masa depan.

DSC00544

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.