Kuliner

7 Kuliner Tangerang di Bianco Restaurant Atria Residences

“Aku udah dua kali nginep di Atria. Makanannya enak-enak.”

Itu komen Mba Lidya, ketika aku cerita bahwa aku diajak mba Katerina untuk menginap di Atria Hotel Gading Serpong, seminggu yang lalu. Sejujurnya aku jadi penasaran. Apalagi ketika membaca undangan dan rundown acara yang dikirim via email. Di sana tertulis salah satu agendanya adalah presentasi tentang “Tangerang Culinary Recommended by Pak Bondan Winarno”.

Kuliner Tangerang? Ada gitu?

Ternyata ada banyak jenis makanan istinewa yang bisa di coba di sekitaran Tangerang. Beberapa di antaranya bahkan masih asing di telingaku. Sebut saja bubur benteng, ikan ceng cuan, atau gurame pucung. Ada lagi nasi ulam, laksa, asinan, lontong sayur, bahkan juga nasi padang. Semua menu itu adalah kuliner populer di sekitaran Tangerang yang direkomendasikan oleh Pak Bondan. Kenal dong yah sama public figur yang demen kulineran dan mempopulerkan kata ‘maknyus’ itu.

Atas dasar kepedulian dan melestarikan masakan asli Indonesia, Atria berinisiatif menghadirkan menu-menu tersebut ke dalam restaurant a la hotel berbintang, dengan tanpa mengubah rasa aslinya.

Penasaran? Apa saja kuliner Tangerang yang maknyus itu? Simak yuk! 7 kuliner khas Tangerang yang ada di Atria Hotel Gading Serpong.

1. Maknyus Platter

Maknyus Platter ini basicnya adalah nasi padang. Ada dua pilihan Maknyus Platter yang bisa dicoba, yaitu Maknyus Platter 1 & Maknyus Platter 2. Masing-masing dibandrol dengan harga Rp125.000

Maknyus Platter 1 terdiri dari Nasi merah, Daging Kalio, Sayur Ubi Tumbuk, Gurame Pesmol, dan Perkedel Jagung. Sedangkan Maknyus Platter 2 terdiri dari Gurame Pucung, Ayam Lado Mudo, Gulai Cubadak, dan Perkedel Jagung.

2. Nasi Ulam

Nasi Ulam adalah makanan khas Betawi dengan ciri khas nasi dan serundeng kelapa. Satu porsi Nasi Ulam di Bianco Restaurant terdiri dari semur kentang, irisan telur dadar, nasi merah, tambahan dendeng, dan sambal serta lalapan sebagai pelengkap berupa irisan timun dan daun kemangi.

3. Ceng Cuan Ikan Samge

Ceng Cuan Ikan Samge adalah makanan yang terlahir dari adanya percampuran budaya Tionghoa yang ada di Benteng (Tangerang) dengan budaya lokal. Chef Gatot menjelaskan bahwa menu ikan cheng cuan ikan samge ini diklaim hanya bisa ditemui di Atria Hotel. Tidak ada di restoran lain mana pun. 

4. Bubur Benteng

Entah apa rahasianya sehingga bubur benteng ini enak banget bahkan jika dimakan tanpa topping dan tambahan kecap ataupun sambal. Mamas & Kakak sampai minta nambah saat makan siang dengan bubur benteng di Bianco Restaurant pada Minggu 6 Maret lalu.

5. Laksa Benteng

Ini laksa paling juara. Dari semua menu yang ada di Bianco Restaurant Atria Residences, laksa adalah yang paling paling berkesan saat menyentuh lidah. Sesuai lah dengan harganya yang Rp49.000 per porsi.

6. Ketupat Sayur

Sama dengan laksa, ketupat sayur pun fibandrol dengan harga Rp49.000 per porsi. Isinya adalah ketupat dengan kuah sayur santan kental, dan lauk tempe, telur dan ayam.

7. Asinan

Asinan juga menjadi salah satu kuliner yang direkomendasikan oleh Pak Bondan karena di Tangerang ada pedagang asinan yang enak.

Bir oletok
Bir pletok (credit photo: travelerien.com)

Satu lagi jenis kuliner yang juga hadir di Bianco Restaurant adalah bir pletok. Chef Gatot sempat bercerita tentang sejarah lahirnya bir pletok yang merupakan minuman khas Betawi tersebut. Ceritanya kurang lebih sama seperti yang pernah kutulis setelah jalan dan jajan di sekitaran Jakarta beberapa waktu lalu.

Bir pletok ditemukan oleh masyarakat Betawi pada masa penjajahan dulu. Yaitu karena adanya budaya minum bir di kalangan penjajah, dan keinginan penduduk lokal untuk mengikutinya. Hanya saja karena kekentalan norma agama pada masyarakat betawi dan mengharamkan bir beralkohol, maka diciptakanlah minuman yang secara warna sama, yaitu merah kecoklatan.

