Acer Aspire E1-432

Masih dalam rangka mengidam-idamkan Acer Aspire E1-432. Bukan untuk sekedar tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya. Tetapi, dengan didukung performa intel® Processor di dalamnya, Slim Acer E1 ini tentunya handal buat kerja, dan asyik untuk bermain bersama keluarga.

Acer Aspire E1-432

Nggak percaya? Coba deh baca sendiri product reviewnya di blog resmi Acer Indonesia. Atau, ijinkan saya mengutip spesifikasi Acer Aspire E1-432. Yuk simak.

Keunggulan utama dari Aspire E1-432 ini adalah penggunaan prosesor Intel 4th Gen terbaru, atau lebih dikenal dengan kode nama Haswell. Acer mempersenjatai notebook ini dengan prosesor intel® Dual Core Celeron® Processor 2955U yang memiliki dua buah inti (dual core) dan berjalan pada kecepatan1.40 GHz.

Apa yang membuat prosesor ini menjadi suatu keunggulan dari Aspire E1-432? Pertama, Prosesor ini sudah menggunakan arsitektur Haswell (22nm) yang dapat bekerja sangat efisien dengan TDP hanya 15 watt saja. Dikombinasikan dengan baterai 4-cell (2500mAh) yang digunakan, daya tahan notebook ini dipastikan akan menjadi jauh lebih maksimal. Kedua, prosesor intel Celeron 2955U ini sudah terintegrasi dengan intel HD graphics terbaru dengan peningkatan kinerja yang signifikan dibanding dengan intel HD graphics sebelumnya. Tentunya hal tersebut merupakan kabar baik bagi spAcer yang senang bermain game.

Aspire E1-432 menggunakan RAM DDR3 sebesar 2GB yang dapat di-upgrade hingga 8GB untuk keperluan multitasking yang lebih baik. Media penyimpanan harddisk SATA berukuran 500GB sudah lebih dari cukup untuk spacer menyimpan berbagai file, multimedia, maupun game di dalam notebook ini.

Nah tuh, siapa yang nggak ngiler coba? Prosesornya bikin kerja notebook nggak lemot, wattnya kecil, baterainya awet, graphicnya oke, RAM serta harddisknya gede lagi. Ditambah lagi dengan ukurannya yang paling tipis dikelasnya, dan harga yang masih di bawah lima jutaan. Eiittss, jadi inget sekitar beberapa bulan lalu, ada teman yang mendadak pusing karena anaknya yang sekolah di multimedia tiba-tiba minta dibelikan laptop dengan spesifikasi tinggi karena harus meng-install beberapa software berat untuk keperluan belajar di sekolah. Ya, gimana nggak pusing coba, harga laptopnya aja diatas 10 jutaan. Heuheu.., seandainya waktu itu aku sudah kenal ini si tipis Acer, saya bisa rekomendasikan deh.

Notebook dalam pekerjaan saya

Saya pribadi, dalam menggunakan notebook, sebenarnya tidak menggunakan software-software berat. Karena pekerjaan saya hanya membutuhkan software Microsoft Office untuk kebutuhan penyajian laporan-laporan keuangan yang harus saya buat secara manual. Tetapi, dalam proses pembuatan laporan, kadang saya dibuat kesal dengan notebook kantor yang lemot.

Penyebabnya, karena banyaknya windows yang saya buka,seperti file-file laporan selama beberapa bulan yang harus saya buka sekaligus sebagai referensi data. Secara berkala, software Microsoft office ini akan melakukan auto saving untuk file-file yang saya buka tersebut. Spesifikasi notebook yang kurang mendukung, membuat proses auto saving ini memakan waktu yang lama. Sehingga pada saat proses auto saving ini berjalan, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu. Bayangkan saja, jika ada 12 file laporan bulanan dalam satu tahun yang saya buka, dan untuk auto saving satu file membutuhkan waktu 2 menit. Jadi, saya harus menunggu 10 menit hanya untuk proses auto saving. Haduuh…, kesabaran diuji ditengah deadline.

Mungkin ceritanya akan berbeda jika saya bekerja menggunakan Acer Aspire E1-432 dengan RAM 2GB. Multitasking? Nggak masalah! Kalau 2GB masih kurang memuaskan, bisa di upgrade sampai 8GB lagi. W-O-W banget, kan? Ahihihi.. 😀 saya jadi kepikiran untuk mengajukan proposal peremajaan inventaris kantor.

Penggunaan notebook di rumah

Rumah bagi saya adalah tempat paling nyaman sedunia. Dimana saya bisa berkumpul bersama keluarga. Tempat dimana ada anak-anak yang selalu ngangenin dan membuat saya dengan senang hati memilih say no to kerja lembur.

Saya bisa dibilang paling jarang menggunakan notebook di rumah. Tentu saja karena notebook selalu disabotase oleh anak-anak. Tetapi saya tidak merasa keberatan. Saya bisa tetap enjoy menemani anak-anak main game favoritenya. Angry bird, game puzzle, game mewarnai, dan game-game ringan lainnya untuk anak-anak. Anak-anak juga suka nonton youtube. Video yang paling anak-anak sukai adalah video serial kartun favorite seperti Thomas and friends, serta video edukatif seperti Tu Ti Tu. Saat nonton youtube, tantu saya sebagai ibunya harus tetap mendampingi. Takutnya, anak-anak salah klik dan secara nggak sengaja nonton video yang nggak bener. Haduuh…, bisa bahaya, kan?

Sesekali, jika sedang ingin, saya online dari rumah menggunakan notebook. Berjejaring sosial seperti facebook, twitter, serta ngeblog. Dan, tentu saja saya tetap ditemani anak-anak yang selalu ingin tahu tentang apa yang saya kerjakan. Jika sudah begini, biasanya akan lahir banyak pertanyaan dari anak-anak. Misal, saat berselancar di facebook dan melihat foto-foto yang dishare oleh teman-teman backpacker. Anak-anak akan bertanya; Bu, itu dimana? Kapan kita kesana? Disana pakai bahasa Indonesia apa Inggris? Heuheu.., virus traveling sudah menyebar dalam tubuh anak-anak. 😆

Eh, tapi…, notebook nggak cuma kami gunakan untuk main game dan online loh. Bersama anak-anak, biasanya saat mempersiapkan mental anak-anak sebelum pergi backpacking, saya akan membuka peta melalui google maps. Kota atau Negara mana yang akan kita tuju, seberapa jauh, mengapa harus dengan pesawat untuk pergi kesana, dan berbagai pengetahuan lain yang bisa saya sampaikan kepada anak-anak.

Semua aktifitas dengan notebook di rumah bersama anak-anak, masih menggunakan notebook yang saya belikan khusus untuk anak-anak. Notebook ini baterainya sudah sekarat. Jadi, ya susah mobile. Lah wong harus terus nyolok ke listrik saat dipakai. Hiks… 🙁 Acer Aspire E1-432, come to mama NOE, please…

Seandainya di rumah ada Acer Aspire E1-432, bisa dipastikan, bermain bersama anak-anak dengan notebook akan lebih asyik. Apalagi spesifikasinya yang oke punya. Mungkin saya bisa bernostalgia lagi seperti jaman kuliah. Betah berjam-jam main The Sim City. Dan satu hal yang harus dicatat, kalau mau main, harus nunggu anak-anak tidur. 😉

Leave a Reply