Sulawesi Selatan, Traveling

Ada Bongkahan Es di Pulau Tinabo

Hari ini 2 September 2014, hari ketiga aku berada di Pulau Tinabo untuk mengikuti kegiatan Takabonerate Island Expedition VI. Rasanya aku malas melakukan apapun. Padahal, semua kegiatan hari ini akan dilaksanakan sore hari, yaitu penanaman pohon, transplantasi karang, dan pelepasan anak tukik.

Sementara para peserta lain memilih menggunakan waktunya untuk sorkeling dan diving ke beberapa spot di dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, aku memilih untuk bersembunyi di dalam tenda. Sepertinya moodku sedang tidak bagus. Aku tidak bersemangat seperti kemarin. Dan jika ada yang harus disalahkan, dia adalah lelakiku. Atau bisa jadi ini salahku sendiri.

Tadi seusai sarapan, aku kembali ke tenda dan mendapati ia sedang sibuk memperbaiki patok-patok tenda yang sempat lepas berantakan karena tertiup angin kencang.

“Sedang apa?” tanyaku.

“Punya gunting nggak?” bukannya menjawab, ia malah balik bertanya. Ya salahku juga sih, sudah tau dia sedang memperbaiki tenda, masih juga bertanya sedang apa.

“Buat apa?” tanyaku lagi. Konyol. Aku sendiri tak tau maksudku bertanya seperti itu. Entah untuk menggunting apa, yang pasti ia membutuhkannya untuk memperbaiki tenda, kan?

“Jawab aja, punya atau nggak? Nggak susah kan?” aku sedikit kaget mendengar jawabannya yang lebih cocok disebut sebagai omelan.

Tidak biasanya ia begitu. Aku sangat mengenalnya. Ia terbiasa baik dan lembut. Ada apa? Apa aku sudah membuatnya kesal? Pasti ada hal lain yang lebih dari sekedar soal gunting, sehingga membuatnya begitu. Tapi aku tak tau apa itu. Mungkin aku kelamaan sarapan dan mengobrol dengan orang lain tadi. Atau ada hal lain yang sangat mengganggu fikirannya?

Aku segera masuk ke dalam tenda, berbaring dan menutupi wajahku dengan selembar kain bali. Aku menangis. Sedangkan ia berlalu dan bergabung dengan beberapa orang lain di tepi pantai.

Selalu begitu, dia pasti menjaga jarak denganku ketika sedang kesal. Aku mencoba berfikir positif tentang itu. Sepertinya kita memang butuh menyendiri untuk menyadari kesalahan masing-masing. Atau sekedar mengumpulkan kekuatan untuk bisa saling memaafkan. Setelah cukup lama, ia kembali lagi. Aku bahkan sempat tertidur setelah menangis tadi. Wajahku pasti jadi kacau sekali.

“Kamu kenapa?” tanyanya. Aku hanya menggeleng. Aku yakin, ia tau aku habis menangis.

“Yang lain sudah pada mau berangkat snorkeling tuh, kamu mau ikut nggak?” tanyanya lagi. Aku menggeleng lagi. Sejak semalam aku memang sudah malas ikut snorkeling karena alasan biaya. Uang kami sedang banyak tersedot untuk modal usaha yang baru kami rintis.

“Kamu kangen anak-anak, ya?” lagi-lagi ia bertanya. Mungkin ingin mencairkan suasana. Dan kali ini aku tidak menggelang, hanya diam. Aku memang rindu anak-anakku, tetapi bukan itu yang membuatku sangat sedih sekarang. Aku tau, ia hanya pura-pura tidak mengerti apa yang terjadi.

Dan andai ia tau, aku sangat menyesal telah bersikap menjengkelkan sehingga membuatnya kesal padaku. Sebagai istri, seharusnya aku bisa bersikap lemah lembut. Bukan melulu minta dimengerti dan dimanjakan. Seharusnya aku bisa menjadi penyejuk dengan senyumku, bukannya malah cemberut dan semakin menambah ruwet fikirannya. Ah, aku ingin menangis lagi.

