Banten, Traveling

“Aih, Gusti!”, Begitu Reaksi Mereka

Hiking ke Batu Lawang

Kali ini aku merasa tertipu. Kufikir aku sudah sampai di Batu Lawang ketika menemukan sebidang tanah datar di tepi jurang. Di atas tanah itu, sudah mulai terlihat panorama kota Cilegon dari ketinggian. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mengatur nafas, sembari mengecek kondisi bebe Ranu yang masih saja tertidur pulas dalam gendongan. Tetapi, belum juga rasa lelahku hilang, teman-teman yang tadinya sudah lebih dulu sampai, mengajak melanjutkan perjalanan. What, jadi kita belum sampai?

Aku menyerah. Merasa tak sanggup lagi berjalan lebih jauh. Ya, senekat-nekatnya aku, aku tentu masih bisa mengukur kemampuan, serta tau kapan aku harus gigih mencapai tujuan, dan kapan saatnya berhenti. Aku memilih menunggu di sebidang tanah datar yang kukira adalah lokasi Batu Lawang. Tetapi rupanya di tempat itu dulunya terdapat dua buah saung bambu. Katanya juga, di saung ini dulunya ada yang berjualan minuman dan snack, dan menjadi tempat yang strategis untuk menikmati pemandangan sambil. Sekarang masih tersisa bekas-bekas pondasinya saja yang bisa dilihat.

Setelah semua orang pergi melanjutkan trekking ke Batu Lawang, tinggallah aku dan bebe Ranu yang masih tertidur dalam gendongan bayi dan terbungkus selimut tebal. Di bawah pohon yang cukup rindang, kusingkap selimut tebal yang kujadikan pelindung dari angin kencang yang mungkin menerpa saat naik sepeda motor. Secara reflek bebe Ranu mengatupkan matanya semakin rapat karena sinar matahari yang menembus celah dedaunan, dan menyinari wajahnya. Melihat reaksi bebe Ranu itu, aku bersyukur karena utu berarti bahwa bayiku masih ‘bersamaku‘.

Cukup lama kami hanya berdua di tempat itu. Sesekali ada muda mudi yang lewat hendak pergi dan atau pulang dari Batu Lawang. Mereka terlihat lelah berjalan kaki. Bulir-bulir peluh mengucur di dahi dan leher. Sesekali terdengar ada yang saling menyemangati setelah langkah mereka melewatiku dan bebe Ranu.

“Ayo, semangat! Tuh, bayi aja bisa trekking sampe sini, masa kita kalah.” Begitu kurang lebih kalimat mereka yang kudengar.

Sebelumnya, kami sempat bertegur sapa jika kami saling bertemu pandang. Namun tak satupun dari mereka yang berhenti untuk beristirahat bersamaku. Sampai akhirnya ada seorang perempuan yang usianya telah menyentuh senja. Dari penampilannya, aku bisa mengenali bahwa ia adalah penduduk sekitar Batu Lawang. Ia mengenakan kaos berlengan pendek, dengan bawahan kain jarit batik. Ia membawa satu dirigen yang digendong dengan kain batik. Dan langkah perempuan itu terhenti saat melihatku dan bebe Ranu tengah beristirahat sambil menunggu suami & teman-temanku kembali.

Batu Lawang
Sulitnya mendapat air bersih di musim kemarau

“Aih, Gusti…! Sing endi irane, Nong? Ngegawe bayi neng kebon.” (Aih, Gusti…! Dari mana, Nong? Bawa-bawa bayi ke kebon.)

Perempuan tua itu menyapa dengan logat dan bahasa jawa serang yang kental. Ia keheranan melihatku bersama bayi di tempat yang amat tak lazim untuk kami. Aku hanya tersenyum. Ia lalu mendekat, sehingga kami hanya berjarak selangkah saja.

“Umur berapa bulan?” Tanyanya kemudian.

“Sebulan setengah, Bu.” Jawabku. Kulihat ia membelalakan matanya setelah mendengar jawabanku, dan mulutnya sedikit menganga.

“Aiih, bayi merah udah diajak jalan-jalan ke tengah alas. Di mana rumahnya, Nong?” Ia mengulangi pertanyaannya. Kali ini aku menjawab, setelah pertanyaan pertamanya yang hanya kubalas dengan senyuman.

Kami jadi terlibat dalam obrolan yang umum terjadi antara dua orang yang baru kenal. Namun hanya salah satu di antara kami yang antusias. Iya, perempuan tua itu sangat penasaran denganku. Bertanya soal asalku, umur bayiku, dengan siapa aku pergi, dan banyak lagi. Aku menjawab setiap pertanyaannya dengan perasaan setengah hati, karena setengah hatiku yang lain merasa ketakutan. Aku takut karena di tangannya ia memengang sebilah pisau tajam.

