Air Asia Blog Contest, NOE's Mind

Air Asia Adalah Mak Comblang

Ibarat mak comblang yang membantu menyatukan dua hati untuk saling mencinta, Air Asia membantuku menemukan sepotong surga bernama Makassar. Sungguh aku tidak pernah menyangka bahwa tiket return Jakarta – Makassar yang harganya cuma Rp90.000 itu, akhirnya membawa aku pada kejadian yang luar biasa dalam hidupku, yaitu kelahiran sebuah buku Backpacking Makassar & Sekitarnya, yang rencananya akan terbit pada awal Agustus 2014.

Padahal, saat memutuskan membeli tiket ke Makassar, yang ada di fikiranku hanya ingin jalan-jalan, karena aku punya keinginan untuk bisa keliling Indonesia. Bukankah sangat wajar jika seseorang yang kecanduan traveling sepertiku mempunyai keinginan untuk bisa keliling Indonesia? Atau bahkan keliling dunia?

Mengetahui hal itu, banyak teman mentertawaiku. Dan dengan nada sumbang mereka berkata bahwa itu keinginan yang mustahil. Benar, sih, jika mengingat siapa aku yang berasal dari golongan menengah ke bawah.

Tetapi mari abaikan mereka yang tidak tahu, bahwa ada Air Asia yang tidak hanya rajin bagi-bagi tiket promo dengan harga super murah, tetapi juga bagi-bagi free seat alias kursi gratis!

Air Asia kini sudah banyak mengubah kehidupanku. Dari yang semula hanya seumpama katak dalam tempurung, sekarang mulai melangkah untuk melihat dunia. Yang semula aku traveling hanya untuk suka-suka atau refreshing, kini mulai menyadari bahwa melalui traveling kita bisa menemukan banyak arti hidup. Salah satunya ketika suatu pagi aku menyusuri sungai Rammang-rammang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Aku berpapasan dengan anak-anak berseragam sekolah yang mendayung sampannya menuju dermaga untuk kemudian pergi ke sekolah.

rammang-rammang_(ayub)[1]

Pemandangan itu membuatku malu, bagaimana mungkin aku yang tinggal di kota dengan berbagai fasilitas yang memudahkan malah sering bermalas-malasan? Padahal ada anak-anak dari dusun yang begitu rajin setiap hari menempuh jarak berkilo-kilo meter hanya untuk pergi ke sekolah.

Melalui traveling, aku menjadi kaya akan pengalaman. Ada banyak hal dan kejadian dalam setiap petualangan yang bisa kita renungkan untuk diambil sebagai pelajaran. Lalu aku mencoba menuliskan setiap pengalaman dalam petualanganku itu, dan kubagikan melalui blog. Tak pernah kuduga bahwa akhirnya ada penerbit yang menawariku menulis lebih serius untuk di terbitkan.

Bahagia sekali rasanya ketika mendapat tawaran menulis buku, meski sebenarnya ini adalah sebuah tantangan besar. Dalam blog aku terbiasa menulis catatan perjalanan yang sarat akan emosi dan perasaan saat aku menjalani petualanganku. Sementara tawaran yang kuterima adalah menulis buku panduan yang praktis dan informatif. Bagiku ini hal yang tidak mudah. Namun tetap kuterima tantangan ini, karena ini kesempatan besar.

Berhari-hari aku melalui proses pencarian, hendak menulis panduan apa? Mencoba menemukan benang merah dari semua pengalaman jalan-jalanku. Aku mengalami kesulitan pada titik ini. Masalahnya adalah karena setiap kali melakukan perjalanan aku jarang mencatat, dan kurang memperhatikan detil informasi suatu tempat. Serta terlalu terburu-buru mengejar target destinasi yang ingin didatangi. Walhasil, sebagian besar perjalananku hanya sekedar mendatangi landmark untuk berfoto.

Lalu kemudian aku menyadari sesuatu. Ada satu destinasi wisata yang berhasil mebuatku begitu jatuh hati. Mungkin karena aku berada di sana cukup lama, yaitu selama seminggu di Makassar. Aku menikmati hari-hariku di sana, bertemu banyak teman baru, menjelajah tempat baru, dan banyak berinteraksi dengan penduduk lokal. Maka akhirnya di detik-detik terakhir deadline pengiriman outline, kukirimkan outline buku panduan backpacking ke Makassar.

Jika menilik lagi apa yang telah membawaku ke Makassar, sepertinya semua berawal dari promo free seat Air Asia itu. Sampai aku bisa jatuh cinta pada kotanya yang ramai, banyak peninggalan sejarah yang berharga, kuliner yang memanjakan lidah, wisata baharinya yang cantik, atau suasana damai pedesaan dengan panoramanya yang membius.

_MG_2943Sepotong hatiku tertinggal disini, di Rammang-rammang

Potongan-potongan hatiku seperti tertinggal di Pantai Losari ketika sedang menikmati sunset, atau di Rammang-rammang dengan sungai dan hutan karstnya. Belum lagi taburan bintang di langit malam yang menaungi daratan Tanjung Bira, juga sunrise di Pantai Kaluku dan pesona Air Terjun Parangloe. Sepotong hatiku juga tertambat di Tana Toraja karena menyadari betapa kaya dan beragamnya budaya Indonesia. Ya, semua berawal dari keberanianku membeli tiket free seat Air Asia.

Sulit dipercaya bahwa awalnya sempat ragu saat hendak memutuskan membeli tiket itu pada 20 November 2012, untuk terbang bulan Setember 2013 bersama 4 orang teman lain. Padahal tiket yang kubeli pada April 2012 untuk terbang bulan Mei 2013 bersama anak-anakku saja belum sampai periode terbangnya. Tetapi, lagi-lagi karena alasan tak mau menyia-nyiakan kesempatan tetap kubeli saja tiket itu.

Dan jika melihat bagaimana akhirnya sekarang, aku harus berterima kasih pada aku di masa lalu yang nekat saja membeli tiket Air Asia itu. Satu tiket yang membawaku terbang ke Makassar. Dimana aku bisa bertemu dengan teman-teman baru yang begitu baik menyambut dan mengantar kami ke berbagai tempat yang asik untuk dikunjungi. Tempat-tempat yang menginspirasiku untuk menulis, sehingga lahirlah buku solo pertamaku.

Di akhir tulisan ini, biar kuucap syukur kepada Tuhan yang telah menciptakan alam sedemikian indahnya, dan terima kasih sahabat untuk support kalian, terima kasih editor yang telah menemukanku melalui blogku. Terima kasih kepada Air Asia yang sudah mencomblangi aku dengan Makassar dan banyak tempat yang indah di Sulawesi Selatan, selamat merayakan ulang tahun yang ke-10, semoga Air Asia jaya selalu.

Perubahan telah terjadi. Aku seperti terlahir kembali, from nothing to something. Berharap tulisanku bisa diterima dan bermanfaat. Aamiin.

*****

Printed screen tiket dan invoice;

Foto-foto oleh Ayub

1 thought on “Air Asia Adalah Mak Comblang

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.