Singapore, Traveling

Memunguti Kenangan di Singapura

“Ibu, kenapa kita cuma di luar?” tanya MasKa yang tak mengerti, bahwa ibunya hanya bisa sebatas mengabulkan keinginan mereka naik pesawat, tetapi tidak untuk tiket wisata. Terlebih, tiket wisata yang mata uangnya bukan rupiah. *** Singapura. Negara pertama yang memberi stempel pada pasporku. Pada Mei 2013, aku mengajak Mamas & Kakak untuk pertama kalinya traveling… Read More Memunguti Kenangan di Singapura

Singapore

Ketika Aku Harus Pergi Sendiri (ke Singapura)

Salah satu kelemahanku saat ingin menulis catatan perjalanan adalah kurangnya data. Sebab saat melakukan perjalanan, aku kurang rajin mencatat. Satu kisah yang amat ingin kutulis ulang agar layak dibaca adalah cerita asam manisnya trip ke Singapura. Baik itu perjalanan pertama saat masih menjadi single fighter bersama dua anak, maupun pada perjalanan kali kedua bersama orang-orang… Read More Ketika Aku Harus Pergi Sendiri (ke Singapura)

Singapore

5 Taman Populer di Singapura

Selalu ada alasan untuk kembali. Kalimat itu sering diucapkan oleh traveler. Biasanya sebagai alibi kalau harus balik lagi ke destinasi yang sudah pernah dikunjungi. Eh, atau cuma aku ya? Hehe. Ya, sebagai orang yang suka traveling pasti kepingin menambah pengalaman baru, mengunjungi destinasi baru, daerah baru, negara baru dan baru-baru yang lainnya. Tapi mengunjungi tempat… Read More 5 Taman Populer di Singapura

Singapore, Traveling

Singapura dan Kenangan

Abyan mulai memunguti kenangannya sejak iringan langkah kaki kami memasuki gedung bandara Changi yang megah. Berkali-kali aku tersenyum menanggapi celotehnya. Tentang Tante Pungky, seorang sahabat blogger yang beberapa bulan lalu mengajaknya keliling Singapura serta ke Legoland di Johor Baru. Tentang jalan-jalan mana yang ia lewati, tentang kenangan. Sambil kugandeng tangan kecil Abyan, kami berjalan mengikuti… Read More Singapura dan Kenangan

Singapore, Traveling

Menderita di Singapura

Benteng pertahanan ketegaranku nyaris hancur. Aku melemah. Menyerah dan kembali menyadari bahwa sekuat apapun, pasti ada sisi rapuh yang membuat perempuan butuh pelindung. Di stasiun MRT Woodland, ingin sekali aku menangis di pundak lelaki kurusku. Tetapi air mata tetap kutahan agar tak jatuh. Hanya saja, wajahku sudah tak bisa berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Melihat… Read More Menderita di Singapura