“Atau…kita snorkeling di sekitaran dermaga aja yuk!” ajaknya sesaat kemudian, setelah saling diam dengan suasana yang serba canggung. Akhirnya aku mengangguk juga.

Meski masih saling diam, kami berjalan bersama menuju dermaga dengan mebawa peralatan snorkeling yang sudah kami sewa dari Makassar dengan harga Rp100.000,- untuk 3 hari. Sayangnya, kualitas alat snorkeling itu tidak bagus. Sehingga kami sangat tidak nyaman saat snorkeling. Padahal, pemandangan bawah laut di sekitaran dermaga Pulau Tinabo lumayan bagus.

Meskipun disana sini, masih terlihat terumbu karang yang rusak bekas terkena bom, ulah nelayan yang mencari ikan. Namun usaha transplantasi karang yang giat dilakukan oleh petugas jagawana sudah mulai terlihat juga hasilnya. Ada banyak ikan karang yang berwarna-warni, berenang ceria diantara terumbu yang mulai tumbuh. Ada juga bintang laut, kima (siput laut), dan beberapa mahluk laut lain yang aku tidak tau namanya.

Dan oleh sebab peralatan snorkeling yang tidak bagus itu, aku tidak bisa lama-lama menikmati keindahan bawah laut itu. Aku segera kembali ke sisi pantai dan menikmati secangkir teh panas untuk menghangatkan tubuh.

Cukup lama kami menghabiskan waktu di pantai, tepat di depan cafe Pulau Tinabo. Kami yang aku maksud disini bukan hanya aku dan lelakiku. Tapi bersama 4 orang lain yang juga peserta TIE. Namanya Liandi, Al, Dedi, dan Yudi. Mereka berasal dari Jakarta, tetapi kami baru berkenalan di Pulau Tinabo.

Kami mengobrol cukup lama. Tentang apa saja. Diselingi candaan yang berhasil mebuat kami tertawa lepas. Sayangnya, meski aku tertawa bersama mereka, aku masih belum bisa melupakan apa yang baru saja terjadi antara aku dan lelakiku. Moodku belum membaik untuk kembali mesra dengannya.

Tak terasa, tibalah saatnya makan siang. Mereka yang pergi diving dan snorkeling dengan perahu ke beberapa pulau pun telah kembali. Kami semua kemudian menghambur ke meja prasmanan untuk mengambil makan siang kami.

Usai makan siang, Liandi mengajak kami mengelilingi Pulau Tinabo yang luasnya hanya sekitar 25 hektar. Kami bertiga memulainya dari ujung utara ke ujung selatan di sisi barat, lalu kembali lagi ke titik start kami di utara melalui sisi timur Pulau Tinabo.

Dalam perjalanan, kami beberapa kali berhenti di tempat-tempat dengan pemandangannya yang indah. Apa lagi kalau bukan untuk memotret. Di waktu-waktu inilah Liandi sangat membantu kami. Ia berkali-kali meminta kami berpose untuk menjadi objek foto dengan kameranya. Memintaku berjalan bergandengan, duduk bersama, sampai berpelukan.

“Damn! Envy gue liat kalian berdua,” ujarnya berulang kali setiap kali kami menurutinya untuk berpose.

Pulau Tinabo

Aku senang melihat expressi wajah Liandi setiap kali ia mengucapkan kalimat itu. Ini membuatku semakin semangat untuk membuatnya iri dan semakin merindu istrinya yang sedang hamil di Jakarta. Dan seiring dengan semangatku itu, tanpa terasa bongkahan es yang membekukan hati perlahan mencair. Hubungan kami pun kembali menghangat.

Tiba-aku teringat kata Mario Teguh, bahwa kemesraan menghilangkan sudut-sudut tajam pada pribadi kita, menghaluskan permukaan yang kasar, dan menyejukkan sudut yang panas.

Eum…, aku rasa sebuah pelukan itu penting ketika hati mulai memanas, atau bahkan ketika bongkahan es sedang membekukan hati. 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.