Agaknya, berita-berita di TV yang akhir-akhir ini banyak didominasi kriminalitas membuatku paranoid. Bagaimana jika ibu tua ini orang jahat? Bagaimana jika tiba-tiba ia menikamku lalu membawa pergi bayiku? Duh! Dalam hati aku berharap.

Cepatlah pergi! Cepatlah pergi!

Akan tetapi perempuan itu malah menyandarkan tubuhnya yang mulai renta ke batang pohon yang kami gunakan untuk berteduh. Ia nampak kepayahan dengan beban di punggungnya. Hal itu cukup bisa mengalihkan fikiran parno di kepalaku.

“Ibu bawa apa?” Tanyaku.

“Air, Nong. Lagi musim kemarau, air bersih lagi susah. Sumurnya kering.”

Mendengar jawabannya, aku jadi prihatin. Sekaligus membuatku ingat pada sosok Mak Uwe (nenekku) yang telah meninggal pada 24 Juni 2015 lalu.

Nenekku adalah tipe yang tak bisa diam berpangku tangan. Meski tubuhnya mulai rapuh termakan usia, berbagai pekerjaan masih ia kerjakan setiap hari. Bukan hanya pekerjaan rumah. Beliau bahkan masih ikut-ikutan bekerja sebaagai buruh pembungkus kerupuk di pabrik industri rumahan milik tetangga. Ya, ini juga karena faktor ekonomi, sih.

Aku ingat, dulu waktu aku masih sekolah dan tinggal bersama nenekku di kampung, saat musim kemarau, kami berdua juga harus bersusah payah mengambil air, ke sumber mata air di tengah ladang dan jauh dari rumah.

Ah, kenangan! Sekarang nenekku sudah tiada. Tapi ia tetap hidup dalam diriku. Sesekali ia hadir dalam ingatan, lewat banyak hal tak terduga yang kualami sepanjang perjalanan hidup. Termasuk kejadian hari itu, lewat pertemuanku dengan seorang perempuan tua di Batu Lawang. Kegigihannya menjalani hidup di masa tua, berhasil membuang jauh kekhawatiranku. Sehingga saat ia pergi untuk melanjutkan perjalanan pulang, aku menyadari bahwa ia bukan orang jahat seperti yang kutakutkan.

Batu lawang Cilegon
Nangka, salah satu hasil kebun sebagai sumber mata pencaharian

Tak lama setelah perempuan tua yang membawa air dalam jirigen itu pergi, lewat lagi seorang perempuan tua lainnya. Tampilannya masih sama, dengan jarit batik yang dililitkan di pinggang sehingga bentuknya menyerupai rok. Di punggungnya pun bertengger beban yang cukup berat. Namun kali ini bukan air dalam jirigen, melainkan sebuah nangka yang cukup besar. Tebak apa reaksinya saat melihatku dan bebe Ranu!

“Aih, Gustiii…! Si, Enong ngegawe bayi meng gunung!”

*****

Nong/Enong = panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa Serang/Banten

Alas = kebon/hutan

29 thoughts on ““Aih, Gusti!”, Begitu Reaksi Mereka

  1. Wuih Ranu hebat. Anak-anakku sih boro-boro diajak trekking begitu, ke luar rumah agak lamaan aja masuk angin. Gak biasa. Ayo Ranu, jadi travellers juga kayak mamanya πŸ˜‰

  2. Speachless deh sama mak satu ini…saya aja bawa bayi sebulan keluar rumah pasti pada heboh..ntr gini lah ntr gitu lah… saluut mak…semoga baby noe sehat sehat selalu yaa maakk

  3. Harusnya memang dibiasakan diajak keluar biar terbiasa dengan dunia luar yang tak senyaman selimut dan bedong bayi…

    Andai Salfa sudah di Surabaya, pasti kuajak kemana-mana…

  4. jangankan ke gunung, dulu anakku umur sebulan aku ajak ke pasar aja udah bikin para pedagang pada heran hehe.. smgt ranu

  5. Hiyya ampunnnn,bener2 ya emak satu ini..jiwa petualangnya itu lo..baru 1 bulan bebe ranu dah diajak traveling,keren kali hahaha..tapi seru juga yaaa hehehe.bahasanya kayak bahasa jawa tapi beda2 dikit ya mak,apa bahasa orang serang kayak ngapak gitu ya??
    *tiyum bust bebe rani yaa^^*

  6. Bebe Ranu udah dikenalin dengan alam. Sepertinya nanti dia bakal jadi petualang juga kaya ibunya. Selama ranu sehat dan ngga rewel, ngga perlu takut dibawa kemana-mana ya mbak.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.