Bir pletok dibuat dengan rempah-rempah yang dapat menghangatkan tubuh seperti jahe, kayu secang, dan rempah lainnya. Dinamakan bir pletok karena pada jaman dahulu pembuatannya menggunakan tungku dengan kayu bambu sehingga saat proses memasaknya mengeluarkan bunyi “pletok pletok”.

Adegan Salah Sangka Laksa

Dari ketujuh menu di atas, hanya beberapa yang sempat kucicipi. Pertama adalah laksa. Saat menyantapnya, berkali-kali aku mengucapkan kalimat ini ke suami;

“Bi, ini lontong sayur paling enak yang pernah kumakan!”

Ojrahar yang duduk di sampingku sambil makan bubur cuma jawab iya iya aja. Lalu setelah laksa yang kukira adalah lontong itu habis. Aku kembali lagi ke meja buffet. Di sana aku mencari-cari di mana laksa? Karena bingung dan ngga kunjung menemukan yang kucari, aku bertanya lah sama Mba Eliza yang kebetulan lagi ambil salah satu makanan.

Saat kutanya, “Mba, di mana laksa ya?”, Mba Eliza menunjuk bagian ujung meja di mana tadi aku mengambil semangkuk lontong sayur. Setelah itu aku baru ngeh kalau lontong yang kupuji-puji enak banget ternyata adalah laksa. Haha. Well, secara kasat mata emang hampir ngga ada bedanya sih.

laksa benteng Tangerang

Akhirnya, untuk menutupi rasa malu pada diri sendiri, aku mengambil menu lain. Maknyus Plater pun jadi sasaranku. Tapi aku tidak mengambil satu menu lengkap. Hanya nasi, gurame pucung, sambal ijo dari ayam lado mudo, dan perkedel jagung.

Daging guramenya enak. Empuk dan ngga bau lumpur. Sambal ijonya juara. Apa lagi perkedelnya, empuk, gurihnya pas dan masih ada rasa manis jagungnya.

Bagiku, semua rasa masakan di Bianco Restaurant itu mengingatkanku pada masakan emak yang enak banget. Ada cinta dalam setiap masakan. Aduh, jadi pingin mudik. Hohoo

Rahasia Enaknya Menu Kuliner di Atria

Ngomong-ngomong, apa sih rahasianya sehingga ketujuh jenis kuliner yang disajikan di Bianco Restaurant itu jadi enak banget?

Ada satu cerita dari Chef Gatot yang menurutku itu epic banget! Adalah cerita ketika Chef Gatot bersama tim dan juga Pak Bondan, blusukan ke pasa baru untuk mencari dan mencicipi langsung bagaimana enaknya menu kuliner di Tangerang. Dengan begitu, Chef Gatot tau bagaimana rasa aslinya, dan mencoba membuat hidangan yang sama dengan cita rasa aslinya.

chef gatot


“Saya hanya berusaha menjaga kelestarian dan keaslian kuliner Nusantara, agar kelak anak cucu kita masih bisa mencicipi dan meneruskannya lagi,” begitu ujar Chef Gatot ketika menutup presentasinya tentang 7 kuliner Tangerang yang ada di Bianco Restaurant.

Namun sebenarnya, menu-menu tersebut tidak hanya bisa dinikmati oleh pengunjung di Bianco Restaurant Atria Residences, tetapi juga di The Lounge dan Mezzanine Restaurant di Atria Hotel Gading Serpong. Bahkan juga bisa dijumpai di semua lini seperti di room service. Waw! Berarti semua pegawai di Atria Hotel Gading Serpong maupun Atria Residences bisa makan makanan istimewa itu dong ya. Keren!

18 thoughts on “7 Kuliner Tangerang di Bianco Restaurant Atria Residences

  1. Keliatannya enak-enak ya, mbak….

    aku orang Tangerang tapi belom pernah mampir ke Bianco Restauran Atria Residences malahhh
    hiihihi 😀

  2. Sebagai new comer di Tangerang, baru tau makanan-makanan khasnya dan semuanya belum pernah nyobain. Pernah nyobain laksa tapi laksa betawi. Dan sepertinya makanan-makanannya enak, huhu jadi kepengen.

  3. Hahahaha… kok bisa laksa jadi seperti lontong.
    Baru sekali berpetualang di Tangerang, sepertinya harus di coba untuk kedua kalinya sekaligus coba kulinernya juga.

  4. Wah, aku masih asing mbak am cuan cuan ikan samge…. apalagi ada pencampuran dari budaya asing,,, hmmm,,,, Eow,,, di Tangerang juga ada asinan yang khas tow? tak kira cuman khas dari Bogor ew,,,, 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.