Traveling

Ada Tempra Dalam Perjalanan Kami

batu-gambir-merak-cilegon-1024x683_1

Aku adalah ibu dari 3 orang anak. Masing-masing berusia 9, 7 dan 1 tahun. Ketiganya sudah terbiasa diajak traveling. Hal itu tentu membuatku merasa senang dan tenang.

Mereka tak pernah mengeluh soal destinasi liburan. Mau diajak keliling kota atau pedesaan, ke pantai atau hiking di bebukitan, ke pasar atau juga museum, masuk ke mal dan nonton, atau sekadar naik komidi putar di pasar malam, mereka tetap hepi.

Terutama untuk Mamas dan Kakak yang sudah usia SD. Mereka jarang sakit. Jadi hampir setiap liburan kami lewati penuh keceriaan.

backpacking ke Batu Lawang

Lain halnya dengan Abang Ranu yang masih balita.

Tentang Baby Ranu

Sebenarnya, Abang Ranu juga tergolong bayi yang cukup kuat. Saat umurnya baru 40 hari, aku mengajaknya hiking ringan. MasyaAllah, anaknya anteng dan tidak terjadi hal-hal buruk.

Tetapi sekuat-kuatnya bayi, tetap saja dia adalah mahluk kecil yang rentan. Ada saja hal yang membuatnya tiba-tiba demam. Seperti ketika dia baru berumur 2 bulan. Aku mengajaknya family trip ke Surabaya.

Di Surabaya, kami tidak terlalu banyak melakukan petualangan. Hanya keliling kota saja. Salah satu obyek wisata yang kami kunjungi adalah Monumen Kapal Selam (Monkasel).

Gojek di Surabaya

Menjelang magrib, kami kembali ke hotel. Kami menggunakan ojek online. Soalnya sedang momen jam pulang kerja. Jalanan macet. Naik taksi bukan pilihan yang bijak. Motor lebih mudah selap-selip. Jadi bisa lebih cepat sampai hotel untuk mengejar waktu solat magrib.

Jarak dari Monkasel ke hotel tidak jauh. Hanya sekitar 5 kilometer saja. Tetapi aku merasa perjalanan menjadi sangat panjang. Angin bertiup kencang. Gerimis mulai turun.

Kupeluk erat Abang Ranu sepanjang perjalanan. Kuselimuti rapat-rapat. Berharap dia tetap merasa hangat dan berdoa agar kami bisa segera sampai hotel.

Kamar utama di family room dengan king size bed

Sampai hotel, aku langsung membaringkannya di tempat tidur. Ternyata suhu badannya panas. Aduh kasihan. Aku harus bagaimana?

Haruskah Memberi Ranu Obat?

Awalnya sempat ragu. Haruskah aku menunggu sampai besok pagi saja? Siapa tau suhu badannya kembali normal. Lagi pula banyak mommies yang bilang, bayi demam jangan buru-buru diberi obat. Kurang bagus. Takut nanti jadi kebiasaan dan ngga bisa sembuh kalau belum minum obat.

Tetapi aku tak berani ambil resiko. Kalau di rumah sih oke. Aku bisa fokus merawat bayi demam. Cukup memberinya banyak ASI, pelukan skin to skin (kangaroo care), atau membaluri tubuhnya dengan parutan bawang merah. Biasanya cukup ampuh untuk menurunkan demam.

Sedangkan di Surabaya, kondisinya berbeda. Kami ini sedang traveling. Boro-boro parutan, bawang merah sebiji aja aku ngga bawa. Yakali, selama ini ngga kepikiran bawa bawang merah kalo traveling. Haha.

Kebun Binatang Surabaya

Aku ingin Ranu cepat sembuh. Supaya besoknya bisa jalan-jalan lagi. Ngga asik kan kalau lagi liburan malah sakit? Nanti ngga bisa kemana-mana dong. Kasian juga Mamas dan Kakak. Mereka kepingin banget ke Museum House of Sampoerna.

