Air Asia Blog Contest, NOE's Mind

Aku Terbang!

Naik pesawat, atau bahkan jalan-jalan ke kuar negeri bukan hanya hak orang kaya yang banyak uang. Makna itu yang dapat aku baca dari tagline milik Air Asia yang berbunyi “Now Everyone Can Fly”. Tapi sepertinya makna dari tagline yang menarik itu menjadi kontras jika dibandingkan dengan paragraf kedua dalam tulisan ini.

Pemenang lomba blog air asia

Karena Aku Orang Kaya!

Beberapa hari lalu aku agak terkejut saat membaca sebuah komentar di postingan blogku yang berjudul “Itinerary 4D3N di Ho Chi Minh City”. Disana tertulis sebuah komentar yang menyatakan bahwa aku sangat enak jadi orang kaya dan bisa jalan-jalan ke luar negeri. Ini membuatku berfikir kembali, apa iya aku kaya? Namum tak lama kemudian aku bersyukur. Oh, terima kasih Tuhan. Aku memang kaya!

Sebenarnya, secara ekonomi aku ini bukan siapa-siapa. Berstatus sebagai pegawai swasta dengan gaji standar Upah Minimum Kota di Cilegon, Banten. Dengan dua anak yang kebutuhannya segudang, mulai dari makan, sekolah, cicilan rumah, dan kebutuhan lain yang mungkin bakal menghabiskan jatah karakter untuk ditulis dan diikutsertakan dalam lomba blog Air Aisa ini. Dan semoga, ini bukan merupakan niat untuk mengeluhkan pendapatan pas-pasan dengan pengeluaran yang maksimal. Iya, aku hanya ingin menegaskan aku tidak kaya jika yang menjadi tolok ukur adalah uang atau harta.

Namun aku melihat kekayaan lain dalam diriku. Aku punya banyak sekali impian. Aku punya keberanian melawan rasa takut. Dan aku dikelilingi orang-orang yang mencintaiku yang menjadi alasan untuk aku tetap memperjuangkan impian itu.

Berawal dari Impian

Suatu ketika di siang hari yang panas, Daffa’ dan Abyan, anakku yang saat itu usianya belum genap 5 tahun, mereka berteriak-teriak di halaman rumah. “Pesawat! Dadah, pesawat!”. Mereka tampak bersemangat seolah pesawat yang melintas langit Cilegon siang itu bisa mendengar suara mereka. Lalu segera setelah pesawat itu menghilang dari pandangan, mereka berlari ke arahku.

“Ibu, Abyan pingin naik pesawat, Bu.”

“Iya, Daffa’ juga. Kapan, Bu?”

Aku hanya mengiyakan. Meski dalam hati malah sibuk bertanya-tanya. Naik pesawat? Kemana?

Waktu itu memang belum kenal dunia traveling. Hidupku yang ketika itu masih berstatus single parent, hanya berputar-putar antara rumah dan kantor. Atau setahun sekali kami mudik ke Lampung, melewati selat Sunda dengan kapal ferry. Jadi, wajar saja jika tidak pernah terfikir untuk naik pesawat.

Akan tetapi setahun kemudian hidupku berubah total. Gara-gara promo tiket Air Asia pada April 2012. Bagiku ini semacam pucuk di cinta, ulam pun tiba. Ketika aku mulai menyelaraskan impian dengan anak-anakku untuk naik pesawat, pas Air Asia bagi-bagi tiket promo super murah. Maka tidak tanggung-tanggung, aku nekat saja membeli tiket untuk going abroad. Padahal, paspor saja belum punya.

Tiket yang kubeli pada April 2012 itu adalah tiket one way Jakarta – Singapura. Lho, kok tiket one way? Iya, waktu itu uangku tidak cukup jika membeli tiket return. Selang beberapa bulan kemudian, saat Air Asia bagi-bagi tiket promo lagi, barulah aku beli tiket untuk pulang. Aku memilih rute pulang dari Kuala Lumpur.

Bagaimana Air Asia Mengubah Hidupku

Aku memahami betul syarat dan ketentuan yang tertera dalam tiket promo yang aku beli. Promo super murah dari Air Asia, biasanya untuk periode terbang satu tahun kemudian setelah dibeli. Membeli tiket promo Air Asia berarti berani melawan rasa takut akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja membatalkan rencana. Aku memilih menolak untuk menyerah pada rasa takut dan kekhawatiran yang belum tentu terjadi. Mencoba berfikir praktis. Urusan nanti, bagaimana nanti saja.

Banyak juga yang bilang, “nggak apa-apalah kalau pun batal terbang, tiket promo ini, nggak rugi banyak”. Awalnya aku setuju dengan pendapat itu. Tapi setelah difikir lagi, aku tidak setuju. Eh gila aja! Udah dapet tiket murah masa iya ngga jadi pergi, sih. Belum tentu punya duit banyak buat beli tiket go show, kan? Maka aku mulai bertekad, tiket promo ini jangan sampai hangus!

Berawal dari tekad dan tiket promo itu, aku mulai berjanji untuk disiplin menabung. Tabungan itu yang nantinya akan aku gunakan untuk jalan-jalan di Singapura dan Malaysia. Untuk biaya membuat paspor, penginapan, transportasi, makan dan minum. Sukur-sukur bisa beli beberapa oleh-oleh.

Dan karena menyadari budget yang minim, aku memutuskan untuk jalan-jalan ala backpacker yang mengatur sendiri semua kebutuhan selama jalan-jalan. Aku mulai mengumpulkan banyak informasi untuk menyusun sendiri itinerary dan budgeting.

Belum lagi urusan barang bawaan. Kedua anakku yang masih kecil itu belum bisa menggendong ransel yang berat berisi pakaian mereka sendiri. Jadi aku harus cermat memilih barang apa saja yang harus aku bawa dan meninggalkan barang yang kurang penting. Aku harus bisa packing dengan efektif agar semua kebutuhan kami selama 5 hari bisa muat dalam 1 ransel.

Yeah! Tiket promo Air Asia membuatku belajar banyak hal. Mulai dari keberanian, perencanaan, kedisiplinan, dan kecermatan. Tidak hanya itu, aku juga harus menyiapkan mental anak-anakku yang masih kecil-kecil itu. Dan aku sangat menikmati momen-momen bersama mereka, saat kami membuka peta bersama-sama, menunjuk negara mana yang akan kita datangi bersama. Kami membicarakan banyak hal tentang perbedaan bahasa, tentang tempat-tempat menarik yang akan kita lihat. Dan yang paling penting, kita akan kesana dengan naik pesawat!

When The Dreams Come True

Dan aku sangat bersyukur. Impianku terwujud. Pada 7 sampai 11 Mei 2013, aku bersama Daffa’ dan Abyan berhasil melewati momen berharga kami.

Akan selalu terkenang saat-saat pertama naik pesawat yang menegangkan karena ini pengalaman pertama kami. Aku sangat grogi namun harus terlihat tenang dan berusaha menenangkan Abyan yang masih balita dan menjerit ketakutan saat pesawat mulai take off. Aku bisa bernafas lega ketika majalah 3Sixty yang colourful itu bisa mengalihkan perhatian Daffa’ dan Abyan sehingga bisa tenang di dalam kabin pesawat.

Dan moment paling membahagiakan adalah ketika Daffa’ dan Abyan mencium pipiku, lalu berbisik di telingaku. “Terima kasih ya, Ibu, sudah ngajakin naik pesawat”.

Ah, aku terbang!

7 thoughts on “Aku Terbang!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.