Maka berangkatlah Ojrahar ke apotek untuk membeli Tempra Drops.

Mengapa Tempra?

Dari segi harga, Tempra memang lebih mahal dibanding merk lain. Tetapi aku memilihnya bukan karena anggapan bahwa harga mahal berarti obat paten. Bukan!

Awalnya aku memilih Tempra karena pada kemasannya terdapat tulisan BEBAS ALKOHOL.

Ceritanya bermula ketika aku baru memiliki satu anak dulu. Mamas demam habis imunisasi. Obat yang aku dapat dari posyandu berupa paracetamol tablet. Sebagai ibu baru, aku bingung. Bagaimana cara memberikan tablet ke bayi? Menghaluskannya dulu? Ribet ah! Jadi aku ke apotek saja untuk beli obat syrup.

Di apotek aku sempat bingung. Beli merk apa? Apa yang murahan aja? Toh semua fungsinya sama. Sama-sama mengandung paracetamol untuk penurun panas. Sampai akhirnya tulisan BEBAS ALKOHOL yang dicetak tebal pada kemasan Tempra membuatku tertarik.

Masih belum yakin, aku pun bertanya kepada petugas di apotek. Obat penurun panas apa yang direkomendasi? Ia memberiku Tempra Drops.

Secara turun-temurun, Tempra telah dipercayaΒ dapat menurunkan demam dengan cepat. Paracetamolnya berfungsi sebagai anti piretika yang bekerja langsung di pusat panas. Dan lagi, Tempra aman, tidak menimbulkan iritasi lambung.

Jadi sejak saat itu, aku selalu memilih Tempra. Mulai dari anak pertama, kedua dan ketiga.

Tempra drops

Untuk Ranu yang masih bayi, aku memilih Tempra Drops. Di dalam kemasannya tersedia pipet untuk memudahkan pemberian obat kepada bayi.

Tempra Drops mengandung 80 mili gram paracetamol dalam setiap 0.8 mili liter. Untuk Abang Ranu yang baru berumur 2 bulan saat di Surabaya, dosisnya cukup 0.4 ml aja.

Jadi setelah Ojrahar kembali dari membeli Tempra, aku langsung berikan kepada Abang Ranu sesuai dosis. Alhamdulillah, besoknya suhu badan Ranu sudah kembali normal. Sehingga kami bisa melanjutkan agenda liburan dengan ceria.

Klenteng Hok An Kiong

Kami mengunjungi House of Sampoerna, keliling Surabaya naik bus Surabaya Heritage Track, jalan kaki ke Klenteng bareng banyak turis lainnya, ke Jembatan Merah, dan berakhir sore hari di landmark kota Surabaya yang ikonik. Semua cerita serunya liburan itu bisa dibaca juga di blog ini lho.

Itu lah salah satu pengalamanku yang menyenangkan. Liburan ceria bersama anak-anak dan ada Tempra di dalamnya.

Tempra mudah didapat di apotek dan minimarket
Tempra mudah didapat di apotek dan minimarket

Oya, sejak saat itu aku kapok pergi traveling tanpa bawa Tempra. Untung aja di dekat hotel yang kami singgahi waktu itu ada banyak minimarket. Jadi pencarian Tempra Drops untuk Abang Ranu tidak sulit.

Tempra memang mudah ditemui di apotek-apotek atau minimarket di seluruh Indonesia.

Kebayang deh kalau seandainya kami sedang traveling di daerah terpencil. Apotek jauh. Minimarket tidak ada. Bisa tambah panik.

liburan-ceria-tempra

Sekarang, Tempra Drops menjadi salah satu traveling essential yang ngga boleh ketinggalan. Sekalipun destinasi liburan kami ngga terlalu jauh dari rumah. Seperti belum lama ini saat kami liburan hore ke Banten Lama.

Jelajah Cagar Budaya Banten Lama

Ceritanya kami diundang oleh Kemendikbud Banten untuk ikut dalam sebuah tour. Tema yang diusung adalah Jelajah Cagar Budaya Banten Lama. Selain aku dan Ojrahar, ada banyak blogger lain yang diundang. Ada juga dari kalangan mahasiswa dan pelajar.

Acaranya seru. Berlangsung seharian. Aku mengikuti semua rangkaian acara walau hari begitu terik. Sampai sempat masuk ke dalam penjara bawah tanah di Benteng Speelwijk. Tempatnya gelap dan dingin. Tapi karena Ranu anteng, jadi aku ngga khawatir apa-apa.

Kebetulan waktu itu Ranu baru banget bisa jalan. Dia semangat banget jalan kesana dan kemari. Padahal panas matahari sangat menyengat. Aku aja malas sebenarnya. Tapi melihat Ranu ceria dan lagi seneng-senengnya jalan, kami pun ketularan bahagianya. Sampai akhirnya Ranu capek dan tertidur dalam gendongan. Baru lah kami pulang ke rumah, yaitu sekitar jam 3 sore.

Hunting Sunset ke Banten Lama

Dua minggu setelah event jelajah cagar budaya bersama Kemendikbud, aku dan Ojrahar balik lagi ke Banten lama. Tujuan kami adalah untuk hunting sunset di Masjid Agung. Sayangnya, begitu sampai lokasi cuaca mendung. Awan tebal menutupi matahari. Jadi ya, kami hanya harus puas memandangi langit kelabu.

Lalu tepat saat adzan berkumandang, Ranu gumoh. Badannya juga mulai hangat lagi. Wajar, Abang Ranu memang lagi ketularan flu selama beberapa hari terakhir.

Masa kritisnya sih sudah lewat. Sudah ngga rewel banget seperti awal-awal saat gejala flu. Tadinya kan hidung mampet, demam tinggi dan rewel terus. Hari itu aku berani ajak dia main ke Banten Lama lagi karena sudah mendingan. Anaknya juga sudah ceria lagi walau masih agak ingusan.

Tempra

Kemudian aku mengeluarkan travel pouch dari dalam ransel. Ada Tempra di sana. Asiknya tuh, Tempra Drops bentuknya kompak. Ukurannya hanya 15 ml. Jadi ngga makan banyak tempat kalau dibawa-bawa. Dan lagi, tutup botolnya didesain agar ngga mudah tumpah. Untuk membukanya saja butuh teknik khusus.

Untuk membuka tutup botol Tempra, tutup botol harus ditekan dan diputar sesuai petunjuk arah dalam waktu bersamaan. Dengan begitu, Tempra tidak mudah tumpah dan aman dibawa kemana saja.

Tadinya mau langsung aku beri Tempra. Tapi Ojrahar bilang, solat magrib dulu aja. Trus langsung pulang. Nanti beri obat di rumah saja. Toh jarak tempuh dari Banten Lama ke rumah ngga sampai 10 menit.

Begitu sampai di rumah, baru deh aku beri obat lagi sesuai dosis. Semalaman kami gunakan waktu untuk istirahat yang berkualitas. Alhamdulillah besoknya Abang Ranu kembali ceria. Jadi aku bisa tenang menghadapi hari senin untuk kembali bekerja.

Dan sore harinya, aku bisa merasakan lagi bagian yang paling menyenangkan dalam keseharian. Yaitu Abang Ranu yang selalu menyambut kepulanganku dengan ceria di gerbang komplek. Seperti terekam dalam video ini.

Anyway, selain saat traveling, aku juga selalu sedia Tempra di rumah. Untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba Ranu Demam. Paling sering demam kalau akan tumbuh gigi. Katanya, kalau mau tumbuh gigi kan si bayi merasa ngga nyaman dan sakit. Sebagai ibu, aku sih cuma bisa merasakan perubahan suhu badannya, alias demam. Tapi rasa sakitnya? Aku tidak bisa merasakan.

Kalau boleh, aku mau menggantikan rasa sakitnya. Eh, jangan ding! Nanti siapa yang urus anak-anak kalau aku sakit hehe.

Untungnya paracetamol juga berfungsi sebagai analgetika untuk meningkatkan ambang rasa sakit. Dengan kata lain, paracetamol dapat meringankan rasa nyeri.

Jadi kalau anak sakit, jangan berdoa untuk menggantikan rasa sakitnya, ya! Berdoa untuk kesembuhannya dan tangani dengan benar. InsyaAllah cepat sembuh dan kembali ceria.

Lalu, Bagaimana Tip Traveling Bersama Bayi?

Sampai dengan umur Abang Ranu 1 tahun sekarang ini, aku cukup sering mendapat pertanyaan. Bagaimana tip membawa bayi traveling?

Traveling bersama bayi dan juga anak-anak memang tricky. Berikut ini 3 tip utama yang harus dipenuhi:

1. Be Healthy

Pastikan ibu dan bayi sedang dalam keadaan sehat sebelum berpergian. Packing paling tidak 3 hari sebelum. Dengan begitu, ibu dan bayi bisa istirahat dengan tenang pada hari-hari menjelang traveling. Istirahat yang cukup bisa menunjang kebugaran, bukan?

Dalam hal kesehatan, bawa obat-obatan pribadi untuk jaga-jaga jika dibutuhkan. Kalau aku, harus selalu bawa obat maag karena punya masalah lambung. Dan untuk anak-anak, aku selalu bawa Tempra. Alasannya sudah banyak kuceritakan di atas. πŸ˜‰

2. Be Happy

Anak-anak adalah mahluk yang sederhana cara berfikirnya. Mereka mudah merasa bahagia. Sayangnya, orang tua kadang dengan mudah juga menghancurkan kebahagiaan itu. Misal dengan aturan ini dan itu. Eum, aku juga pernah bawel saat liburan. Hehe. Tapi pengalaman mengajarkanku banyak hal.

liburan-ceria-tempra-1
Happy mom, happy kids!

Sekarang, sebelum traveling aku harus set up fikiran. Ini liburan, ayo nikmati. Berfikir seperti cara berfikir anak-anak. Dengan begitu, kita menjadi orang tua yang menyenangkan di mata anak dan semua pun ceria. Jangan mudah mengeluh kalau ngga mau anak-anak banyak mengeluh. Sesimpel itu.

3. Harus well prepared

Booking semua tiket dan hotel jauh hari sebelumnya. Lakukan riset, bagaimana cara mencapai hotel dari bandara/stasiun/terminal. Bagaimana cara menuju lokasi wisata dari hotel. Jika perlu, booking juga travel untuk transportasi selama liburan.

Jika semua kebutuhan traveling sudah disiapkan dengan baik, kita tak perlu lagi memikirkan hal-hal yang membuat ribet. Misal, tidak booking hotel karena yakin di tujuan wisata banyak tersedia penginapan. Kenyataannya, kadang bisa saja semua hotel penuh. Pencarian hotel on the spot pasti butuh waktu. Kasihan anak-anak, dan kasihan juga yang harus gendong anak lebih lama. Jalan kesana kemari cari penginapan. Kan capek.

3 hal di atas itu lah yang menurutku paling penting. Mencakup kesehatan, mental, dan persiapan. Selebihnya, tip praktis seperti bawa makanan, bawa mainan, dan yang lainnya bisa sambil jalan.

Soal mainan, seperti yang sudah aku singgung tadi. Anak-anak itu mudah bahagia. Anak-anakku contohnya. Tak bawa mainan dari rumah pun, mereka bisa menemukan banyak mainan di jalan. Batu, kayu, daun dan apa pun yang mereka temui. Semua bisa dijadikan mainan. Tetapi mungkin anak-anak lain berbeda.

main di krakatau 1
Mamas & Kakak main batu di puncak Krakatau
Udah dibawain mainan, lebih milih gigitin selimut hotel
Udah dibawain mainan, lebih milih gigitin selimut hotel

Jika memang harus bawa, pilih satu atau dua mainan kesayangan saja. Jika anak masih bayi, pilih mainan yang menarik. Menarik bisa dari sisi warna, bunyi, dan bentuk.

Soal makanan aku memilih bekal yang simpel saja. Saat Abang Ranu masih umur 0 sampai 6 bulan, dia hanya perlu ASI. Saat memasuki umur 6 sampai 12 bulan, bekal makanannya adalah biskuit bayi, roti dan buah pisang. Roti dan pisang bisa sekaligus untuk anak-anak dan dewasa. Ngga lupa juga bekal air minum agar tidak dehidrasi.

Nah, itu tadi tip praktis dan sederhana agar suasana liburan selalu ceria. Aku yakin itu bisa diterapkan oleh siapa saja. Mau traveling gaya ransel atau koper. Tip tersebut bisa diterapkan. Dan aku yakin, liburan ceria bukan sekedar impian kok! Setuju?

***

“Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan olehΒ Blogger Perempuan NetworkΒ danΒ Taisho.”

124 thoughts on “Ada Tempra Dalam Perjalanan Kami

  1. Ah, baby Ranu sama abang-abangnya mah udah gak diragukan lagi urusan traveling mah. Dan pasti, masalah demam mah kecil. Apalagi obat demamnya cihuy. Keliling nusantara deh ya. Sehat-sehat selalu baby Ranu. πŸ™‚

    1. Untuk umur.dibaqah 1 th ada tempra drops kak, di atas satu tahun bisa tempra syrup. Yg udah agak besar du atas 12 tahun ada tempra forte πŸ™‚

  2. klo kondisi lagi traveling gitu anak terasa demam memang lebih aman klo langsung diberi penurun panas ya, lain halnya bila situasi kita lagi di rumah bisa ditahan2 dulu dengan alternatif lain. kecuali klo suhunya trus menanjak baru pemberian paracetamol gak bisa dihindari.

    1. Aamiin, jadi apapun nanti, yang penting selalu soleh, baik hati, rahmatan lil alamin, qurrota ain. Aamiin (lagi). Makasiih mbaa :*

  3. Ranu itu anteng banget ya kalau diajak kemana-mana. Selama ketemu pas di acara itu, jarang banget dia tiba-tiba ngamuk πŸ™‚ mungkin karena udah terbiasa jadi udah bisa beradaptasi sama suasana acara. Semoga tetap sehat ya, biar bisa terus traveling.

  4. abang ranu, senangnya udah diajak jalan2 meski masih bayi, kakak Alfi seringnya ditinggal *mamah jahat hehe, obat2an untuk anak perlu banget disiapkan untuk menjaga hal2 yg tidak diinginkan

  5. Tempra memang andalan ibu ya mba, anakku biasanya kalau Traveling jarang sakit sakitnya kalau sesudah nya mungkin Krn masuk angin tapi sekarang sudah ada tempra ya buat jaga jga

  6. Pertimbangannya sama. Kalau kondisinya di rumah sendiri mungkin masih bisa sedikit mentolerir dan merawat dengan cara2 alami tanpa obat.
    Tapi kalau kondisi lagi traveling kan susah juga. Manalah ada bawang merah buat diparut dan dibalurin ke badan si kecil, wkwkwk.
    Gudlak lombanya Mba Noe. Aku belum kelar ini. Zzzz….

  7. Liburan emang seru ya bun kalau bisa bawa anak-anak, tapi kalau mereka demam jadi sedih deh πŸ™
    Pintar-pintarnya kita sebagai ibu yang harus menyiapkan segala sesuatunya agar anak kembali sehat, seperti membawa Tempra yang cepat menurunkan demam anak πŸ™‚

    1. Tul mba, jangankan di tempat yg jauh saat traveling, di rumah aja pas anak sakit juga ttp sedih. Semoga anak2 kita sehat dan ceria terus yaa

  8. Nuy.. baru tau anaknya ada 3.. hahaha.. kirain 2. Sehat terus ya sekeluarga.. tapi maaf tempra amat sangat jarang saya pake jika anak2 pada sakit.. saya memilih solusi lain yang cenderung tradisional.. dan alhamdullilah sampai sekarang tubuh anak2 tahan banting..

    1. Iya mba, namanya juga bayi. Sekuat2nya bayo ya ttp suka rentan. Tapi asal tau tip dan triknya, bayi ttp asik diajak traveling kok. Bawa obat penurun panas itu wajib klo sewaktu2 demam.

  9. Saya juga gak berani kalau gak kasih obat saat anak demam, Noe. Pokoknya kalau udah di atas 37,5 suka langsung saya kasih Tempra. Di atas 39, langsung dibawa ke dokter

    1. Iya mba, aku trauma krn Daffa pernah kejang. Ngga mau kejadian lagi di Abyan dan Ranu. Makanya selalu sedia Tempra di rumah dan dibawa2 traveling

  10. Apa kabar Mbak Noe? Kangen! Alhamdulillah, anak anak sudah besar yaa. Kalau dengar TEMPRA pasti ingat masa anak anak saya masih bayi (Tahun 90). Saya sering parno seusai mereka diimunisasi, maka selalu sedia Tempra. 1 disimpan di rumah, satunya dalam tas bepergian. Saking percayanya sampe keterusan, sudah TK masih saya kasih. Hehe, tapi mempan sih…

  11. Kami selalu bawa obat-obatan bayi sejak Mas Aiman kami ajak mudik tiap bulan ke Blitar, apalagi travelling. Jangan sampai acara jalan-jalan atau mudik jadi sedih karena anak sakit ga bisa diobati dengan segera.

  12. Ranuuu baby traveler ????????
    Kaka thifa dan hana pun klo berlibur pasti bawa obat turun panas, takut kalo tiba2 demam, apalagi hana yg punya riwayat demam kejang

  13. Aaah, baby Ranu usia dua bulan. Kopdar kedua kita mba Noe hihihi…
    Btw skrg kalo nyeri haid, atau pusing aku milih minum paracetamol. Aman jg sih, kan kita gk tau ya kali2 aja halidun wkwkwk.
    Aamiin πŸ™‚

  14. Demam pada anak tuh sukses banget bikin orang tua cemas, ya. Aku juga stok tempra di rumah, Sist. Buat pertolongan pertama kalau2 Yasmine demam. πŸ˜‰

  15. Ranu sudah besar ya dek aduh gemesnya!
    Sepupu – sepupuku juga pakai tempra karena bebas alkohol kan. kasian kan baby kalau minum obat yang mengandung zat2 yg kurang baik buat tubuh.

  16. Suka bingung ya kalau anak sakit panas. Apalagi panasnya ga turun-turun. Heeu, jadi senewen berat. Paracetamol salah satu bahan kimia yang aku anggap paling sedikit efek sampingnya. Jadi aku selalu merasa sedikit relaks kalau kandungan obat panasnya paracetamol. Dosis paling rendah kalau kata saya mah.

  17. Membaca Tempra, jadi mengembalikan kenangan saya ke tahun-tahun yang sudah lama lewat. Ketahun tahun anak-anak saat balita. Bertahun-tahun daya tahan tubuh mereka masih lemah sehingga sering mengalami demam. Tempra jadi penolong darurat dan menghilangkan rasa sakit mereka sejenak sebelum ketemu dokter.

    Insya Allah Ranu sehat-sehat saja Mbak Noe. Tumbuh jadi anak kuat karena sering dibawa jalan-jalan πŸ™‚

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.